Tak Ada Lockdown di Wisma Atlet Pademangan, 4.821 Orang Sedang Dikarantina

Ribuan pelaku perjalanan luar negeri masih terus berdatangan ke Indonesia jelang akhir tahun, termasuk setelah ditemukannya kasus varian Omicron pertama pada 15 Desember lalu. Hal ini membuat kapasitas karantina yang disediakan pemerintah semakin penuh.
Menurut Kepala Satgas Kesehatan Wisma Atlet Pademangan dr Imran Pambudi, dalam sehari ada sekitar 3.000 orang yang datang ke Indonesia. Seluruhnya wajib menjalani karantina selama 10 hari.
Sekitar 50-60 persen dari total kedatangan dari luar negeri akan melangsungkan karantina di salah satu dari ketiga fasilitas karantina terpusat yakni Rusun Pasar Rumput, Rusun Nagrak, dan termasuk Wisma Atlet Pademangan.
Kini, usai varian Omicron ditemukan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, kondisi di Wisma Pademangan terbilang terkendali walau cukup penuh dan tak ada penutupan atau lockdown.
Baik RSDC maupun Wisma Pademangan merupakan dua lokasi berbeda namun masih di wilayah yang sama. RSDC untuk perawatan pasien corona, sedangkan Wisma Pademangan adalah lokasi karantina.
"Situasi [Wisma Atlet] Pademangan baik, terkendali tapi penuh," ujar Imran kepada kumparan, Jumat (17/12).
Per hari ini, ada 4.821 orang yang menjalani karantina di Wisma Atlet Pademangan, yang diinapkan di tiga tower (Tower 8,9, dan 10). Bahkan, Imran menyebut saat ini satu di antaranya telah penuh (Tower 10).
Hanya Pekerja Migran Indonesia (PMI), pelajar/mahasiswa, dan juga ASN yang tiba dari luar negeri sehabis dinas yang dapat menjalankan karantina di fasilitas-fasilitas tersebut.
Pengetatan proses skrining tentu terus dijalankan untuk mencegah adanya varian Omicron yang bisa menyebar luas. Untuk itu, seluruh orang yang dikarantina akan menjalani tes termasuk untuk mendeteksi bila adanya Omicron.
"Pengetatan dilakukan melalui pemeriksaan lanjutan dengan WGS dan SGTF (S Gene Target Failure) bila sampel ditemukan positif," ujarnya.
