Survei: Mayoritas Masyarakat Tolak Jokowi Jadi Presiden 3 Periode
·waktu baca 2 menit

Lembaga survei Indikator merilis hasil survei nasional soal pemulihan ekonomi pasca COVID-19, pandemi fatigue dan dinamika elektoral jelang Pemilu 2024 pada Minggu (9/1).
Dalam survei ini turut dibahas soal isu perpanjangan masa jabatan presiden menjadi 3 periode. Dalam pertanyaan umum tanpa menyebut nama presiden, mayoritas masyarakat menolak wacana ini.
"Mayoritas kurang atau tidak setuju sama sekali, 56,8%. Dan setuju dan sangat setuju 38,6%" kata Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi.
Begitu juga saat spesifik disebut Presiden Jokowi, mayoritas masyarakat menolak menjabat 3 periode. Total 55,5% responden menolak hal tersebut. Sedangkan yang setuju hanya 40%.
Indikator kemudian menjelaskan soal bagaimana jika masa jabatan Jokowi diperpanjang hingga 2027 agar penanganan COVID-19 berjalan optimal. Hasilnya, masyarakat tetap menolak wacana itu.
"Mayoritas kurang atau tidak setuju sama sekali 56%," ucap Burhanuddin Muhtadi.
Indikator juga memetakan berdasarkan demografi. Terungkap berdasarkan gender, perempuan lebih condong mendukung perpanjangan masa jabatan Jokowi meski mayoritas menolak. Rinciannya, 41,6% setuju dan 52,8% menolak.
Sementara laki-laki tidak setuju perpanjangan masa jabatan Jokowi dengan rincian 58,2% menolak dan 38,4% setuju.
Kemudian berdasarkan lokasi, mayoritas masyarakat perkotaan lebih condong menolak Jokowi menjabat 3 periode yakni sebesar 63,7%. Lalu masyarakat di pedesaan 47,5% menolak Jokowi 3 periode.
Survei ini dilakukan pada 16 sampai 11 Desember 2021 kepada responden warga negara Indonesia yang sudah berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka kepada 1.220 responden yang dipilih secara acak. Margin of error survei ini diperkirakan sekitar 2,9 persen dan tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen.
