Tersangka Pembunuh Sebenarnya Tidak Mengincar Shinzo Abe
ยทwaktu baca 2 menit

Kepolisian Jepang mengungkap pada Jumat (8/7/2022), tersangka pembunuh mantan Perdana Menteri, Shinzo Abe, mengaku menaruh dendam terhadap organisasi yang dia yakini memiliki hubungan dengan Abe.
Pihak berwenang menolak menjelaskan organisasi yang dimaksud. Pihaknya bahkan tidak yakin bahwa kelompok itu sungguh nyata.
Tersangka dilaporkan telah berulang kali membuat pernyataan yang tidak masuk akal. Polisi Prefektur Nara sedang menyelidiki kondisi mentalnya untuk menentukan pertanggungjawaban pidana.
Polisi mengatakan, dendam tersangka tampaknya bukan bersifat politik. Seorang sumber menerangkan, tersangka sebenarnya bermaksud menargetkan seorang pejabat senior dalam sebuah kelompok agama.
"Saya bermaksud menargetkan pejabat senior [kelompok] ini," ujar tersangka, dikutip dari Mainichi Shimbun, Sabtu (9/7/2022).
Selama interogasi, tersangka menyebutkan nama organisasi dan individu yang menjadi sasarannya. Namun, pejabat yang disebutkan namanya itu tidak berada di tempat kejadian saat pembunuhan berlangsung. Tersangka lantas mengalihkan perhatian pada Abe.
"Tersangka menyatakan bahwa dia menyimpan dendam terhadap organisasi tertentu, dan bahwa dia melakukan kejahatan karena dia yakin mantan perdana menteri Abe memiliki hubungan dengan organisasi itu," jelas seorang perwira polisi senior di Nara, dikutip dari NDTV.
Otoritas telah mengidentifikasi tersangka sebagai Tetsuya Yamagami. Pria berusia 41 tahun itu menggunakan senjata rakitan.
"Itu pernyataan tersangka, dan kami telah menentukan bahwa [pistol] itu jelas-jelas buatan sendiri, meskipun analisis kami saat ini sedang berlangsung," kata seorang petugas kepolisian, dikutip dari AFP.
Yamagami terlihat memegang benda hitam berbentuk kotak besar di tempat kejadian. Senjata itu tampaknya memiliki dua barel.
Petugas kemudian menggeledah rumah tersangka. Pihaknya menyita sejumlah barang yang diduga merupakan senjata buatan sendiri. Mereka menemukan bahan peledak dan senjata rakitan.
Menjalani interogasi dengan tenang, Yamagami mengatakan, dia sempat bergabung dalam Pasukan Bela Diri Maritim Jepang.
Yamagami bertugas dalam angkatan laut Jepang itu selama tiga tahun hingga Agustus 2005. Dia lalu bekerja di sebuah pabrik di wilayah Kansai sejak 2020. Tetapi, dia mulai menganggur pada Mei lalu.
Yamagami juga mengakui, dia mengetahui tentang kunjungan Abe secara daring. Atas hal itu, polisi segera menyelidiki kemungkinan masalah keamanan selama acara kampanye ketika pembunuhan itu terjadi.
"Kami akan mengambil tindakan yang tepat bila masalah ditemukan," tegas kepolisian.
