Swiss Tambah Titik Lokasi "Pembuangan Bayi"

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi bayi di inkubator (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi di inkubator (Foto: Thinkstock)

Pemerintah Swiss bulan ini menambah titik lokasi fasilitas "pembuangan bayi" yang tidak diinginkan. Walau kontroversial, namun sudah ada delapan titik di negara itu yang menjadi tempat para ibu meninggalkan jabang bayi yang baru mereka lahirkan.

Diberitakan Telegraph, awal bulan ini pemerintah Swiss menambah fasilitas pembuangan bayi atau yang dikenal dengan istilah baby hatch di rumah sakit kota Sion. Sebelumnya telah ada fasilitas serupa di kota Bern, Davos, Olten, Basel, Einsiedeln dan Bellinzona.

Fasilitas baby hatch di Swiss adalah tempat bagi para ibu yang tidak menginginkan bayi mereka dengan berbagai alasan, seperti kemiskinan atau hubungan terlarang. Ada lubang kecil berpintu di dinding untuk meletakkan bayi tersebut.

Setelah bayi diletakkan, berat bobot bayi pada ranjang akan menyalakan pemanas. Setelah tiga menit -- waktu yang cukup bagi ibu bayi untuk kabur-- alarm menyala, memberitahukan staf baby hatch untuk datang dan mengambil bayi itu.

Baby Hatch. (Foto: Wikimedia commons)
zoom-in-whitePerbesar
Baby Hatch. (Foto: Wikimedia commons)

Bayi tersebut akan diserahkan ke panti asuhan. Barangkali berubah pikiran, ibu bayi-bayi malang itu diberi waktu 12 bulan untuk mengambil buah hati mereka. Jika lewat setahun tidak ada yang mengakui bayi itu, maka akan diserahkan untuk diadopsi.

Swiss pertama kali membuka baby hatch pada tahun 2001 di Einsiede. Selama 15 tahun, Swiss Aid for Mother and Child (SAMC), organisasi yang mengurusi baby hatch ini mengatakan sudah 15 bayi yang ditinggalkan ibunya di tempat itu.

Negara ini bukan satu-satunya yang memiliki fasilitas serupa. Menurut situs Quartz, ada 200 baby hatch di seluruh Eropa, termasuk Austria, Jerman, Belgia, dan Italia. Belanda berencana membukanya juga pada 2003, namun gagal karena banyak protes.

Baby Hatch. (Foto: wikimedia commons)
zoom-in-whitePerbesar
Baby Hatch. (Foto: wikimedia commons)

Menurut data PBB, ada lebih dari 400 bayi yang ditinggalkan di baby hatch sejak tahun 2000. Cara ini sangat kontroversial, penuh pro dan kontra.

Mereka yang pro berargumen bayi-bayi itu lebih baik ditinggal di baby hatch ketimbang dibuang di jalan yang bisa mengancam nyawa mereka. Sementara mereka yang kontra mengatakan baby hatch telah merenggut hak-hak bayi untuk mengetahui identitas mereka, siapa ibu kandung, serta riwayat keluarga.

Salah satu yang menentang baby hatch adalah PBB yang mengatakan bayi-bayi itu berhak tahu siapa orang tua mereka. PBB bahkan mengatakan ini adalah praktik abad pertengahan yang tidak punya tempat di era modern.

"Seperti pada abad pertengahan di banyak negara, mereka mengatakan kotak bayi mencegah kematian bayi, tidak ada bukti dari argumen ini," kata Maria Herczog, anggota Konvensi PBB untuk Hak-hak Anak dalam wawancara kepada The Guardian tahun 2012.