Susi Setuju Pulau Lumpur Sidoarjo Diberi Nama Lusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) akan mengembangkan potensi pariwisata di salah satu pulau yang berada di pesisir timur Sidoarjo.
Pulau ini cukup istimewa karena terbentuk akibat luapan lumpur Sidoarjo yang dibuang ke Sungai Porong dan bermuara ke Laut Utara Jawa. Pulau ini akan disulap menjadi wisata mangrove oleh KKP.
Dirjen PRL Brahmantya Satyamurti Poerwadi mengungkapkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bahkan telah memberi nama pulau tersebut dengan sebutan Pulau Lusi. Lantas apa artinya?
"Lusi itu Lumpur Sidoarjo," ungkap Brahmantya kepada kumparan (kumparan.com) Selasa (11/7).
KKP saat ini tengah mengurus perizinan terkait tanah dari Badan Pertahanan Nasional (BPN), berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).
Pulau reklamasi hasil timbunan lumpur pengerukan muara Sungai Porong ini memiliki luas total 94 hektare. Di dalam lahan reklamasi tersebut juga dibangun Tambak Wanamina seluas 4,90 hektare yang tujuan awalnya adalah untuk memantau perilaku biota ikan, apakah ada pengaruh lumpur terhadap kehidupan ikan di muara.
Berdasarkan hasil pengamatan selama 3 (tiga) tahun berjalan, ikan tetap dapat hidup dengan baik. Sedangkan sisa lahan seluas 89,10 hektare belum dimanfaatkan secara optimal.

Proses serah terima aset dari BPLS kepada KKP telah dirintis sejak tahun 2015, namun proses tersebut memakan waktu yang cukup lama dikarenakan beberapa kendala proses administrasi terkait penilaian aset pulau serta pengurusan kepemilikan atas tanah pulau sehingga baru terealisasi secara resmi pada Januari 2017.
Selama kurun waktu proses serah terima aset tersebut, KKP pada tahun 2015 telah melakukan beberapa sentuhan pembangunan di atas pulau dalam rangka pengembangan PRPM di pulau antara lain: pedestrian track, tracking mangrove, gazebo, menara pandang, kantor pengelola, rumah genset, WC dan instalasi pengolahan air.
Menurut Brahmantya, keberhasilan pemanfaatan Tambak Wanamina akan menjadi salah satu potensi atraksi wisata yang akan dikembangkan KKP dalam konsep PRPM pulau tersebut ke depan.
Minawisata di pulau itu dapat dikembangkan dengan memanfaatkan kondisi pasang surut bagi optimalisasi kolam untuk kegiatan pemancingan dan ke depan pola silvofisheries dapat menjadi pilihan sebagai salah satu daya tarik ekowisata pulau tersebut.
Pulau tersebut saat ini belum memiliki sarana sanitasi dan kebersihan yang memadai, demikian pula dengan keberadaan kios penjual makanan/minuman masih belum tersedia, namun untuk pengembangan ke depan sebagai destinasi ekowisata, akan disediakan sarana dan prasarana sanitasi/kebersihan, kios makanan/minuman, dan air bersih.
