News
·
24 Februari 2021 14:51

Tak Dikonsumsi, Hiu Mirip Manusia di Rote Ndao Diawetkan Pemiliknya

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tak Dikonsumsi, Hiu Mirip Manusia di Rote Ndao Diawetkan Pemiliknya (243879)
Ikan hiu menyerupai wajah manusia yang ditemukan oleh nelayan Rote Ndao, Abdullah Ferro. Foto: Abdullah Ferro
Abdullah Ferro (48), nelayan asal Desa Papela, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, NTT, merupakan pemilik hiu yang disebut-sebut mirip manusia. Dia menemukan hiu tersebut di dalam perut induk hiu yang tertangkap oleh jaringnya.
ADVERTISEMENT
Penemuan hiu itu lantas membuat heboh warga sekitar. Mereka mengabadikan lewat foto dan video hingga akhirnya viral di media sosial.
Kepada kumparan, Abdullah mengatakan hiu tersebut saat ini sudah mati, baik induk atau anaknya yang ditemukan dalam kondisi mati dalam perut induknya. Dia juga tidak akan mengkonsumsi hiu tersebut.
"Tidak buat makan. Ini masih (ada), buat diawetkan, disimpan," kata Abdullah saat dihubungi kumparan, Rabu (23/2).
Tak Dikonsumsi, Hiu Mirip Manusia di Rote Ndao Diawetkan Pemiliknya (243880)
Ikan hiu menyerupai wajah manusia yang ditemukan oleh nelayan Rote Ndao, Abdullah Ferro. Foto: Abdullah Ferro
Ia mengatakan baru kali pertama menemukan hewan dengan bentuk yang tak biasa itu pada malam Senin (21/2) pukul 11 malam. Kala itu dia sedang melaut sendirian di perairan Papela tepatnya di Butupulu, Sebelah Timur Pos Angkat Laut (Posal) Papela.
Hiu tersebut masuk ke dalam jaring miliknya. Selama ini, kata Abdullah, memang banyak jenis hiu yang masuk ke jaringnya.
ADVERTISEMENT
"Itu baru lihat, baru pertama kali lihat, pernah (melaut) ke Australia, baru dapet kali ini," paparnya.
Hiu di Indonesia
Dilansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan, hiu memiliki karakter biologis yang spesifik seperti berumur panjang, fekunditas rendah, jumlah anakan sedikit, lambat dalam mencapai matang kelamin dan pertumbuhannya lambat, sehingga sekali terjadi over eksploitasi, sangat sulit bagi populasinya untuk kembali pulih.
Kebanyakan hiu adalah hewan predator pada lingkungan terumbu karang dan lautan, mereka berada pada tingkat atas dari rantai makanan yang menentukan keseimbangan dan mengontrol jaring-jaring makanan yang komplek di bawah mereka. Sebagai predator tingkat atas, hiu juga berperan sebagai penjaga lingkungan laut mereka.
Di Indonesia ada 117 jenis hiu, hanya 1 jenis yang sudah berstatus dilindungi penuh, yaitu hiu paus (Rhyncodon typus). Empat jenis hiu lainnya, yaitu hiu koboy (Carcharhinus longimanus) dan 3 jenis hiu martil (Spyhrna lewini, Sphyrna zygaena, dan Sphyrna mokarran) termasuk yang dilarang ekspor melalui Permen KP No. 5 Tahun 2018. Delapan jenis juga masuk CITES, artinya pemanfaatan untuk perdagangan luar negerinya diperbolehkan, namun dengan aturan ketat.
ADVERTISEMENT
Tanggapan Peneliti
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan UKAW Kupang, Alfred G.O. Kase, SPi, MSi, Ph.D, angkat bicara soal temuan hiu ini.
Alfred yang juga menjabat Kepala Lembaga Penelitian-UKAW ini menduga ikan tersebut belum cukup umur untuk dilahirkan, karena ikan unik tersebut ditemukan di tubuh induknya. Apalagi, kondisi ikan lainnya yang ditemukan dalam tubuh induknya dalam kondisi normal.
"Anak ikan lainnya normal, hanya satu saja yang aneh. Dugaannya dia belum cukup umur, makanya cacat. Apalagi ditemukan setelah tubuh induknya dibelah. Seperti anak ayam atau binatang lainnya, jika belum cukup umur, biasanya berbeda dengan lainnya. Ini analisa saya, tapi perlu pembuktian pemeriksaan lagi," ujarnya kepada wartawan florespedia.com, partner 1001 media kumparan, Selasa (23/2).
ADVERTISEMENT
Untuk masa inkubasi jenis ikan hiu, kata dia, biasanya mencapai 2-3 tahun. Meski demikian, ada juga jenis ikan hiu yang masa inkubasinya hanya enam bulan.
"Masa inkubasi ini tergantung jenis ikannya. Ada yang lama, ada yang cepat. Sehingga kecurigaan saya, mungkin anak hiu itu belum masanya untuk dilahirkan," jelasnya.