Temui Pelaku UMKM, Gibran Dipakaikan Topi dan Songket Khas NTT di Labuan Bajo
ยทwaktu baca 2 menit

Cawapres nomor urut 02, Gibran Rakabuming Raka, menemui para pelaku UMKM dan para pemuda di Escape Coffee, Labuan Bajo, NTT. Dalam kunjungan itu, Gibran dipakaikan topi hingga kain tenun khas NTT.
Gibran hadir dengan ditemani istrinya, Selvi Ananda. Keduanya kompak mengenakan baju berwarna biru.
Setibanya di lokasi, Gibran dan Selvi disambut para pelaku UMKM dan pemuda yang telah menunggunya. Kemudian, mereka juga menemui musisi dan seniman yang turut hadir di lokasi.
Saat kunjungan itu, Gibran dipakaikan topi ronde sebagai bentuk persaudaraan. Pemberian topi itu sendiri sebagai simbol pemuda yang bersemangat dan juga beriman.
"Kami ingin memberikan topi ronde, kalau orang lain memakai atau menggunakan topi ronde di tempat lain ini adalah tanah timur Nusa Tenggara Timur. Secara persaudaraan kami ingin memberikan topi ini kepada Mas Gibran yang memiliki makna filosofis yang mendalam," ujar pembawa acara di lokasi.
Dalam diskusi tersebut, Gibran mengatakan berdiskusi terkait ekonomi kreatif, pertanian, promosi wisata dan keluhan masalah anak muda. Selain itu, dirinya juga dicurhati masalah pemerataan pembangunan.
"Ya terkait ekonomi kreatif, terkait pertanian, terkait juga masalah promosi wisata, ya ada beberapa keluhan terutama dari anak-anak muda yang misalnya masalah pemerataan pembangunan, masalah promosi wisata, masalah pertanian juga," ujarnya.
Gibran mengatakan keluhan tersebut nantinya akan dicarikan solusi. Sejauh ini, kata dia, keluhan terbanyak seputar pemerataan pembangunan.
"Nanti coba kami carikan solusi. Tapi, yang banyak kami tampung dalam 2 hari ini itu semuanya terkait pemerataan pembangunan," sebutnya.
Selain itu, Gibran juga dikenakan songket mata manuk dengan filosofi sebagai ayam jantan yang memiliki penglihatan yang tajam dan pemberi kabar kepada dunia. Tenun itu sendiri dihasilkan dalam kurun waktu 6 bulan secara manual.
"Songket mata manuk ini ditenun dengan menggunakan tangan dan estimasi waktu untuk menghasilkan satu tenunan itu minimal satu bulan dan maksimal 6 bulan," kata dia.
"Bagi kita, anak-anak muda maupun khususnya pria memiliki pertajaman dengan tenun songket memberikan harapan dan motivasi agar kita menjadi ayam jantan yang memiliki penglihatan tajam dan memberikan kabar kepada dunia," tambahnya.
