Tembakan Pecah di Senat Filipina, Marcos Jr. Gelar Rapat Darurat
ยทwaktu baca 2 menit

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menggelar rapat darurat dengan pejabat keamanan pada Kamis (14/5), sehari setelah suara tembakan terdengar di gedung Senat Filipina.
Insiden terjadi saat Senator Ronald dela Rosa alias Bato (64), mantan kepala polisi sekaligus tokoh utama "perang narkoba" era Rodrigo Duterte, berlindung di kompleks Senat karena khawatir ditangkap terkait kasus di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Reuters melaporkan, suara tembakan terdengar pada Rabu (13/5) malam dan membuat orang-orang di dalam gedung panik serta mencari perlindungan.
Insiden itu terjadi beberapa jam setelah Dela Rosa meminta para pendukungnya berkumpul karena aparat disebut akan menangkapnya di Senat.
Marcos Jr. meminta publik tetap tenang dan menegaskan tidak ada personel pemerintah yang terlibat dalam insiden tersebut.
"Tidak ada laporan korban jiwa sejauh ini," kata Marcos dalam pesan videonya.
"Kami akan mengusut tuntas ini. Apakah insiden ini bagian dari upaya destabilisasi? Kami perlu mengetahuinya," lanjutnya.
Polisi Filipina mengatakan satu orang telah ditahan dan penyelidikan masih berlangsung.
Petugas juga menemukan selongsong peluru, magasin senapan serbu, dan sejumlah barang lainnya di lokasi.
Dela Rosa dicari ICC atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan, kasus yang sama dengan yang menjerat Duterte terkait perang narkoba berdarah di Filipina.
Dalam wawancara dengan DZBB, Dela Rosa mengatakan dirinya akan menggunakan semua jalur hukum untuk mencegah pemindahannya ke ICC di Den Haag.
"Saya akan menggunakan semua upaya hukum yang tersedia," kata Dela Rosa, seperti dikutip dari Reuters.
Ia juga mengaku berubah pikiran soal menghadapi proses hukum di Den Haag setelah mengetahui kondisi penahanan Duterte.
Sementara itu, Wakil Presiden Filipina Sara Duterte menuding pemerintahan Marcos memakai seluruh sumber daya negara untuk menghancurkan lawan politik.
"Itulah yang mereka coba lakukan sekarang terhadap Senator Bato dela Rosa," kata Sara Duterte dari Den Haag, tempat ia sedang menemui ayahnya.
Situasi politik Filipina belakangan semakin memanas setelah Sara Duterte dimakzulkan awal pekan ini, yang berpotensi mengganggu peluangnya maju dalam pemilu presiden 2028.
