Suswaningsih Peraih Kalpataru, Penyulap Lahan Tandus di Gunungkidul
ยทwaktu baca 5 menit

Bukit karst menjadi pemandangan lazim ketika memasuki wilayah Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Bebatuan yang tandus itu dahulu tidak bisa digunakan para petani untuk bercocok tanam.
Namun, di tangan Suswaningsih (55), seorang penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rongkop, bukit berbatu itu bisa dimaksimalkan menjadi lahan pertanian tanpa merusak alam.
Ketekunan Suswaningsih selama puluhan tahun pun diapresiasi oleh pemerintah dengan penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk kategori Pengabdi Lingkungan pada tahun 2021 silam.
"Saya asli (orang) Gunungkidul, dari (Kapanewon) Rongkop, Kalurahan Karangwuni," kata Suswaningsih membuka perbincangan dengan kumparan di kantornya, Selasa (20/8).
Suswaningsih kini menjabat sebagai Kepala BPP Rongkop. Kariernya dimulai sebagai pegawai honorer pada tahun 1990 silam. Delapan tahun setelahnya, dia baru diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
"Dulu awalnya saya di peternakan, pengangkatan (PNS) sebagai penyuluh peternakan. Terus, sampai 1998 diangkat CPNS, kemudian pindah ke pertanian, jadi penyuluh pertanian," bebernya.
Sejak menjadi pegawai honorer hingga sekarang, Suswaningsih rutin mendampingi para petani di Rongkop. Namun, cerita tentang langkahnya mengubah lahan kritis menjadi produktif dimulai pada tahun 2012 silam.
"Saya kan penyuluh pertanian, tugasnya mendampingi petani di lahan pertanian yang sudah bisa ditanami," katanya.
"Ternyata, selain lahan produktif yang ditanami, ada bukit-bukit yang ternyata masih bisa ditanami. Lalu, saya mengajak warga masyarakat," bebernya.
Sebelumnya, para petani di Rongkop hanya bercocok tanam di tanah yang berada di bawah bukit saja. Bukit yang menjulang dibiarkan begitu saja.
"Ada lahan pertanian di (Kalurahan Melikan) dengan tampungan air yang disebut telaga. Itu sudah mati, tidak ada airnya, dan tidak diolah oleh petani sama sekali. Lahan perbukitannya juga tidak bisa ditanami," jelasnya.
"Terus, saya mengajak warga masyarakat (untuk mengolah)," ucapnya.
Mengabdi Hingga di Luar Jam Kerja
Suswaningsih pun mengajak Kumparan mengelilingi lahan-lahan pertanian di wilayahnya. Menaiki motor Honda Supra kesayangan, Suswaningsih tampak cekatan melewati jalan-jalan curam di sana.
Motor ini menemani hari-hari Suswaningsih berkeliling memberi penyuluhan kepada para petani.
Mengajak petani untuk mengolah lahan tak produktif tidaklah mudah. Butuh waktu dan beberapa kali pertemuan untuk meyakinkan mereka. Sering kali, Suswaningsih harus bekerja di luar jam kerja karena para petani baru bisa ditemui di malam hari.
"Saya mengajak warga itu dari malam, di sela-sela malam," bebernya.
Setelah berhasil meyakinkan para petani, Suswaningsih kemudian menanami lahan kritis seluas 5 hektare dengan jagung. Ternyata hasilnya memuaskan, dan dari situlah para petani mulai tertarik dengan metode yang dilakukan oleh Suswaningsih.
"Hasilnya bagus. Dulu Bappeda juga membantu dengan memberikan tanaman buah-buahan dan tanaman keras di lingkungan itu. Luasan 5 hektare yang pertama," bebernya.
Lahan berbatu itu sebagian adalah milik warga dan sebagian lagi adalah tanah kas desa. Suswaningsih menyebut tanah tandus tersebut sebagai 'batu yang bertanah', yakni batu dengan tanah yang sedikit.
Lalu, bagaimana metode pemanfaatan lahan berbatu ini?
"Apabila di atas-atas batu itu ada tanah dan bisa ditanami, di bawahnya dibuat terasering dengan menata batunya. Tanahnya dijadikan satu untuk ditanami," katanya.
