Tabungan Rp 200 Ribu Itu Mengantar Nurhayati Sang Guru Ngaji ke Tanah Suci

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nurhayati saat ditemui di Makkah. Foto: Dok. MCH 2026
zoom-in-whitePerbesar
Nurhayati saat ditemui di Makkah. Foto: Dok. MCH 2026

Di sebuah sudut hotel kawasan Aziziyah, Makkah, Nurhayati (59) berdiri bersandar di tembok. Air matanya tumpah perlahan, sembari ia usap sesekali waktu.

Perempuan asal Embarkasi Jakarta-Banten (JKB) itu mengingat perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Sosok guru ngaji anak-anak sejak 2005 ini, sudah lama memupuk mimpi untuk bisa berhaji.

"Dulu itu cuma sering nganterin teman berangkat haji," tuturnya saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) beberapa waktu lalu.

Setiap kali ada yang berangkat berhaji, ia ikut mengaji dan ikut mendoakan. Namun di dalam hati, keinginan berhaji mulai diam-diam tumbuh.

Seorang temannya pernah berkata kalau ingin berhaji, harus mulai menabung.

"Kalau nggak nabung, Allah nggak dengar doa ibu," kata Nurhayati mengulang pernyataan temannya.

Awalnya, Nurhayati ragu. Dalam bayangannya, menabung berarti harus dalam jumlah besar.

Sementara penghasilannya saat itu jauh dari kata cukup. Bahkan ketika ia menyampaikan keinginannya kepada anaknya, sempat muncul pertanyaan.

"'Memangnya ibu punya uang?" tanya sang anak.

Nunung pun hanya menjawab pelan.

"Ya berdoa, kak, nabung, sedikit demi sedikit, Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu," ucap warga Ciputat itu.

Dimulai dari Rp 200 Ribu

Ilustrasi menabung. Foto: Shutterstock

Langkah itu kemudian dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, membuka tabungan di bank dengan setoran awal Rp 200 ribu.

Kepada petugas, Nurhayati menyampaikan niatnya. Saat menjelaskan berapa penghasilannya kala itu, ia mendapatkan jawaban yang membuat hatinya terasa hangat.

"'Nggak apa-apa, Ibu, nanti uangnya Allah yang nambahin,'" kata si petugas menenangkan, seperti disampaikan Nurhayati.

Hari-hari berikutnya diisinya dengan kebiasaan yang tak banyak diketahui orang. Setelah salat subuh, ia berangkat menabung. Jumlahnya kecil, tapi dilakukan dengan rutin.

Tahun demi tahun berlalu, hingga pada tahun 2013, tabungannya genap mencapai Rp 23,5 juta, cukup untuk mendaftar haji dan mendapatkan nomor porsi.

Selama masa tunggu itu, ia tetap menabung. Hingga akhirnya, panggilan ke Baitullah itu datang juga setelah 12 tahun menanti.

"Alhamdulillah, bener-bener barokah bisa sampai sini," ucapnya dengan suara bergetar.

Saat menceritakan momen pertama kali melihat Ka'bah, matanya kembali berkaca-kaca. Ia bahkan sempat menahan napas.

"Bisa cium Ka'bah, Hajar Aswad, terus dijagain mutawwif-nya. Demi Allah, rasanya bersyukur banget, ya Allah, ya Allah," katanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Air matanya jatuh lagi. Ia mengusapnya dengan kedua tangan.

Ilustrasi Jemaah Haji. Foto: SAMAREEN/Shutterstock

Di Madinah, ia juga merasakan kebahagiaan yang tak kalah dalam. Ia bisa masuk Raudhah hingga empat kali, sebuah kesempatan yang tak semua jemaah dapatkan.

Nurhayati yang pernah menjadi guru TK juga mengatakan, perjalanan ibadahnya tidak selalu mudah.

Kakinya sempat sakit. Namun di tengah keterbatasan itu, ia hanya punya satu doa sederhana: tidak merepotkan orang lain.

"Saya berdoa jangan nyusahin orang lain di sini, Alhamdulillah Allah dengar doa saya," kata dia.

Nurhayati mengaku berangkat haji seorang diri. Oleh karena itu, saat di depan Ka'bah, ia berdoa agar bisa kembali lagi, tapi kali ini bersama suami dan anak-anak.

"Saya berdoa suatu hari nanti, suami dan anak-anak bisa umrah, bisa ngerasain tawaf, sai, menikmati kehidupan di Makkah, Madinah, dan masuk ke Raudhah," pungkasnya.