Tentang Tempat Sakral Alun-alun Suryakencana yang Jadi Lokasi Foto Bugil 2 Pria
·waktu baca 2 menit

Alun-alun Suryakencana di Gunung Gede Pangrango bukan hanya sebatas padang rumput, tanah lapang, atau edelweiss saja.
Alun-alun Suryakencana sebuah dataran luas pada ketinggian 2.750m dpl, dan berada di sebelah timur puncak Gede, bagi masyarakat Jawa Barat punya sejarah dan kisahnya sendiri.
Dari berbagai sumber, nama Suryakencana sendiri merujuk pada Pangeran Suryakencana, putra dari Pangeran Aria Wiratanudatar yang juga pendiri Kota Cianjur.
Pangeran Suryakencana menyepi di Gunung Gede bersama keluarganya. Hingga kemudian kawasan itu dikenal sebagai Alun-alun Suryakencana.
Di kawasan Alun-alun Suryakencana itu juga banyak terdapat jejak sejarah yang diyakini sebagai peninggalan Suryakencana.
Bukan hanya kisah Pangeran Suryakencana. Di kawasan Gunung Gede juga ada cerita tentang Prabu Siliwangi.
Kala pasukannya semakin terdesak menghadapi gempuran kerajaan Islam, Prabu Siliwangi salah satu kisahnya bersembunyi di Gunung Gede Pangrango.
Dengan berbagai macam cerita sejarah dan legenda di kawasan Alun-alun Suryakencana ini, tak heran kalau ada 2 pria yang foto bugil di kawasan itu, membuat pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) meradang.
"Lokasi yang diindikasi dalam foto tersebut (Alun-alun Suryakencana – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) merupakan lokasi yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Cianjur," kata Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto dalam siaran pers, Kamis (22/10).
Oleh karena itu BBTNGGP bersama masyarakat sekitar kawasan meminta kepada mereka agar menghapus unggahan foto asusila tersebut dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial yang bersangkutan kepada masyarakat Jawa Barat
Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto
Belum diketahui kapan 2 pendaki itu mengambil gambar bugil di kawasan Alun-alun Suryakencana.
"Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dilarang melakukan perbuatan yang melanggar kesopanan, perbuatan yang meresahkan, perbuatan tidak menyenangkan, perbuatan asusila atau perbuatan lain yang sejenis," tambah Wahju.
Seorang pendaki tentu paham bagaimana berperilaku di alam bebas, menjaga kesopanan dan etika.
Jangan meninggalkan sesuatu di gunung kecuali jejak. Tentunyanya bukan jejak digital yang buruk.
