Survei Poltracking: Elektabilitas Gerindra 22,9%, PDIP-Golkar Menyusul

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Partai Gerindra Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Partai Gerindra Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mencatat elektabilitas tertinggi dalam survei Lembaga Poltracking Indonesia terkait evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Gerindra memperoleh elektabilitas sebesar 22,9%, disusul PDI Perjuangan (PDIP) sebesar 13,4% dan Partai Golkar sebesar 9,1%.

Setelah tiga partai tersebut, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh elektabilitas 7,1%, disusul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebesar 5,8% dan Partai Demokrat sebesar 5,4%.

Sementara itu, Partai NasDem mencatat elektabilitas 3,9%, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2,9%, dan Partai Amanat Nasional (PAN) 2,2%.

“Dan ini terakhir angka elektabilitas Gerindra nomor tertinggi kemudian disusul oleh PDIP Perjuangan kemudian Golkar, PKB kemudian PKS, Partai Demokrat, NasDem,” kata Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, saat memaparkan hasil tersebut dalam rilis survei bertajuk Evaluasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Senin (19/10).

Hanta menjelaskan, berdasarkan hasil survei tersebut, Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, PKS, dan Partai Demokrat berada di atas ambang batas parlemen sebesar 4%. Sementara itu, elektabilitas NasDem berada sedikit di bawah angka tersebut.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hasil survei belum dapat menggambarkan secara pasti perolehan suara partai politik pada Pemilu Legislatif mendatang. Sebab, masih terdapat proporsi responden yang belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban dalam survei.

“Jangan lupa survei ini ada yang tidak tahu tidak jawab 24,2%, seperti seperempat dari responden masih merahasiakan atau tidak menjawab,” ujar Hanta.

Menurut Hanta, tingginya proporsi responden yang belum menjawab membuat angka elektabilitas partai dalam survei masih berpotensi berubah. Ia juga menekankan bahwa pelaksanaan pemilu legislatif masih sekitar tiga tahun lagi sehingga dinamika politik dapat memengaruhi pilihan masyarakat.

“Pemilu juga masih sangat lama, masih tiga tahun, jadi potret hari ini hanya gambaran cuaca per hari ini, tetapi tiga tahun sangat dinamis, masih sangat berubah,” tuturnya.

Hanta turut menyoroti peluang PSI dan PAN untuk meningkatkan elektabilitasnya. Keduanya masing-masing memperoleh angka 2,9% dan 2,2% dalam survei tersebut.

Ia menilai partai-partai dengan elektabilitas yang mendekati ambang batas parlemen masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan dukungan, meskipun hasil survei saat ini tidak dapat dijadikan patokan hasil pemilu mendatang.

Metode Survei Poltracking

Peneliti Senior Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, menjelaskan survei nasional tersebut dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 30 September hingga 7 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.220 responden.

Survei menggunakan metode stratified multistage random sampling atau pengambilan sampel acak bertingkat. Populasi survei mencakup warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.

“Survei tatap muka ini dilakukan pada 30 September sampai dengan 7 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.220 responden yang terpilih secara acak,” kata Masduri.

Dalam proses pengambilan sampel, Poltracking mengalokasikan sampel secara proporsional berdasarkan provinsi. Selanjutnya, desa atau kelurahan dipilih secara acak, kemudian dilakukan pengacakan pada tingkat rukun tetangga (RT), kepala keluarga (KK), hingga responden yang diwawancarai secara langsung di rumah masing-masing.

Pada setiap desa atau kelurahan terpilih, ditentukan lima RT secara acak dan masing-masing RT dipilih dua KK secara acak. Responden kemudian ditentukan melalui proses pengacakan sesuai prosedur survei.

Poltracking menetapkan margin of error sebesar kurang lebih 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Untuk menjaga kualitas data, Poltracking melakukan pemeriksaan ulang melalui kunjungan lapangan terhadap 20% sampel. Selain itu, seluruh data responden yang masuk atau 100% dikonfirmasi kembali melalui telepon.

Proses pengawasan juga mencakup pemantauan surveyor melalui foto dan geolokasi, pencatatan data secara waktu nyata (real-time), serta pencocokan hasil input digital dengan kuesioner fisik.

Masduri menambahkan, data demografi hasil survei turut dibandingkan dengan data Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) 2020 untuk memeriksa kesesuaian karakteristik sampel dengan populasi.

Survei tersebut tidak hanya mengukur elektabilitas partai politik, tetapi juga mencakup kepuasan dan kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran, evaluasi terhadap program prioritas pemerintah, kinerja kabinet Merah Putih, serta ekspektasi masyarakat terhadap pemerintah.