Teka-teki Santri Tewas di Ponpes Gontor karena Dianiaya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 8 menit

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di depan Pondok Pesantren Gontor Ponorogo  Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di depan Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Foto: Dok. Istimewa

Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Jawa Timur menuai sorotan. Pemicunya, akibat adanya orang santri berinisial AM asal Palembang tewas karena diduga dianiaya.

Masalah itu semakin pelik karena Ponpes Gontor sempat merahasiakan kematian santri berusia 17 tahun itu. Akibatnya, kasus ini menjadi ramai setelah ibu korban bernama Soimah melapor kepada pengacara kondang Hotman Paris yang sedang berada di Sumsel.

"Tidak ada kabar sakit ataupun dari anak saya. Tiba-tiba dapat kabar anak saya meninggal di Pesantren Gontor 1 Pak, yang di Jawa Timur," kata Soimah kepada Hotman dikutip dari Urban Id --media 1001 partner kumparan-- di Palembang.

Soimah menuturkan, pada 22 Agustus sekitar pukul 06.45 WIB, dirinya mendapat kabar anaknya meninggal dunia. Namun dirinya baru mendapat kabar 3 jam setelahnya tepatnya pada pukul 10.00 WIB.

"Meninggalnya itu 22 Agustus kemarin, meninggal pukul 06.45 tapi kami baru dikabari pukul 10.00 WIB, awalnya mereka mau bicara sama ayahnya," ucap dia.

Kepada Hotman, Soimah meminta agar diungkap kejanggalan anaknya yang meninggal di Gontor.

Ia menyebut, selama ini anaknya tidak ada kabar sakit atau hal lain. Soimah terkejut karena tiba-tiba mendapat kabar anaknya sudah meninggal di pondok pesantren tempat menimba ilmu.

"Meninggalnya karena dianiaya, saya belum berani melapor karena urusannya kan dengan lembaga besar, jadi saya mohon bapak bantu kami," kata dia.

Soimah menuturkan, ada kejanggalan kematian anaknya yakni saat dimakamkan ada darah di kain kafannya dan di ganti sebanyak dua kali.

"Sudah dimakamkan tapi ada kejanggalan pada kematian anak saya," ucap dia.

instagram embed

Hotman menggugah momen pertemuannya dengan Soimah di akun Instagram pribadinya @hotmanparisofficial. Hotman mengatakan, dirinya melihat langsung foto jenazah sebelum dikebumikan.

“Ibu itu menunjukkan foto kain yang membalut anak itu, penuh darah,” kata Hotman.

Hotman lantas meminta Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta untuk segera mengusut kematian AM.

"Halo Pak Kapolda Jawa Timur, di sini ada seorang ibu yang datang ke saya bertemu Hotman di Palembang, katanya anaknya meninggal di Gontor 1, diduga tindak kekerasan," kata Hotman.

"Mohon Pak Kapolda menyelidiki soal meninggalnya anak Bu Soimah ini, diduga ada penganiayaan," ucap Hotman.

Hotman Paris Hutapea. Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan

Sempat Tulis Surat Terbuka Sebelum Temui Hotman Paris

Namun, jauh sebelum bertemu Hotman, Soimah ternyata sudah menulis surat terbuka terkait kematian anaknya. Ia menulis surat di akun Facebook pribadinya pada 31 Agustus 2022.

Ia meminta keadilan karena meyakini kematian anaknya tidak wajar. Ia juga sempat menceritakan mengapa belum melaporkan kasus ini kepada kepolisian karena masih menunggu penjelasan dari Ponpes Modern Darussalam Gontor dan keluarga pelaku.

Berikut surat yang ditulis oleh Soimah:

Saya selaku Umi dari Albar Mahdi siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Pusat Ponorogo asal Palembang mohon keadilan kepada semua pihak agar bisa membantu saya.

