Suriah Sebut Kesepakatan Damai dengan Israel Masih Prematur
·waktu baca 2 menit

Suriah menyatakan pernyataan tentang penandatanganan perjanjian damai dengan Israel prematur. Hal ini disampaikan Suriah beberapa hari setelah Israel menyatakan tertarik mencapai kesepakatan normalisasi hubungan dengan Damaskus.
"Pernyataan terkait penandatanganan kesepakatan damai dengan pendudukan Israel saat ini dianggap prematur," kata laporan TV pemerintah yang mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, dikutip dari AFP, Kamis (3/7).
"Tidak mungkin untuk berbicara tentang kemungkinan negosiasi atas perjanjian baru, kecuali Israel sepenuhnya mematuhi perjanjian pelepasan 1974 dan menarik diri dari wilayah yang telah diambilnya," lanjut laporan.
Sebelumnya, Menlu Israel Gideon Saar mengatakan negaranya tertarik menambahkan Suriah dan Lebanon dalam lingkaran perdamaian dan normalisasi sambil menjaga kepentingan dan keamanan Israel.
Pernyataan itu muncul di tengah perubahan besar dalam dinamika kekuatan di Timur Tengah, termasuk jatuhnya Bashar al-Assad pada Desember 2024 dan melemahnya kelompok bersenjata Hizbullah di Lebanon setelah berperang dengan Israel.
Otoritas Islamis Suriah yang baru mengkonfirmasi telah menggelar percakapan tidak langsung dengan Israel untuk mengurangi ketegangan.
Sejak Assad digulingkan, Israel telah berkali-kali mengebom target-target di Suriah. Militer Israel juga telah memasuki zona penyangga yang dipatroli PBB di sepanjang garis gencatan senjata di Dataran Tinggi Golan dan melakukan serangan lebih dalam ke selatan Suriah.
Presiden sementara Ahmed al-Sharaa telah berulang kali mengatakan Damaskus tidak mencari konflik dengan tetangganya, dan meminta komunitas internasional untuk mendesak Israel menghentikan serangannya.
Suriah mengatakan tujuan dari negosiasi yang tengah berjalan adalah untuk mengimplementasikan kembali gencatan senjata tahun 1974 antara kedua negara.
Sementara, Israel bersikeras bahwa Dataran Tinggi Golan akan tetap menjadi bagian Israel di bawah perjanjian damai apa pun di masa depan. Israel merebut Dataran Tinggi Golan pada 1967 dan kemudian dianeksasi dalam sebuah langkah yang tidak diakui PBB.
Kontrol atas dataran tinggi yang strategis itu sejak lama jadi sumber ketegangan antara Israel dan Suriah, yang secara teknis masih berperang.
