Survei Litbang Kompas: 97,2 Persen Warga Jabar Puas atas Kinerja Dedi Mulyadi
ยทwaktu baca 4 menit

Enam bulan menjabat, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi dinilai memiliki kinerja yang memuaskan berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, sehingga mendapat dukungan dari warganya.
Survei dilaksanakan pada 1-5 Juli 2025 dengan metode wawancara tatap muka. Sebanyak 400 responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di Jabar.
Menggunakan metode tersebut, pada tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error 4,9 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.
98,6 Persen Responden Suka
Dedi mendapat simpati hampir seluruh responden (98,6 persen) yang menyatakan suka atau sangat suka.
Selain itu, 98,9 persen responden menilai citra pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM itu baik dan sangat baik.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni 97,2 persen, puas (49,3 persen) dan sangat puas (47,9 persen) pada kinerja Dedi Mulyadi.
"Hasil survei menunjukkan dukungan publik besar bagi gaya turun ke bawah memberi bantuan konkret dan menonjolkan budaya Sunda," kata Litbang Kompas, saat diakses kumparan pada Selasa (19/8/2025).
Menurut survei tersebut, sebanyak 57,3 persen sangat mendukung karakter responsif Dedi dan 39,0 persen sangat mendukung penonjolan budaya Sunda.
"Citra 'pemimpin dekat' dan 'penjaga identitas' dibangun lewat gestur personal dan iket Sunda yang selalu dikenakan Dedi Mulyadi," ujarnya.
Puas Kinerja Pemprov Jabar
Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan sebanyak 77,9 persen responden puas dengan kinerja Pemprov Jabar.
Dari sejumlah program Dedi, muncul beberapa program yang menempel di benak masyarakat, dengan tingkat pengetahuan publik di atas 75 persen.
Menurut survei, kebijakan barak militer pendisiplinan pelajar memperoleh tingkat kepuasan paling tinggi yakni sebesar 95,7 persen.
Sedangkan kebijakan perbaikan rumah tidak layak huni, menurut 97,9 persen responden, merupakan kebijakan paling penting.
Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat popularitas program atau kebijakan Dedi Mulyadi selalu sejalan dengan tingkat kepentingannya di mata masyarakat.
Sentimen Positif di Medsos
Dedi Mulyadi rajin ia mengunggah kegiatannya di media sosial. Menurut survei Litbang Kompas, meski wilayah KDM itu otoritasnya selingkup Jabar, namun gaungnya menyebar secara nasional.
Dedi memiliki 34,6 juta pengikut yang terbagi dari:
Facebook 11 juta pengikut;
TikTok 9,1 juta pengikut;
YouTube 8,1 juta pengikut;
Instagram 5,2 juta pengikut;
X 185 ribu pengikut.
Litbang Kompas menganalisis 199.422 data dari media sosial KDM. Ternyata secara keseluruhan sentimen warganet terhadap KDM didominasi sentimen positif, mencapai 59 persen. Sisanya, 22 persen bermuatan negatif dan 19 persen netral.
Menurut hasil survei, sentimen positif itu secara umum berisi ujaran apresiasi kepada sosok KDM, terutama kerja-kerja pemerintahannya.
"Kerja pemerintahan yang dimaksud adalah sikap tanggap dari Dedi terhadap persoalan yang muncul di masyarakat," kata survei Litbang Kompas.
Contoh dari sikap tanggap itu adalah ketika terjadi konflik horizontal di Desa Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Setelah peristiwa perusakan rumah retret keagamaan, Dedi langsung mendatangi lokasi kejadian dan berdialog dengan warga.
Penampilan publik Dedi pada acara-acara sosial dan kebudayaan bersama berbagai elemen masyarakat Jawa Barat.
"Dedi Mulyadi dikenal sebagai sosok yang membaur dengan masyarakat Jawa Barat, terutama apabila berkaitan dengan acara yang bernuansa Sunda," ujarnya.
Dukungan publik pada aktivitas KDM membuat konten juga tinggi, di atas 90 persen. Akun medsos Dedi akhirnya menjadi rujukan publik (46,7 persen) selain media massa (58,1 persen).
Sebaliknya, akun resmi Pemerintah Provinsi Jabar hanya menjangkau 12 persen responden, dan situs resmi 3,7 persen, menandakan dominasi narasi personal dibandingkan kelembagaan.
"Kontradiksi ini menegaskan hipotesis telah berjalannya dominasi narasi personal Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) melalui kontennya ketimbang informasi kelembagaan," katanya.
Sebelumnya, dalam podcast Info A1 bersama Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad, Dedi mensyukuri banyaknya masyarakat yang berkontribusi aktif di medsosnya.
Dedi menjamin tidak memakai buzzer. "Enggak. Kalau buzzer saya enggak punya. Saya tidak ada pembiayaan APBD untuk buzzer, enggak ada. Enggak ada (dana pribadi juga)," kata Dedi.
Lalu mengapa Dedi Mulyadi dianggap kuat di media sosial?
"Kenapa? Orang enggak usah pakai buzzer kok, orang publiknya organik. Itu lahir karena kecintaan. Kalau sudah lahir karena cinta, ngapain harus transaksi?" ujar Dedi.
