kumparan
13 Jan 2019 15:19 WIB

Takut Disebut Gila, Arkeolog RI Tolak Malaysia Teliti Atlantis

Bambang Budi Utomo, Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Indonesia. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Bagi Kepala Badan Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, meneliti Atlantis sama saja melakukan sesuatu yang sia-sia. Tidak ada gunanya.
ADVERTISEMENT
Bambang pada tahun 1979, pernah ditawari oleh sekelompok peneliti Malaysia untuk bekerja sama meneliti Atlantis yang mereka yakini ada di Indonesia. Tepatnya di Sundaland, sekitar Gunung Anak Krakatau.
Padahal, Bambang ditawari uang yang tidak sedikit untuk mau bekerja sama dengan peneliti Malaysia. Namun Bambang merasa uang tidak lebih penting dari akal sehat.
“Mereka sudah menyiapkan jutaan ringgit untuk nyari Atlantis, katanya di Selat Sunda. Saya disuruh hubungin teman-teman, dari geologi dari arkeologi. Saya bilang saya enggak mau, entar saya dibilang gila lagi,” kata Bambang ketika ditemui di kantornya di Pejaten, Jakarta Selatan, Minggu (13/1).
Menurutnya, mengumpulkan teman-teman untuk meneliti Atlantis hanya membuatnya ditertawakan. Baginya, Atlantis itu utopis dan hanya dongeng semata.
ADVERTISEMENT
“Ngumpulin teman-teman disuruh nyari yang kayak begitu. Emang duitnya ada tapi saya enggak mau dibilang gila karena enggak mungkin,” tutur dia.
Mengapa Bambang begitu tegas menyikapi Atlantis?
Bambang Budi Utomo, Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Indonesia. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Ia menjelaskan, tidak ada satupun barang arkeologi yang serupa dengan peradaban barat seperti di Yunani yang ada di Nusantara. Kalaupun Atlantis itu ada, ia menyebut tidak mungkin ada di Indonesia.
“Secara arkeologis begini, kalau Atlantis merupakan kerajaan yang besar yang berada di pulau besar katakanlah benua, itu dia ada peradaban yang ditinggalkan,” ungkapnya.
“Dan itu pengaruhnya ke pulau-pulau sekitarnya atau wilayah sekitarnya. Katakanlah itu ada pengaruh peradaban ini ada di Yunani, ada di sekitaran Mesir,” sambungnya.
Sementara hingga saat ini, ia belum pernah melihat atau membaca karya yang membeberkan adanya bukti fisik peninggalan Atlantis. Seperti yang pernah ia teliti soal tembikar Arikamedu India yang juga ada di Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
"Kalau ada tembikar, barang yang ada di seluruh dunia, baru kita percaya. Sekarang jangankan bicara itu, Atlantis itu ada atau enggak saja kita belum tahu," ujar Bambang.
Baginya, para peneliti yang mengungkap Atlantis ada di Indonesia kebanyakan bukan arkeolog. Jadi apa yang mereka tulis terkesan seperti pseudo science (fiksi).
"Yang berbahaya itu orang orang yang bukan arkeolog tapi dia itu berusaha menjelaskan kebudayaan dari kacamata arkeologi padahal dia enggak menguasai arkeologi. Jadinya science fiction atau pseudo science," tutur dia.
Ilustrasi Atlantis. (Foto: Pixabay)
Misalnya apa yang ditulis oleh profesor asal Brazil, Aroysio Santos yakni “Atlantis: The Lost Continet Finally Founded’ pada tahun 2005.
Santos merupakan seorang profesor di bidang nuklir yang memang menggemari filsafat. Dia juga berjalan ke beberapa negara seperti Yunani, Italia hingga Mesir untuk membuktikan cerita Plato.
ADVERTISEMENT
Namun bagi Bambang, apa yang diteliti Santos selama 20 tahun tidak bisa dijadikan patokan apakah Atlantis itu nyata atau fiksi. Justru ia menggolongkan buku Santos sebagai buku pseudo science.
"Bisa-bisa saja orang nulis buku sampai tebalnya seperti apa. Sampai dia punya angan-angan, fiksi ilmiah bisa saja. Buku Santos yang berjudul Atlantis: Atlantis: The Lost Continent Finally Found' itu tergolong fiksi ilmiah," ungkapnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan