Survei: 65,4% Warga Khawatir Varian Omicron dan Gelombang Ketiga COVID-19
·waktu baca 2 menit

Populi Center merilis hasil survei bertajuk “Penanganan COVID-19, Evaluasi Pelayanan Publik, dan Dinamika Politik”. Salah satu yang dibahas yakni hadirnya varian Omicron dan ancaman munculnya gelombang ketiga COVID-19.
Dalam survei tersebut, diketahui 62,8 persen responden telah mengetahui munculnya varian baru COVID-19 Omicron di Indonesia. Sedangkan yang tidak mengetahui mencapai 37,2 persen.
Peneliti Populi Center, Nurul Fatin Afifah, menilai tingginya pengetahuan masyarakat terhadap varian baru ini menunjukkan kewaspadaan yang tinggi pula terhadap Omicron.
“Apa masyarakat tahu muncul Omicron? Di sini, masyarakat 62,8 persen tahu, tidak tahu 37,2 persen. Ini terlihat masyarakat punya waspada tinggi terhadap penyebaran COVID-19 di Indonesia,” Kata Nurul dalam paparannya, Senin (20/12).
Ia juga menyampaikan mayoritas masyarakat khawatir dengan corona varian Omicron dan terjadinya gelombang ketiga COVID-19. Tercatat, 65,4 persen responden menjawab khawatir, sedangkan yang tidak khawatir ada 25,2 persen responden.
“Mayoritas masyarakat atau sebesar 65,4 persen (sangat khawatir 15,7 persen, dan khawatir 49,7 persen) menjawab khawatir terhadap varian baru/gelombang ketiga virus COVID-19, sedangkan yang menjawab tidak khawatir sebesar 25,2 persen (tidak khawatir 22,6 persen, dan sangat tidak khawatir 2,6 persen). Sementara yang menjawab biasa saja sebesar 8,3 persen dan tidak tahu/tidak jawab sebesar 1,2 persen,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat masih optimistis dan yakin pemerintah dapat mencegah terjadinya gelombang ketiga COVID-19. Hal ini terbukti lewat survei tersebut, yang menyebut 76,2 persen responden menyatakan yakin, sedangkan yang tidak yakin sebesar 21,2 persen.
“Mayoritas masyarakat atau sebesar 76,2 persen (sangat yakin 11,7 persen,yakin 64,5 persen) mengaku yakin terhadap antisipasi yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi gelombang ketiga virus COVID-19, sementara yang menjawab tidak yakin sebesar 21,2 persen (tidak yakin 19,4 persen, sangat tidak yakin 1,8 persen),” jelas survei tersebut.
Survei ini berlangsung dari 1-9 Desember 2021 dengan melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia. Wawancara berlangsung dengan menggunakan saluran telepon dan dipilih dengan metode acak sederhana (simple random sampling). Adapun batas kesalahan survei (margin of error) sebesar +- 2,83% pada tingkat kepercayaan 95%.
