Tempe 2 Kali Gagal jadi Budaya Tak Benda Asli Indonesia di UNESCO

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tempe. Foto: wisely/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tempe. Foto: wisely/Shutterstock

Tempe dua kali gagal jadi Budaya Tak Benda Asli Indonesia di Unesco. Forum Tempe Indonesia (FTI) sebuah lembaga independen yang beranggotakan akademisi, individu, dan masyarakat telah mengajukan 2 kali ke Unesco tapi tak kunjung lolos.

"Dalam hal pengajuan tempe menjadi Budaya Tak Benda Asli Indonesia ke Unesco. Jujur 2 kali kita masuk ke Unesco tapi kita kalah karena publikasi kita yang kurang," kata Sekjen FTI Muhammad Ridha ditemui di Sleman, Kamis (23/11).

Ke depan diperlukan promosi lebih banyak sisi-sisi positif tempe. Baik dari sisi berkelanjutan, ekonomi, maupun sisi budaya.

"Mendorong agar tempe ini betul-betul bisa menjadi produk pangan dan produk budaya asli Indonesia yang saat ini juga di luar negeri itu sangat mulai dikenal dan mendapat perhatian yang cukup besar dari kawan-kawan vegan khususnya," katanya.

"Kita berharap slogan tempe from Indonesia to the world, tempe adalah hadiah Indonesia untuk dunia ini betul-betul bisa diwujudkan," bebernya.

Ridha mencontohkan hal serupa di Korea Selatan di mana kimchi juga didaftarkan sebagai budaya tak benda asli Korea.

"Di mana kimchi itu sendiri menjadi sebuah budaya mereka. Tapi apakah kimchi selalu diproduksi tradisional? Tidak juga. Jadi penggunaan material plastik dengan alasan tertentu, keamanan pangan, praktis dari sisi food safety, itu mungkin masih belum bisa terhindarkan untuk saat ini tapi di baliknya itu, bagaimana tempe ini menjadi proses yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi kehidupan," jelasnya.

Lanjutnya, tempe mayoritas dijalankan keluarga bukan oleh industri besar. Pemerintah pun telah mengatur tempe untuk UMKM.

"Tapi di situlah kekuatan tempe. Karena industri ini tumbuh di kalangan keluarga dan dijalankan oleh keluarga maka sangat dekat sekali dengan kehidupan masyarakat. Beda sekali dengan yang lain yang semuanya diindustrialisasi," jelasnya.

"Itulah yang ingin kami angkat bahwa tempe ini menjadi sebuah warisan budaya di mana nilai-nilai budaya kebersamaan, kerja sama antara keluarga, suami istri, dan lain sebagainya. Itulah sebenarnya yang pengin kita capture dalam aspek budaya di tempe itu," pungkasnya.