Sungguh miris, tragis, dan menyakitkan hati saya dan keluarga tidak ada kabar sakit atau apa pun itu dari anak saya tiba-tiba dapat kabar dari pengasuhan Gontor 1 telah meninggal dunia pada Senin, 22 Agustus 2022 pukul 10.20 WIB. Padahal di surat keterangan yang kami terima meninggal pukul 06.45 WIB. Ada apa!, rentang waktu itu menjadi pertanyaan keluarga kami.

Karena mendengar berita itu kami syok dan tidak bisa berpikir apa-apa yang kami harap adalah kedatangan ananda ke Palembang meskipun hanya tinggal mayat.

Akhirnya almarhum tiba di Palembang pada Selasa siang, 23 Agustus 2022 diantar oleh pihak Gontor 1 dipimpin ustaz Agus itu pun saya tidak tahu siapa ustaz Agus itu, hanya sebagai perwakilan.

Dihadapan pelayat yang memenuhi rumah saya disampaikan kronologi bahwa anak saya terjatuh akibat kelelahan mengikuti Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum). Apalagi anak saya dipercaya sebagai Ketua Perkajum.

Mungkin alasan itu bisa kami terima bila sesuai dengan kenyataan kondisi mayat anak saya. Tetapi karena banyak laporan dari wali santri lainnya bahwa kronologi tidak demikian, kami pihak keluarga meminta agar mayat dibuka.

Sungguh sebagai ibu saya tidak kuat melihat kondisi mayat anak saya demikian begitu juga dengan keluarga. Amarah tak terbendung kenapa laporan yang disampaikan berbeda dengan kenyataan yang diterima.

Karena tidak sesuai, kami akhirnya menghubungi pihak forensik dan pihak rumah sakit, dan sudah siap melakukan otopsi. Namun, setelah didesak pihak dari Gontor 1 yang mengantar jenazah, akhirnya mengakui bahwa anak saya meninggal akibat terjadi kekerasan.

Saya pun tidak bisa membendung rasa penyesalan saya telah menitipkan anak saya di sebuah pondok pesantren yang notabene nomor satu di Indonesia. Setelah ada pengakuan telah terjadi tindak kekerasan di dalam pondok saya memutuskan untuk tidak jadi melakukan otopsi agar anak saya segera bisa dikubur mengingat sudah lebih dari satu hari perjalanan dan saya tidak rela tubuh anak saya diubrak-abrik.

Keputusan saya untuk tidak melanjutkan ke ranah hukum pada saat itu didasari banyak pertimbangan. Karena itu kami membuat surat terbuka yang intinya ingin ketemu sama Kiai di Gontor 1, pelaku dan keluarganya untuk duduk satu meja ingin tahu kronologis hingga meninggalnya anak kami.

Tapi sampai saya membuat tulisan ini, Rabu 31 Agustus 2022 belum ada kabar atau balasan dari surat terbuka tersebut padahal kami selaku keluarga korban. Saya tidak ingin perjuangan anak saya Albar Mahdi siswa kelas 5i Gontor 1 Ponorogo sia-sia.

Jangan lagi ada korban-korban kekerasan bukan hanya di Gontor tetapi di pondok lainnya hingga menyebabkan nyawa melayang, tidak sebanding dengan harapan para orang tua dan wali santri untuk menitipkan anaknya di sebuah lembaga yang dapat mendidik akhlak para generasi berikutnya.

Semoga tulisan ini membuka mata masyarakat bahwa memperjuangkan kebenaran dibutuhkan keberanian. Dari saya, Soimah wali santri Albar Mahdi bin Rusdi yang masih berharap ini hanya MIMPI dan merasa anak saya belum pulang menimba ilmu. Palembang, 31 Agustus 2022.

Ilustrasi pemukulan. Foto: Shutterstock

Akhirnya Ponpes Gontor Akui Ada Penganiayaan

Ponpes Modern Darussalam Gontor, Ponorogo akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi terkait tewasnya AM.

Pernyataan tertulis itu diterbitkan pada 5 September atau lima hari setelah Soimah menulis surat terbuka di akun Facebook pribadinya dan kasusnya ramai.

Juru bicara Ponpes Gontor Ustaz Noor Syahid menuturkan, diduga ada penganiayaan pada kasus tewasnya AM.

