Tersinggung Ucapan Paman, Pria di Tangsel Nekat Bongkar Makam Ibunya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menunjukkan lokasi makam ibunda Agus usai digali pada Sabtu malam (9/5/2026). Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menunjukkan lokasi makam ibunda Agus usai digali pada Sabtu malam (9/5/2026). Foto: Istimewa

Sebuah kejadian tidak biasa menggegerkan warga di kawasan Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Sengkol, Kelurahan Muncul, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Sabtu malam (9/5/2026). Seorang pria bernama Agus (25) nekat membongkar makam ibu kandungnya sendiri setelah tersulut emosi akibat ucapan sang paman.

Kejadian ini bermula dari perselisihan rumah tangga. Agus yang selama ini tinggal dan diasuh oleh pamannya sejak usia empat tahun mendapat teguran dari istri sang paman agar menjaga kebersihan kamar tidurnya.

Merasa tersinggung, Agus justru memarahi istri pamannya yang kemudian memancing emosi sang paman.

Dalam kondisi marah, sang paman mengeluarkan ucapan bernada sindiran kepada Agus yang memintanya pergi dari rumah dan membawa serta makam orang tuanya sekalian. Ucapan yang awalnya hanya sindiran itu ditanggapi serius oleh Agus.

Tanpa bisa dicegah, Agus langsung pergi menuju TPBU Sengkol dan mulai menggali makam ibunya usai Magrib.

Warga, pengurus RT, RW, tokoh masyarakat, hingga ustaz setempat berusaha menghentikan aksi tersebut. Namun, Agus tidak menghiraukan satu pun ajakan untuk berhenti.

Sekretaris Kelurahan Muncul, Muhammad Ali, mengatakan pihaknya sudah berupaya mengajak Agus berbicara, namun tidak berhasil karena emosinya sudah telanjur memuncak.

"Kita sudah ajak ngobrol, tidak didengar karena emosinya sudah tinggi. Akhirnya kami ketua RT, ketua RW, beberapa tokoh masyarakat, ustaz, serta pengurus makam sepakat untuk meninggalkan beliau," ujar Ali kepada wartawan, Senin (11/5).

Agus nekat membongkar makam ibunya karena tersinggung ucapan paman, Sabtu malam (9/5/2026). Foto: Istimewa

Sebagai upaya menghambat, warga dan petugas memutus aliran listrik di seluruh area pemakaman. Namun, Agus tetap melanjutkan penggalian dalam kegelapan.

"Setelah kita tinggalkan setengah jam kemudian, beliau sudah tidak ada di tempat. Dan kita lihat makam sudah digali hampir 60 sentimeter," tambah Ali.

Menurut Ali, ucapan sang paman sebenarnya hanya bentuk sindiran kekesalan seseorang yang sudah merawat keponakannya sejak kecil. Namun, karena situasi sudah memanas, Agus menanggapinya secara serius.

Kasus ini ditangani pihak kelurahan bersama aparat setempat melalui jalur mediasi.

Kedua pihaknya akhirnya damai. Makam yang sempat digali sedalam 60 cm itu kini sudah diperbaiki.