Tangis Nenek Ijah Kehilangan Paspor di Bandara Jeddah, Tetap Pulang Pakai SPLP

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nenek Ijah bersama dengan petugas PPIH Arab Saudi. Foto: MCH 2026
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Ijah bersama dengan petugas PPIH Arab Saudi. Foto: MCH 2026

Siti Khodijah (61) histeris. Tangisnya pecah saat menyadari paspornya hilang saat berada di Bandara Jeddah, jelang kepulangan ke Indonesia usai melaksanakan ibadah haji, Rabu (3/6).

Padahal, penerbangan perempuan yang kesehariannya bekerja sebagai pedagang kopi keliling di Pelabuhan Tanjung Priok itu, sudah tinggal beberapa jam lagi.

Nenek Ijah sempat syok karena mengira dirinya akan tertahan dan tidak bisa kembali ke Tanah Air imbas paspor hilang.

​"Tadinya nangis Emak. Katanya Emak enggak boleh pulang. Akhirnya Emak nangis," kata Nenek Ijah.

​Melihat kepanikan janda yang ditinggal wafat suaminya sejak 2016 itu, petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara langsung bergerak cepat. Langkah pertama yakni menenangkan Nenek Ijah.

Selanjutnya, petugas langsung mengurus administrasi darurat untuk menerbitkan dokumen pengganti.

Nenek Ijah (kanan) bersama dengan petugas PPIH Arab Saudi. Foto: MCH 2026

​Sekretaris Daker Bandara, Aruji Maswatu, menegaskan penanganan dokumen paspor hilang langsung diprioritaskan sore itu juga. Petugas langsung membuat dan melayangkan surat permohonan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah agar dokumen darurat bisa segera diproses.

​"Nah, ini penanganannya adalah kami di Daerah Kerja Bandara ini membuat permohonan ke KJRI. KJRI untuk diterbitkan yang kita sebut atau kita kenal dengan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Nah, nanti SPLP telah terbit, kemudian akan diambil," jelas Aruji Maswatu.

Demi memastikan Nenek Ijah tidak telantar dan tetap nyaman, petugas langsung memboyongnya ke fasilitas penginapan khusus milik petugas Daker Bandara di Hotel Ashil. Di sana, Nenek Ijah diberikan tempat istirahat yang layak sembari menunggu kepastian dokumennya selesai.

Seorang petugas bandara bernama Wahidin Hasan langsung berinisiatif menghubungi pihak keluarga Nenek Ijah di Indonesia. Langkah ini membuat Nenek Ijah jauh lebih tenang karena anak dan menantunya di rumah sudah mengetahui situasi dan kondisinya.

​Aruji menambahkan, setelah dokumen SPLP terbit, pihak otoritas haji akan langsung menyisipkan nama Nenek Ijah ke jadwal penerbangan paling cepat. Petugas memastikan jemaah tidak harus menunggu kloter asal JKG berikutnya jika memang ada kursi kosong di penerbangan menuju Jakarta.

Sejumlah paspor jamaah calon haji kloter pertama di kawasan Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (3/6/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

​Setelah mendapat kejelasan nasibnya, Nenek Ijah berulang kali mengucapkan rasa syukur atas bantuan petugas, baik yang mendampinginya sejak di Madinah, Makkah hingga di bandara.

​"Ya Allah, terima kasih para petugas haji yang di Madinah, maupun yang Hotel. Petugas-petugasnya istimewa semua, terima kasih. Emak cuma punya doa dan doa, mudah-mudahan mereka dipanjangkan sama Allah kesehatannya, umur yang panjang ya Allah. Diberikan ya Allah dia ketulusan hati yang tulus untuk menjalankan tugas-tugasnya," tutur Nenek Ijah.

​Bagi Nenek Ijah, kesempatan beribadah di Tanah Suci merupakan kado ulang tahun terindah dari Allah SWT yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, terutama karena hari ulang tahunnya yang ke-61 jatuh tepat saat ia sedang berada di Tanah Suci.

Kasus Kehilangan Paspor yang Sama

Kedatangan jemaah haji gelombang kedua JKG 27 dan PDG 10 di Bandara Jeddah, Jumat (24/5/2024). Foto: Dok MCH 2024

Menurut data Pelayanan Kedatangan dan Keberangkatan PPIH Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Bandara, ada dua jemaah yang kehilangan paspor pada hari yang sama. Satu Nenek Ijah, dan lainnya ialah Abas Suganda yang tergabung dalam kloter KJT 04 rombongan 7.

Kepala Daker (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, memastikan bahwa penanganan kedua jemaah berjalan lancar tanpa ada yang terlantar lama.

"Abas Suganda tetap dapat terbang dengan kloternya. Sementara Siti Khodijah dimutasi ke kloter KJT-5 dan terbang hari ini juga," ungkapnya.

Staf Teknis Imigrasi KJRI Jeddah, Okky, menegaskan bahwa pihaknya memberikan atensi penuh terhadap kasus-kasus darurat seperti ini.

"KJRI berkomitmen menyelesaikan proses SPLP secepat mungkin demi pelayanan terbaik kepada jemaah haji. KJRI juga mendukung penuh PPIH Arab Saudi," tegas Okky.

Atas sinergi dan gerak cepat yang ditunjukkan oleh tim imigrasi, Kadaker Bandara pun menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya. "Kami sangat berterima kasih atas kerja cepat tim KJRI Jeddah," pungkas Abdul Basir.