Teheran Hadapi Krisis Air, Presiden Iran Usulkan Pindah Ibu Kota
ยทwaktu baca 3 menit

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Iran tidak punya pilihan lagi selain memindahkan ibu kota dari Teheran ke wilayah selatan. Hal ini dikarenakan perluasan kota yang berlebihan, kurangnya pasokan air bersih, dan meningkatnya ancaman penurunan tanah.
Dikutip dari The Guardian, Senin (6/10), Pezeshkian mengatakan telah mengajukan proposal itu kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tahun lalu. Dia mengakui usulan itu dikritik banyak orang, tapi menilai krisis sumber daya terakumulasi sangat dalam sehingga Iran memiliki kebijakan untuk memindahkan ibu kota, dan tak ada pilihan lain selain itu.
Hal ini disampaikan Pezeshkian saat mengunjungi provinsi Hormozgan yang terletak di Teluk Persia, berseberangan dengan Dubai.
"Wilayah ini terletak di pesisir Teluk Persia dan menyediakan akses langsung ke perairan terbuka serta pengembangan hubungan perdagangan dan ekonomi. Jika kita memiliki pandangan yang berbeda tentang kapasitas kawasan ini, kita dapat menciptakan kawasan yang sangat makmur dan maju. Tidaklah cukup hanya menerima situasi saat ini dan tidak mendesain peta yang ilmiah, akurat, dan asli untuk masa depan," katanya.
"Masalah yang dihadapi negara saat ini mengharuskan kita untuk mengarahkan jalur pembangunan menuju Teluk Persia. Teheran, Karaj, dan Qazvin saat ini menghadapi krisis air, dan krisis ini tidak dapat diselesaikan dengan mudah," lanjutnya.
Teheran berkembang menjadi kota berpenduduk lebih dari 10 juta orang, dan memakai hampir seperempat pasokan air Iran.
Presiden-presiden sebelumnya telah mengangkat isu pemindahan ibu kota. Mantan Presiden Hassan Rouhani bahkan sampai menyusun rencana dengan berbagai pilihan.
Pezeshkian juga sejak lama menyuarakan kekhawatiran akan krisis air yang semakin memburuk di Iran. Pada Rabu (2/10) lalu dia bahkan menyinggung mengenai curah hujan yang menurun di Iran.
"Tahun lalu, curah hujan mencapai 140 mm, sementara standarnya adalah 260 mm. Ini berarti curah hujan turun sekitar 50-60%. Tahun ini, situasinya sama kritisnya," katanya saat itu.
Bahkan, sejumlah perkiraan memprediksi curah hujan di 2025 turun di bawah 100 mm.
"Penurunan debit air di balik bendungan, mengeringnya beberapa sumur, dan tingginya biaya pengangkutan air dari wilayah lain mengindikasikan perlunya perubahan pendekatan. Jika kita ingin mengangkut air dari wilayah ini ke Teheran, biayanya per meter kubik akan mencapai 4 euro," ujarnya.
Bendungan Teheran biasanya menyediakan 70% air ibu kota, dengan 30% sisanya berasal dari sumber daya bawah tanah. Namun, rendahnya curah hujan dan meningkatnya penguapan telah mengurangi porsi bendungan dan meningkatkan tekanan pada air tanah.
"Pembangunan tanpa mempertimbangkan dampak sumber daya dan pengeluaran hanya akan menghasilkan kehancuran. Jika seseorang tidak dapat mencapai keseimbangan ini, pembangunan pasti akan gagal," ungkapnya.
"Di sejumlah wilayah, tanah mengalami penurunan hingga 30 cm per tahun. Ini adalah bencana dan menunjukkan bahwa air di bawah kaki kita mulai habis," pungkasnya.
