Kisah 'Boss' Red Bull: Tabrak Mati Polisi Lalu Santai ke Luar Negeri

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pewaris takhta Red Bull, Vorayuth Yoovidhya. (Foto: The Associated Press)
zoom-in-whitePerbesar
Pewaris takhta Red Bull, Vorayuth Yoovidhya. (Foto: The Associated Press)

Seorang pengemudi mobil Ferarri di Thailand yang diduga melakukan aksi tabrak lari hidup bebas dalam kemewahan sebagai pewaris takhta brand minuman ternama, Red Bull. Dia adalah si Boss. Usai menabrak pengendara motor yang merupakan seorang polisi bernama Wichean Glanprasert, Vorayuth "Boss" Yoovidhya, pewaris takhta Red Bull, hidup bebas selama lima tahun. Padahal jelas-jelas dia sebagai pelaku penabrakan berdasarkan sejumlah barang bukti.

Dirilis Associated Press, kisah ketidakadilan hukum di Thailand ini menjadi sorotan publik. Pada kecelakaan tersebut, tubuh Wichean terseret ratusan meter, sebelum kemudian mobil Ferrari yang dikendarai Yoovidhya menghilang.

Mobil yang digunakan saat menabrak Wichean. (Foto: The Associated Press)
zoom-in-whitePerbesar
Mobil yang digunakan saat menabrak Wichean. (Foto: The Associated Press)

Polisi yang kemudian melakukan investigasi, mengikuti jejak rem mobil dari TKP yang kemudian membawa mereka ke kediaman sang pewaris takhta Red Bull di Thailand. Polisi sendiri sudah beberapa kali memanggil Yoovidhya untuk menjalani proses hukum, namun ia berdalih dengan seribu alasan mulai dari sakit, pergi ke luar negeri untuk bisnis dan alasan lainnya. Sampai lima tahun berjalan kasus tersebut tak pernah terselesaikan. Si Boss tak pernah dihukum.

Vorayuth "Boss" Yoovidhya. (Foto: The Associated Press)
zoom-in-whitePerbesar
Vorayuth "Boss" Yoovidhya. (Foto: The Associated Press)

Bahkan, beberapa pekan setelah kecelakaan nahas tersebut, Yoovidhya masih menikmati kemewahan hidup sebagai pewaris takhta Red Bull. Ia terbang dengan jet pribadi, muncul di deretan kursi VIP dan menonton balapan tim Red Bull, dan berkendara dengan Porsche Carrera hitam di London dengan pelat mobil khusus bertuliskan B055 RBR, singkatan dari Boss Red Bull Racing.

Wichean Polisi Baik

Pornanan Glanprasert, saudara kandung dari Wichean Glanprasert tidak pernah menduga, kematian adik bungsunya begitu nahas. Bak kisah-kisah film yang mengharukan, Pornanan menceritakan bagaimana sang adik merupakan satu-satunya yang bisa bersekolah dan pergi ke luar dari kebun kelapa di desa dan bekerja di pemerintahan. “Ia membiayai semua kebutuhan orang tua kami hingga mereka meninggal dan membayar biaya perawatan kakak perempuannya yang terkena kanker. Ia tidak punya anak, tapi berencana untuk membiayai sekolah keponakannya hingga kuliah. Ia bahkan sering bercanda pada keponakannya bahwa kelak mereka yang akan merawatnya saat tua,” tulis Associated Press.

Vorayuth Yoovidhya dan keluarganya. (Foto: The Associated Press)
zoom-in-whitePerbesar
Vorayuth Yoovidhya dan keluarganya. (Foto: The Associated Press)

Kehidupan keluarga sederhana ini pun hancur saat kabar duka menghampiri mereka pada 3 September 2012. Wichean Glanprasert dilaporkan menjadi korban kecelakaan tabrak lari di Sukhumvit Road, Bangkok. Kecelakaan berdarah yang menjadi headline di berbagai media nasional Thailand selama berhari-hari. Komisaris Polisi Comronwit Toopgrajank menjanjikan keadilan.

“Kami tidak akan membiarkan polisi ini mati tanpa keadilan,” ujarnya saat kasus tersebut masih menjadi bola panas. Ia menambahkan keadilan dan kebenaran pasti terungkap.

Sayangnya hal tersebut tidak juga terjadi hingga ia pensiun pada 2014 silam. “Saya kecewa,” ujarnya.

Keluarga besar pewaris Red Bull di Thailand. (Foto: The Associated Press)
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga besar pewaris Red Bull di Thailand. (Foto: The Associated Press)

Yoovidhya dikabarkan memberikan uang kompensasi kepada keluarga Wichean Glanprasert senilai $100.000 dolar atau setara dengan Rp 1.331.800.000. Uang tersebut harus dibayar dengan menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa keluarga Wichean tidak akan menuntut atau mengambil tindakan hukum apapun. Pornanan mengungkap uang tersebut masih ada di bank. Ia menyebutnya sebagai uang berdarah. Juru bicara kepolisian Kolonel Krissana Pattanacharoen mengatakan pihaknya telah melakukan segala daya dan upaya untuk menahan Yoovidhya dan mereka juga sudah menginformasikan kepada pengacara Yoovidhya bahwa ia harus muncul di kantor kejaksaan untuk mendengar dakwaan pada 30 Maret 2017. "Saya tidak mengatakan ini adalah kasus di mana orang kaya bisa bebas dari hukum,” kata Krissana. "Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi apa yang ingin saya bisa jawab adalah, jika Anda melihat tenggat waktu di sini dan apa yang kita lakukan, sejauh ini tidak ada yang salah dari penyelidikan kasus ini," tambah Krissana.

Vorayuth Yoovidhya.
zoom-in-whitePerbesar
Vorayuth Yoovidhya.

Prayuth Petchkhun, juru bicara kantor kejaksaan, mengatakan kasus ini sedang dikaji karena penyelidikan tambahan diperlukan. Namun ia sendiri tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan ‘penyelidikan tambahan’ tersebut. Profesor hukum Universitas Thammasat, Pokpong Srisanit mengatakan situasi ini ‘tidak normal’. "Ada masalah dengan hukum Thailand," katanya.

Pewaris takhta Red Bull  Vorayuth Yoovidhya. (Foto: The Associated Press)
zoom-in-whitePerbesar
Pewaris takhta Red Bull Vorayuth Yoovidhya. (Foto: The Associated Press)

Ini bukanlah kasus pertama 'orang kaya' bebas dari jerat hukum di Thailand. Tahun lalu seorang anak dari pengusaha kaya raya di Thailand menghantam mobil lain dengan Marcedes Benznya pada kecepatan tinggi. Kecelakaan ini menyebabkan dua orang meninggal dunia. Kasusnya masih ditunda di pengadilan. Pada 2010 seorang remaja di bawah umur menabrak sebuah mobil dan menyebabkan sembilan nyawa melayang. Remaja tersebut datang dari keluarga berpengaruh. Ia mendapat dua tahun masa percobaan dan tidak menyelesaikan masa hukuman layanan sosialnya hingga tahun lalu.