Tak Ada Sanak Saudara, Perantau di Bali Dimakamkan Relawan Musala

Putri Naysa Octariani (30), perantau asal Rancaekek itu mengembuskan napas terakhir di RSUP Sanglah Denpasar setelah dirawat selama 14 hari. Ia meninggal tanpa didampingi keluarga maupun sanak saudara.
Budi Susanto (43), yang sama-sama perantau di Pulau Dewata ditunjuk sebagai ahli waris pemakaman almarhumah. Ia mengaku akhirnya meminta bantuan relawan muslim Musala Al-Ikhlas Benoa untuk membantu memakamkan Putri di pemakaman Muslim Al Muqorobin, Denpasar.
"Karena di pemakaman tersebut harus ada ahli waris pemakaman atau yang bertanggung jawab, makanya saya yang menjadi ahli waris karena kami enggak tahu keluarganya. Kalau enggak gitu, enggak bisa dimakamin," ungkap Budi saat ditemui di Benoa, Badung, Selasa (4/9) malam.
Budi mengaku pertama kali mengenal Putri pada 2009 silam dari istrinya. Saat itu, Putri mengaku datang dari Jakarta dan tinggal di dekat kediaman keluarga Budi. Baru kemudian, Putri pindah dan tinggal di kawasan Jimbaran, Kuta Selatan.
Menurut Budi, Putri pernah bercerita bahwa kedua orang tuanya sudah tiada. Ia yang bekerja sebagai bartender di sebuah kafe juga tidak memiliki sanak saudara. Setelah lost contact selama empat tahun, tiba-tiba Budi mendapat kabar soal penyakit Putri.

"Dia dirawat di RS Sanglah sejak 19 Agustus, meninggal tanggal 1 September siang. Kata dokter, sakit infeksi paru-paru dan TBC. Saya dikabari pacarnya waktu itu," ujarnya.
Karena kondisi Putri yang memburuk, ia pun berinisiatif mengunggah identitas Putri di media sosial untuk mencari tahu keluarganya. Apalagi, asal muasal Putri masih misteri karena dia memiliki 3 KTP dari Banyuwangi, Kabupaten Bandung, dan Jember.
"Kedua orang tuanya enggak ada, enggak punya saudara juga, ceritanya dia dulu. Makanya, sempat dipasang di medsos, siapa tahu ada yang kenal dengan almarhumah. Tapi dia sendiri orangnya baik sama teman-temannya," kata Budi.
Meski KTP terakhir yang digunakan Putri adalah KTP Rancaekek, namun menurut Budi, sehari-hari Putri cenderung memiliki logat Jawa ketimbang Sunda. Ia menduga, KTP tersebut diperoleh Putri saat merantau di daerah Bandung.
"Entah pernah kerja di Bandung atau tempat lain, makanya ada KTP itu. Tapi kalau ngomong, logatnya Jawa dan cenderung ngapak. Kayak Purwokerto," tuturnya.

Sementara, perwakilan relawan Musala Al Ikhlas Benoa Widodo (39) mengaku pihaknya memang membantu mengurus pemakaman jenazah atas permintaan Budi. Jenazah Putri dibawa pada Sabtu (1/9) sore. Namun karena jadwal pemakaman hanya sampai 16.00, jenazah Putri diinapkan sehari.
Menurut Widodo, untuk proses perawatan dan pemakaman jenazah menggunakan dana patungan dari relawan musala. Termasuk dengan Budi yang menjadi penanggungjawab jenazah.
"Sampai saat ini belum ada keluarga yang menghubungi, kami juga sempat share ke paguyuban di Bandung tapi nihil informasinya. Ini kan kemanusiaan, ya kami relawan patungan untuk merawat jenazah hingga dimakamkan. Termasuk untuk tahlil," kata Widodo.
Ia menuturkan, pihaknya baru pertama kali menangani jenazah perantau yang benar-benar tanpa keluarga. Apalagi yang hingga saat ini belum diketahui keluarganya.
"Kalau menangani yang meninggal sih sering, tapi pasti yang ada keluarganya," pungkasnya.
