Tantang Aturan Pemerintah, Atlet Catur Iran Tanding di Luar Negeri Tanpa Hijab

27 Desember 2022 18:59 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi main catur. Foto: ArmadilloPhotograp/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi main catur. Foto: ArmadilloPhotograp/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Sebagai bentuk solidaritas dengan protes anti-pemerintah Iran, Sara Khadem berkompetisi dalam turnamen catur internasional di Kazakhstan tanpa mengenakan hijab sejak Minggu (25/12).
ADVERTISEMENT
Disadur dari Reuters, perempuan yang juga dikenal sebagai Sarasadat Khademalsharieh ini lahir pada 1997.
Sebagai atlet catur, dia sekarang menempati peringkat 804 di dunia berdasarkan situs International Chess Federation (FIDE).
Khadem mengikuti FIDE World Rapid and Blitz Chess Championships yang berlangsung di Kota Almaty pada 25--30 Desember. Selama turnamen, Khadem terlihat tidak memakai hijab. Kabar ini diberitakan media Iran, Khabarvarzeshi dan Etemad, pada Senin (26/12).
Sebuah sepeda motor polisi terbakar saat protes kematian Mahsa Amini, di Teheran, Iran, Senin (19/9/2022). Foto: WANA via REUTERS
Iran mewajibkan atlet perempuannya mengenakan hijab saat berkompetisi bahkan dalam acara yang berlangsung di luar negeri.
Walau begitu, sejumlah atlet seperti Khadem telah menentang aturan ketat ini sejak protes anti-pemerintah meletus pada 16 September.
Demonstrasi massal tersebut dipicu kematian Mahsa Zhina Amini. Akibat memperlihatkan sedikit rambut, perempuan etnis Kurdi berusia 22 tahun itu ditangkap polisi moral Iran.
ADVERTISEMENT
Amini kemudian meninggal dunia dalam keadaan koma. Dugaan penyiksaan terhadap Amini selama tahanan memicu amarah di seluruh Iran. Unjuk rasa yang menarik semua lapisan masyarakat ini menjadi tantangan tersulit bagi Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Koran dengan gambar sampul Mahsa Amini, seorang wanita yang meninggal setelah ditangkap oleh "polisi moral" republik Islam terlihat di Teheran, Iran. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters
Aksi yang bermula menentang aturan berpakaian telah berubah menjadi kampanye untuk menggulingkan rezim Iran.
Seruan-seruan yang menggema sepanjang protes bahkan dengan lantang menyerang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Mereka meneriakkan slogan seperti 'Matilah sang Diktator!'
Pihak berwenang telah menindak keras unjuk rasa. Kantor berita aktivis, HRANA, menyebut 507 demonstran telah tewas dalam bentrokan per Kamis (22/12). Kendati demikian, kekerasan oleh otoritas justru semakin mengobarkan unjuk rasa.
Atlet panjat tebing asal Iran, Elnaz Rekabi. Foto: Instagram/@elnaz.rekabi
Perempuan memainkan peran penting dalam aksi tersebut. Menentang aturan hijab paksa, banyak perempuan melepaskan dan membakar hijab mereka. Para atlet perempuan maupun laki-laki turut menunjukkan solidaritas dalam bentuk berbeda.
ADVERTISEMENT
Beberapa tim olahraga nasional menolak menyanyikan lagu kebangsaan, seperti sebelum pertandingan pembukaan Iran di Piala Dunia 2022 di Khalifa International Stadium, Qatar.
Atlet panjat tebing bernama Elnaz Rekabi juga berkompetisi di Seoul hanya dengan mengenakan bandana pada Oktober.
Seorang atlet panahan turut mengaku tidak menyadari hijabnya terlepas selama upacara penghargaan di Teheran pada November.
Niloufar Mardani dari Iran beraksi selama Perlombaan Penghapusan Poin+10000m Roller Sports Women di Velodrome Guangzhou pada hari kedua belas Asian Games ke-16 Guangzhou 2010 pada 24 November 2010 di Guangzhou, Cina. Foto: Richard Heathcote/Getty Images
Pada bulan yang sama, atlet sepatu roda bernama Niloufar Mardani mengikuti kompetisi tanpa mengenakan hijab pula di Turki.
Wakil Menteri Olahraga Iran, Maryam Kazemipour, angkat suara mengenai kontroversi ini pada 9 November. Dia mengatakan, beberapa atlet perempuan bertindak melawan norma-norma Islam.
Kazemipour kemudian meminta maaf atas tindakan mereka.
"Orang-orang ini mengambil tindakan di bawah pengaruh propaganda musuh, tetapi setelah beberapa saat, mereka menyesal dan mencari kesempatan untuk menebus kesalahan mereka," ujar dia, dikutip dari CNN, Selasa (27/12).
ADVERTISEMENT