Tekad Jadi Pesepakbola Demi Ayah-Ibu yang Tiada karena Siklon Cempaka

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Angger Rio, anak korban longsor Yogyakarta (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Angger Rio, anak korban longsor Yogyakarta (Foto: Ardhana Pragota/kumparan)

Angger Rio Pambudi duduk termenung di samping rumahnya yang hancur tertimbun longsor. Rumah yang berlokasi di Jlagran, Kota Yogyakarta, menjadi salah satu lokasi yang terkena dampak bencana banjir dan longsor akibat siklon tropis Cempaka yang melanda DIY pada Selasa (27/11).

Ia harus kehilangan ayahnya Subarjono (69), ibunya Ambar Tri Lestari (40), dan keponakannya Aurora Tanti Anindito yang masih berusia 3 bulan. Angger masih duduk di kelas XI SMK Negeri 3 Yogyakarta mengambil jurusan Teknik Permesinan. Selain belajar permesinan, ia tengah menapaki karier sebagai pemain sepak bola.

Cita-cita menjadi pemain sepak bola didukung penuh oleh ayahnya yang berprofesi sebagai tukang parkir di kawasan Malioboro. Sejak kelas 3 SD, ayah dan ibu selalu mendukung bakat Angger.

Salah satu kenangan Angger dan sang ayah yang paling ia ingat adalah pertandingan sepak bola empat tahun lalu. Saat itu, ia tengah berlaga membela panji SSB GAMA Yogyakarta di final Piala Walikota tahun 2013. Subarjono menjanjikan uang Rp 50 ribu jika dia berhasil mencetak gol dan membawa SSB GAMA juara.

“Bapak berjanji untuk ngasih uang jika saya bisa cetak gol. Saya mewujudkan keinginannya,” ucapnya ketika ditemui kumparan (kumparan.com).

Satu gol Angger berhasil membawa SSB GAMA juara. Ayahanda membayar janjinya untuk memberi hadiah uang. Namun, kenangan sore itu lebih dari sekadar hadiah uang senilai Rp 50 ribu. Subarjono percaya akan cita-cita anaknya yang ingin menjadi pesepakbola, meski tidak memperoleh jaminan kemakmuran seperti profesi lainnya.

Pada tahun 2016, Angger yang masuk tim U-17 PSIM Yogyakarta. Ia dipercaya untuk menempati posisi penyerang dan berlaga di kualifikasi Piala Soeratin. Cita-cita memang belum sepenuhnya terwujud dan Angger perlu bekerja keras. Namun, ia tidak sendirian. Ayah dan ibu selalu hadir dari pinggir lapangan ketika Angger berlaga mengenakan seragam biru Laskar Mataram.

Setiap kali berlaga, Angger dan orang tuanya berangkat bersama menuju lapangan Mancasan, tempat dilangsungkannya pertandingan PSIM U-17. Kehadiran orang tuanya diakui melecut semangat bermainnya. Hingga akhirnya lelaki berusia 17 tahun ini ini berhasil membawa PSIM U-17 ke final wilayah Piala Soeratin 2016. Ia selalu menjadi pilihan pelatih untuk menjadi ujung tombak serangan.

Angger Rio membela PSIM U-17 (Foto: Dok. Angger Rio Pambudi)
zoom-in-whitePerbesar
Angger Rio membela PSIM U-17 (Foto: Dok. Angger Rio Pambudi)

Meninggalnya ayah dan ibu Angger dalam bencana tentu menyisakan kesedihan yang begitu besar. Tapi, Angger sama sekali tak larut dalam kesedihan. Tuturnya masih tegas tanpa senggukan tangis ketika menceritakan ayahnya.

Bagi Angger, mengenang orang tuanya berarti melanjutkan perjuangan yang telah ia rintis. Yang ada di pikiran Angger saat ini adalah mewujudkan cita-cita ayahnya untuk melihat anak nomor duanya mengenakan seragam tim PSIM senior.

“Hidup itu halangannya pasti ada Mas. Ini semua jadi motivasi saya bahwa kelak harus mewujudkan cita-cita bapak yang ingin saya jadi pemain PSIM,” ujarnya.

Ia cukup beruntung karena lingkungan ikut menyangga kekuatannya. Tetangga-tetangganya untuk menguatkan Angger dan terus merawat cita-citanya. "Bocahe saben esuk tak kon mlayu ra ketang 30 menit, tak kon mangan ben lemu sitik," ujar seorang lelaki tua yang tiba-tiba menyela obrolan kami. Lelaki itu meminta Angger untuk lari pagi dan makan lebih banyak agar gemuk.

Angger mengaku bahwa tubuhnya terlalu kurus. Menempati posisi sebagai penyerang sayap kanan, kecepatan menjadi andalannya. Nasihat lelaki tadi masuk akal untuk mengasah kemampuannya menjadi penyerang sayap yang hebat.

Badai kemarin telah berlalu. Ia masih harus berlari mengejar bola dan menggiring cita-citanya.