Dalam surat terbuka, disebutkan para pelaku yang menganiaya AM sudah diberi sanksi yakni dikeluarkan dari pondok.

Berikut penjelasan dari Ponpes Modern Darussalam Gontor:

PERNYATAAN RESMI PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR TERKAIT WAFATNYA SANTRI AM DARI PALEMBANG “PERMOHONAN MAAF DAN BELASUNGKAWA ATAS WAFATNYA SANTRI AM DARI PALEMBANG”

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Semoga rahmat, karunia dan ridho Allah SWT selalu tercurah kepada kita semua.

Atas nama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, saya selaku juru bicara pondok, dengan ini menyampaikan beberapa hal terkait wafatnya almarhum AM, santri Gontor asal Palembang, pada hari Senin pagi, 22 Agustus 2022. Yaitu sebagai berikut:

Pertama, kami keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor dengan ini memohon maaf sekaligus berbelasungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya almarhum AM, khususnya kepada orangtua dan keluarga almarhum di Sumatera Selatan.

Kami sangat menyesalkan terjadinya peristiwa yang berujung pada wafatnya almarhum. Dan sebagai pondok pesantren yang concern terhadap pendidikan karakter anak, tentu kita semua berharap agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Kami juga meminta maaf kepada orang tua dan keluarga almarhum, jika dalam proses pengantaran jenazah dianggap tidak jelas dan terbuka. Sekali lagi, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

Kedua, berdasarkan temuan tim pengasuhan santri, kami memang menemukan adanya dugaan penganiayaan yang menyebabkan almarhum wafat. Menyikapi hal ini, kami langsung bertindak cepat dengan menindak/menghukum mereka yang terlibat dugaan penganiayaan tersebut.

Pada hari yang sama ketika almarhum wafat, kami juga langsung mengambil tindakan tegas dengan menjatuhkan sanksi kepada santri yang diduga terlibat, yaitu dengan mengeluarkan yang bersangkutan dari Pondok Modern Darussalam Gontor secara permanen dan langsung mengantarkan mereka kepada orang tua mereka masing-masing. Pada prinsipnya kami, Pondok Modern Darussalam Gontor, tidak mentoleransi segala aksi kekerasan di dalam lingkungan pesantren, apa pun bentuknya, termasuk dalam kasus almarhum AM ini.

Poin ketiga, kami juga siap untuk mengikuti segala bentuk upaya dalam rangka penegakan hukum terkait peristiwa wafatnya almarhum AM ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan, sekali lagi, kami atas nama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya musibah ini. Semoga almarhum dirahmati oleh Allah, dan kita semua selalu mendapatkan ridho-Nya. Amin YRA.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ponorogo, 5 September 2022

Juru Bicara Pondok Modern Darussalam Gontor

Ustadz Noor Syahid

Pondok Pesantren Gontor. Foto: Pembaca kumparan, Darmawan Hadi

Polisi Bicara Penganiayaan di Ponpes Gontor

Polisi akhirnya mengusut kasus ini meski keluarga korban belum membuat laporan resmi.

Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo mengatakan, mereka bakal mengusut dugaan penganiayaan yang menyebabkan AM meninggal dunia.

"Sudah ditindaklanjuti ke pihak Gontor. Tadi malam sudah dilaksanakan pertemuan. Pihak Gontor kooperatif tentang kejadian ini. Ini masih proses lidik (penyelidikan), progres akan kita sampaikan,” kata Catur.

Catur menyebut, polisi sudah memeriksa tujuh saksi. Hasil pemeriksaan diketahui ada dua santri lain yang juga jadi korban penganiayaan.

"Untuk korban ada tiga lah, termasuk yang meninggal dunia," kata dia.

Catur mengatakan, saat ini polisi masih terus melakukan pemeriksaan. Diduga pelaku merupakan santri dan juga senior korban di pesantren tersebut.

"(Pelaku) yang pasti belum (diamankan), kita akan lakukan proses," ucapnya.