Tesso Nilo Sempat Memanas, Petugas Penertiban Hutan Diusir

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hutan Alam Taman Nasional Tesso Nilo. Foto: Instagram/@btn_tessonilo
zoom-in-whitePerbesar
Hutan Alam Taman Nasional Tesso Nilo. Foto: Instagram/@btn_tessonilo

Ketegangan sempat kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Jumat (21/11).

Massa memaksa petugas penertiban hutan keluar dari beberapa pos pengamanan, termasuk Pos 9, Pos 10, Pos Kotis, hingga Pos Kenayang.

Situasi itu menyusul aksi unjuk rasa massa anti-penertiban kawasan hutan di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau pada Kamis (20/1).

Kepala Balai TNTN, Heru Sumantoro, menjelaskan aksi massa ini dipicu ketidakpuasan warga atas jawaban dari tim Satgas Penanganan Kawasan Hutan (PKH) saat dialog berlangsung.

“Massa menilai jawaban Satgas PKH tidak memuaskan, sehingga mereka melampiaskan kemarahan dengan mengusir tim satgas dari kawasan TNTN,” ujar Heru.

Heru menyampaikan Tim Balai TNTN sempat melakukan koordinasi dengan perangkat Dusun Kuala Renangan untuk menggali informasi. Namun, seluruh perangkat desa seperti kepala dusun, RW, dan RT tidak berada di rumah.

Ketiadaan perangkat desa membuat tim tidak memperoleh keterangan langsung terkait aksi massa yang terjadi.

Lanjut Heru, tim kemudian bergerak menuju Pos 9 di Dusun Kuala Renangan. Informasi dari warga setempat menguatkan bahwa aksi massa dilakukan karena kekecewaan terhadap jawaban Satgas PKH.

Saat melanjutkan penelusuran ke Dusun Toro Jaya untuk berkoordinasi dengan kepala dusun, tim kembali tidak menemukan aparat desa. Dari keterangan warga sekitar Pos 10, massa yang mengusir personel TNI disebut didominasi warga dari Bukit Kesuma, atau masyarakat dari luar kawasan TNTN.

“Warga Dusun Toro Jaya dan Toro Palembang yang tinggal dalam kawasan TNTN justru tidak ikut dalam aksi pengusiran tersebut,” jelas Heru.

Aksi massa sebelumnya juga merusak sarana prasarana di Pos 14 Kotis. Massa membawa dan menurunkan barang-barang tersebut, seperti plang, tenda TNI, dan pondok semi permanen, ke Kantor Seksi PTN I di Lubuk Kembang Bunga.

Tim Balai TNTN bersama personel TNI kemudian memperkuat penjagaan di Pos 11, Pos 12, dan Pos 13. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa massa kemungkinan akan kembali melakukan pengusiran paksa di pos-pos tersebut.

Meski demikian, Heru memastikan kondisi lapangan hingga saat ini masih terkendali.

Di tengah situasi memanas, pendataan masyarakat yang menguasai lahan dalam kawasan TNTN terus dilakukan oleh Pokja I TP2E Provinsi Riau. Berdasarkan rekap per 19 November 2025, tercatat ribuan kepala keluarga (KK) dan ribuan hektare lahan yang telah didata:

• Bagan Limau: 1.071 KK (2.571,67 Ha)

• Kusuma: 98 KK (361,64 Ha)

• Lubuk Batu Tinggal: 14 KK (45,89 Ha)

• Lubuk Kembang Bunga: 591 KK (1.763,47 Ha)

• Air Hitam: 202 KK (711,90 Ha)