Tak Selalu Terlihat Mata, Ini Cara Deteksi Abu Halus Vulkanik Anak Krakatau

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari Pulau Sebesi di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Selasa (8/9/2026).  Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari Pulau Sebesi di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Selasa (8/9/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa saja tak kasatmata. Saat langit sudah terlihat cerah, partikel halusnya masih mungkin berada di udara atau menempel di berbagai permukaan.

Lantas, bagaimana warga bisa mengecek apakah udara di sekitar rumah masih terpapar abu vulkanik?

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan abu vulkanik yang sangat halus memang tidak selalu terlihat oleh mata. Awan abu bisa saja sudah tidak tampak, tetapi partikel halus masih berada di udara.

Selain itu, abu yang sebelumnya sudah mengendap di permukaan dapat kembali beterbangan akibat angin maupun aktivitas kendaraan.

“Ini pertanyaan penting karena abu vulkanik yang sangat halus tidak selalu terlihat oleh mata. Awan abunya mungkin sudah tidak tampak, tetapi partikel halus masih dapat berada di udara atau material yang sudah mengendap dapat terangkat kembali karena angin dan kendaraan,” kata Lana saat dihubungi kumparan, Selasa (8/9).

“Untuk mengetahui kondisi udara, kita dapat menggunakan alat pemantau PM10 dan PM2,5,” lanjutnya.

PM10 menunjukkan konsentrasi partikel berdiameter lebih kecil dari sekitar 10 mikrometer, sedangkan PM2,5 mengukur partikel yang berukuran lebih kecil lagi. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai jumlah partikulat yang sedang berada di udara.

Namun, Lana mengingatkan bahwa tingginya angka PM2,5 atau PM10 tidak otomatis berarti partikulat tersebut berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Alat kualitas udara hanya mengukur jumlah partikelnya. Partikel tersebut juga dapat berasal dari kendaraan, pembakaran, industri, debu jalan dan sumber lain,” ujarnya.

Karena itu, apabila angka PM2,5 di suatu wilayah meningkat, data tersebut saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh partikulat berasal dari abu Gunung Anak Krakatau.

Cara Sederhana Cek Abu di Rumah

Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono, mengatakan masyarakat juga dapat melakukan pemeriksaan sederhana terhadap permukaan di sekitar rumah.

Salah satunya dengan mengusap kaca jendela, kap mobil, atau daun tanaman yang berada di luar rumah menggunakan kain basah maupun tisu putih.

Abu vulkanik umumnya terasa lebih kasar dan berpasir dibandingkan debu rumah biasa.

Selain pemeriksaan permukaan, masyarakat dapat memantau angka PM2,5 dan PM10 melalui aplikasi atau layanan pemantauan kualitas udara seperti AirVisual/IQAir maupun fitur kualitas udara di Google Maps.

Jika angka PM2,5 atau PM10 meningkat meski kondisi langit terlihat cerah, hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa konsentrasi partikulat di udara sedang tinggi. Namun, sumber partikulat tersebut tetap perlu dipastikan lebih lanjut.

Bagaimana Memastikan Itu Abu Anak Krakatau?

Lana menjelaskan, untuk memastikan partikulat yang ditemukan benar-benar berasal dari Gunung Anak Krakatau, diperlukan pengambilan sampel dan analisis lebih lanjut.

Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah mengambil sampel debu jatuhan atau dustfall, kemudian mengamatinya menggunakan mikroskop di laboratorium.

Pemeriksaan yang lebih rinci dapat menggunakan metode SEM-EDS untuk melihat bentuk dan komposisi unsur, XRD untuk mengidentifikasi mineral, analisis ukuran butir, hingga analisis kimia.

Hasil pemeriksaan kemudian dibandingkan dengan sampel abu Gunung Anak Krakatau yang sumbernya telah diketahui. Karakteristik seperti fragmen kaca vulkanik, mineral, dan batuan dapat membantu mengidentifikasi sumber abu.

Di sisi lain, informasi mengenai arah pergerakan awan abu juga dapat dipantau melalui citra satelit serta informasi dari BMKG dan VAAC.

Lana menekankan, pemantauan abu di atmosfer dan pemeriksaan endapan abu di permukaan merupakan dua hal yang berbeda.

“Citra satelit dan informasi dari BMKG maupun VAAC juga sangat penting untuk mengetahui ke mana awan abu bergerak di atmosfer, tetapi itu berbeda dengan menentukan apakah halaman atau rumah tertentu masih memiliki endapan abu,” jelasnya.

Masyarakat juga dapat memantau informasi resmi mengenai sebaran abu melalui kanal BMKG dan peta MAGMA Indonesia milik PVMBG. Aplikasi pemantau atmosfer seperti Windy juga dapat digunakan untuk melihat lapisan aerosol atau abu vulkanik.

Tak Perlu Menunggu Hasil Laboratorium untuk Kurangi Paparan

Meski memastikan sumber abu membutuhkan pemeriksaan laboratorium, masyarakat tidak perlu menunggu kepastian tersebut untuk mengurangi paparan.

Lana mengatakan apabila kualitas udara menunjukkan konsentrasi partikulat yang tinggi, terdapat debu halus yang mudah beterbangan, atau pemerintah menyatakan suatu wilayah terdampak abu, masyarakat sebaiknya melakukan langkah perlindungan terlebih dahulu.

“Apabila kualitas udara menunjukkan partikulat tinggi, terlihat ada debu halus yang mudah beterbangan, atau pemerintah menyatakan wilayah tersebut terdampak abu, maka pendekatannya adalah mengurangi paparan terlebih dahulu,” ujarnya.

Setelah paparan dikurangi, sumber partikulat dapat diteliti lebih rinci.