Terungkap di CCTV: Peneror Rumah di Sidoarjo Adalah Tetangga, Kerabat Sendiri

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
CCTV yang dipasang Najunda Duhita warga Sidoarjo. Dok: Ist.
zoom-in-whitePerbesar
CCTV yang dipasang Najunda Duhita warga Sidoarjo. Dok: Ist.

Rumah warga di Sidoarjo mendapat teror pelemparan batu dan pecahan genting.

Pemilik rumah, Najunda Duhita, yang resah dengan teror tersebut lantas memasang CCTV. Terungkap bahwa pelaku teror merupakan tetangga yang merupakan kerabatnya sendiri.

"Tanggal 8 Oktober lalu saya memutuskan memasang CCTV, posisi sudah sering terjadi pelemparan. Saya sengaja pasang untuk mengumpulkan bukti," kata Najun saat dikonfirmasi, Selasa (16/1).

Menurut Najun, motif pelaku meneror itu karena kesal atas pendirian tembok di depan rumah. Yang mendirikan tembok adalah pihak Najun.

"Seharusnya rumah tersebut menghadap ke barat, tetangga-tetangga lain rumahnya hadap ke barat karena memang akses utama jalan desa ada di sebelah barat, hanya rumah dia yang menghadap ke timur ke pekarangan saya," ucapnya.

Tembok Sempat Dibongkar

Najun menuturkan, awalnya tembok itu tak setinggi yang sekarang. Bahkan sempat ada akses pintu keluar masuk di tembok tersebut yang dipasang keluarganya.

"Orang tua saya kasihan jadilah tembok dibongkar untuk memberi mereka akses selebar halaman saya. Bertahun-tahun diberi akses tapi mereka semena-mena, meskipun saya beri jalan si pelaku tetap lempar-lempar batu besar, kadang marah-marah sambil bawa-bawa celurit," bebernya.

"Dulu halaman samping rumah saya sudah ada pintu seng, tapi setelah ibu meninggal (2011) pintu itu tiba-tiba hilang entah bagaimana ceritanya," tambahnya.

Pintu keluar masuk yang dipasang keluarganya, lanjut Najun, hilang dan tak diketahui keberadaanya. Orang lain juga sembarangan keluar masuk pekarangan rumahnya.

Karena merasa khawatir ada aksi kejahatan, keluarga Najun lalu memasang pintu dari besi. Saat itu, pelaku malah mengancam keluarganya.

"Setelah pintu seng hilang, rumah saya tiba-tiba jadi jalan umum (jalan tikus) dan banyak dilewati orang-orang asing. Selain itu saya juga pernah dapat ancaman pembacokan dari 2 laki-laki dari dusun sebelah karena saya melarang mereka untuk lewat karena saya sedang membersihkan halaman," ujarnya

"Lalu 2020 saya pindah untuk kos di Gresik, tinggal kakak saya dan suaminya di rumah itu. Karena suaminya juga bekerja di Gresik, jadi hanya kakak saya yang sendirian di situ. Untuk alasan keamanan, saya kembali memasang pintu besi," tambahnya.

Pelaku Ancam Putus Hubungan Keluarga

Seiring berjalannya waktu, Najun mengaku permasalahan dengan pelaku semakin runyam. Pelaku yang juga kerabatnya itu sempat mengancam memutus hubungan persaudaraan.

"Tahun 2021 kami cekcok dengan pelaku karena beliau marah-marah sambil bawa celurit dan merobohkan kandang kucing saya 2 kali, yang pertama saya diamkan, yang kedua saya lawan. Waktu saya lawan, anak dari pelaku keluar dan bilang kalo saya tidak sopan. Lalu anak si pelaku memutuskan tali persaudaraan," bebernya.

Setelah pelaku memutus hubungan keluarga, keluarga Najun lalu memasang tembok tinggi dan menutup pintu masuk.

"Karena saya merasa diputus tali, yaudah saya bilang kalo mau nembok lagi karena percuma. Setelah saya bilang akan menembok, anak dari pelaku bilang 'silakan ditembok aku gak takut'," ucapnya.

Keluarga Najun telah melaporkan kasus itu ke kepolisian tepatnya pada Kamis (11/1).

"Sampai akhirnya tanggal 11 Januari saya melaporkan ke Polresta Sidoarjo," ujarnya.

Sementara itu, Kasi Humas Polresta Sidoarjo Iptu Tri Novi Handono mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait teror pelemparan batu tersebut.

"Korban buat pengaduan ke polres tanggal 12," ujar Novi.