Tanah-tanah yang terbatas di antara bebatuan itu ternyata bisa ditanami aneka tanaman seperti jagung, kacang tanah, bahkan padi. "Meskipun di situ ada pohon besar (seperti jati) yang menaungi, tapi di bawahnya masih bisa ditanami," bebernya.
Diakui bahwa metode ini cukup sulit untuk langsung diterapkan kepada petani. Langkah yang perlu dilakukan, kata Suswaningsih, adalah memberi contoh.
"Kalau dibuat seperti ini hasilnya seperti ini. Jadi masyarakat tahu manfaatnya, tidak hanya kita sekadar memberi contoh. Apabila lahan ini bisa ditanami, hasilnya panjenengan (petani) yang merasakan, bukan kami," bebernya.
Membuat terasering di perbukitan berbatu jelas tidak mudah. Butuh waktu yang lama. Setelah penataan, baru lahan diberi pupuk organik yang juga dihasilkan dari masyarakat sendiri.
"Juga melatih pembuatan pupuk organik. Setelah lahan sudah jadi, kami memberi motivasi bahwa lahan ini bisa ditanami. Apa saja yang bisa ditanami? Ada jagung, ada padi, ada ubi kayu," ucapnya.
Sistem Tumpangsari
Sistem tanam di lahan berbatu ini adalah tumpangsari, yakni lebih dari satu jenis tanaman ditanam di satu areal pertanian.
"Karena musim hujannya kan satu kali, jadi sekali hujan itu, apa yang bisa ditanam di lahan itu ditanam semua. Jadi satu petak itu ada padinya, ada larikan jagungnya, di sela-sela itu ada ubi kayunya," bebernya.
Di bulan Agustus ini, lahan-lahan banyak berisi ubi kayu karena tanaman itu merupakan tanaman terakhir yang dipanen.
"Dulu kan yang dipanen pertama adalah padi, kemudian jagung. Terus, pada musim hujan kedua (MH2), yang dipanen terakhir adalah ubi kayu. Agustus-September mulai panen (ubi kayu)," bebernya.
Nanti, di bulan Oktober, petani akan memulai lagi masa tanam. "Setelah panen ubi kayu, lahan diolah, menunggu hujan. Setelah hujan turun, semua tanaman ditanam," jelasnya.
Rinciannya, pada MH1 petani akan menanam padi, jagung, dan ubi kayu. Pada sekitar bulan Februari, padi dan jagung dipanen. Lalu, pada MH2 (Maret-Juni), petani akan menanam kacang tanah. Kacang tanah dipanen sebelum petani memanen ubi kayu.
Luasan Lahan
Jika awalnya luasan lahan kritis yang diolah hanya 5 hektare, kini sudah ada pengembangan di satu kalurahan saja mencapai 200 hektare di Melikan. Sementara, untuk satu kapanewon, ada sekitar 900 hektare.
"Di sini ada 8 kalurahan. Sekarang, sudah ada banyak petani yang di lereng-lereng perbukitan sudah menanami jagung, dan sebagainya. Semakin bertambah karena kesadaran petani," jelasnya.
"Saya juga membina kelompok wanita tani (KWT) yang berkembang untuk memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayuran," ujarnya.
Manfaat Bagi Petani
Ketua Kelompok Tani Dusun Songwaluh, Tukiran (56), mengatakan bahwa ia menjadi saksi perjuangan Suswaningsih.
"Susah payahnya (Suswaningsih), kami sudah mengikuti selama 20 tahun. Saya puas dengan Bu Sus sebagai pendamping kami," kata Tukiran.
Tukiran menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan lahan kritis ini, ekonomi petani meningkat. Mereka memiliki lahan yang lebih luas untuk bercocok tanam.
"Dulu tanaman di sini adalah rumput liar, sekarang sudah tidak ada. Sekarang bisa dimanfaatkan, kalau musim penghujan biasanya ditanami kacang tanah dan jagung. Bisa dimanfaatkan begitu, dan menambah penghasilan," ujarnya.
