Tanggung Jawab Atas Tabrakan Maut 2 Kereta, Menteri Transportasi Yunani Mundur
·waktu baca 3 menit

Menteri Perhubungan dan Transportasi Yunani, Kostas Karamanlis, mengundurkan diri dari jabatannya pada Kamis (2/3). Keputusan itu menyusul terjadinya insiden tabrakan maut antara dua kereta yang menewaskan sedikitnya 43 orang pada pekan ini.
Karamanlis mengajukan pengunduran diri usai mengunjungi lokasi kecelakaan kereta yang berada di Kota Larissa, berjarak sejauh 216 km dari ibu kota Athena. Musibah itu disebut sebagai kecelakaan maut paling berdarah dalam sejarah Yunani.
Karamanlis merasa sudah menjadi kewajibannya untuk mengundurkan diri akibat kecelakaan itu.
“Rasa sakitnya tak terkatakan. Ketika sesuatu yang begitu tragis terjadi, tidak mungkin untuk melanjutkan seolah-olah tidak ada yang terjadi,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters.
Dia menilai, keputusan ini merupakan bentuk tanggung jawab atas kelalaian yang dipicu faktor manusia (human error) —yang seharusnya bisa diantisipasi dirinya selaku Menteri Transportasi dan Perhubungan Yunani serta jajaran di bawahnya.
“Saya menganggapnya sebagai elemen penting dalam demokrasi kita bahwa warga negara kita mempercayai sistem politik. Ini disebut tanggung jawab politik,” jelas Karamanlis.
Selain pengunduran diri Karamanlis, terdapat pejabat lain yang terpaksa harus berurusan dengan hukum akibat kecelakaan ini, yaitu seorang kepala stasiun di Kota Larissa —tempat pemberhentian terakhir kereta.
Otoritas Yunani sampai sekarang tidak merilis identitas pejabat itu, tetapi kepala stasiun ini dinilai bertanggung jawab atas lalu lintas kereta api yang melaju di jalur tersebut.
Dia pun dijadwalkan untuk menghadiri persidangan di hadapan jaksa untuk menerima dakwaan resmi.
Korban Tewas Terus Bertambah
Menurut laporan terbaru, korban tewas dalam tabrakan maut itu bertambah menjadi 43 orang —meningkat dari laporan sehari sebelumnya yang menyebut 36 orang.
Kepala tim forensik yang dikerahkan ke lokasi kejadian Roubini Leondari mengatakan, ke-43 mayat tersebut sedang dalam proses pemeriksaan dan akan memerlukan identifikasi DNA, lantaran sebagian besar mayat dalam kondisi tidak berbentuk lagi.
Namun, yang dapat dipastikan sebagian besar korban tewas merupakan anak muda di usia 20-an yang hendak menghabiskan liburan panjang di Kota Larissa.
“Sebagian besar [jenazah] adalah anak muda. Mereka berada dalam kondisi yang sangat buruk,” jelas Leondari.
Menurut Presiden Serikat Pekerja Kereta Api Yunani, Yannis Nitsas, angka korban tewas ini juga meliputi delapan pegawai kereta api, dua masinis kereta kargo, dan dua masinis kereta penumpang.
Secara terpisah, Dinas Pemadam Kebakaran Yunani melaporkan, 57 orang korban selamat masih dirawat di rumah sakit setempat hingga Rabu (1/3) malam —6 di antaranya dalam perawatan intensif.
Tabrakan maut antara dua kereta —kereta penumpang berisi sedikitnya 200 orang dan kereta kargo terjadi di luar pusat Kota Larissa pada Selasa (28/2) malam waktu setempat.
Kecelakaan bermula ketika kereta penumpang yang melaju dari Kota Athena menuju Kota Thessaloniki berada di satu jalur dengan kereta kargo yang melaju dari kota bagian utara hingga akhirnya bertabrakan.
Kedua kereta ini dibiarkan berada di satu jalur hingga beberapa kilometer jauhnya. Beberapa gerbong penumpang meledak dan terbakar akibat tabrakan tersebut —menghantam apa pun yang ada di dalamnya.
