Syarat Tinggi Taruna TNI Turun Jadi 160 Cm, Benarkah Remaja Kini Makin Pendek?
·waktu baca 2 menit

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengubah aturan tinggi minimal taruna TNI. Dalam aturan terbaru, tinggi taruna turun menjadi 160 cm dan taruni turun menjadi 155 cm.
”Jadi saya sudah membuat revisi sedemikian rupa sehingga lebih mengakomodasi kondisi umum remaja Indonesia. Itu yang paling penting,” ujar Andika di kanal YouTube Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Selasa (27/9).
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 2 data
Jenis Kelamin | Taruna (Laki-laki) | Taruni (Perempuan) |
|---|---|---|
Aturan Baru | 160 cm | 155 cm |
Aturan Lama | 163 cm | 157 cm |
Lantas, benarkah tinggi remaja di Indonesia saat ini makin menurun? Mari cek datanya.
Berdasarkan data NCD Risk Factor Collaboration (NCD-RisC), tinggi remaja di Indonesia berusia 19 tahun justru makin meningkat dari tahun ke tahun. Ini jelas berbeda dengan pernyataan Andika tersebut.
Detailnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 2 data
Jenis Kelamin | Laki-laki | Perempuan | Kenaikan |
|---|---|---|---|
Tahun 2019 | 166,3 cm | 154,4 cm | 2,46% |
tahun 1985 | 162,3 cm | 150,3 cm | 2,73% |
Tinggi badan seseorang pada dasarnya dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Selain itu, nutrisi juga memainkan peran yang sangat penting dalam pertumbuhan. Oleh sebab itu, anak tanpa nutrisi yang baik belum tentu setinggi anak dengan nutrisi yang cukup.
Sementara itu, gambaran tren kenaikan tinggi badan remaja berusia 19 tahun di Indonesia dapat dilihat dalam grafik di bawah ini:
NCD-RisC sendiri merupakan jaringan ilmuwan kesehatan di seluruh dunia. Organisasi tersebut menyediakan data akurat tentang faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) untuk 200 negara dan wilayah. Organisasi ini juga bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
NCD-RisC dikoordinasikan oleh Pusat Kolaborasi WHO untuk Pengawasan dan Epidemiologi NCD di Imperial College London. Organisasi ini memiliki data dari lebih dari 3.300 survei berbasis populasi dari ratusan negara sejak 1957.
Reporter: Tri Vosa Ginting
