TGIPF Bertemu Perwakilan Suporter Bola, Janji Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puluhan syal Arema FC dan bunga dari warga diletakkan di sekitar Patung Singa Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Selasa (4/10/2022). Foto: Zabur Karuru/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Puluhan syal Arema FC dan bunga dari warga diletakkan di sekitar Patung Singa Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Selasa (4/10/2022). Foto: Zabur Karuru/ANTARA FOTO

Perwakilan suporter sepak bola seluruh Indonesia mendatangi Kantor Kemenko Polhukam untuk beraudiensi langsung dengan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) terkait peristiwa kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Menurut anggota TGIPF Kurniawan Dwi Yulianto, para suporter menyampaikan saran hingga unek-unek terkait persepakbolaan di Indonesia. Unek-unek itu akan menjadi masukan dan dibahas oleh TGIPF.

”Alhamdulillah hari ini kita bertemu dengan teman-teman suporter semua dan sangat banyak sekali unek-unek yang disampaikan oleh teman-teman suporter dan masukan-masukan yang akhirnya nanti akan kita diskusikan dengan tim dan menjadi bahan evaluasi kita sebelum mendapatkan suatu kesimpulan yang akan kita umumkan pada saatnya nanti,” ujar Kurniawan dalam pernyataannya di Kantor Kemenko Polhukam, Kamis (6/10).

video youtube embed

Senada dengan Kurniawan, Akmal Marhali yang merupakan anggota TGIPF dari Save Our Soccer, menyatakan bahwa perwakilan suporter juga turut mendorong TGIPF untuk mengusut tuntas masalah di balik terjadinya kericuhan pada laga Arema FC vs Persebaya Surabaya beberapa waktu lalu.

”Mengamanatkan kepada tim pencari fakta untuk mengusut tuntas segala kasus yang terjadi dan juga menegakkan semua aturan-aturan yang sudah ada, dan yang paling penting disampaikan tadi adalah bahwa bagaimana ke depannya sepakbola Indonesia ini menjadi lebih baik,” ucap Akmal.

”Mereka menyampaikan pemikiran-pemikiran mereka, upaya menyelamatkan sepakbola kita dari masalah yang selama ini terjadi termasuk di antaranya adalah menyampaikan agar kasus tragedi kanjuruhan atau meninggalnya suporter di lapangan sepakbola tidak terjadi lagi ke depannya,” lanjut dia.

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan, melakukan rapat perdana di kantor Kemenko Polhukam pada Selasa (4/10). Foto: Kemenpora RI

Akmal mengatakan, atas dukungan dan masukan yang diberikan, akan menjadi semangat bagi tim untuk segera merampungkan kerja-kerja investigasi. Hingga nantinya menghasilkan rekomendasi atau temuan yang diharapkan dapat membuat terang atas peristiwa yang terjadi di Kanjuruhan.

”Karena itu, tim pencari fakta dengan sangat terbuka akan selalu menerima masukan, saran, kritik, dalam rangka melakukan investigasi kasus sekaligus juga dalam rangka melakukan atau menyusun langkah-langkah terbaik dalam membangun sistem baru sepakbola Indonesia ke depannya,” kata Akmal.

Unek-unek Perwakilan Suporter

Andi Peci, suporter Bonek (kelompok suporter Persebaya), menjadi salah satu perwakilan yang bertemu dengan TGIPF. Kepada awak media, Andi mendesak agar tim yang dipimpin Menko Polhukam Mahfud MD ini dapat bekerja cepat. Tak hanya membuat terang benderang peristiwa ini, Andi juga mendorong TGIPF dapat memberikan kejelasan perihal hukuman apa yang nantinya perlu dijalani oleh pihak terkait.

”Tim gabungan pencari fakta di kanjuruhan sesegera mungkin bisa diselesaikan tidak hanya sekadar diselesaikan tapi memang harus terang benderang, hukumannya seperti apa itu harus segera diputuskan,” ungkap Andi.

Oleh karena itu Andi berharap agar pemerintah dalam hal ini TGIPF untuk bekerja lebih serius, adil, dan objektif agar semuanya dapat kembali normal.

”Kalau kami tidak mendapatkan hasil yang tidak adil buat suporter tentu kami akan melakukan gerakan yang revolusioner, gerakan yang luar biasa terutama bagi federasi sepak bola nasional PSSI dan sebagainya, kami menunggu agar ini segera diputuskan,” pungkasnya.

Tragedi di Kanjuruhan terjadi pada Sabtu 1 Oktober 2022. Per 5 Oktober 2022 kemarin, Polri mengungkapkan 131 orang meninggal dalam peristiwa itu. Sementara, puluhan luka berat dan ratusan lainnya mengalami luka ringan.

Kericuhan terjadi usai Arema FC ditekuk Persebaya Surabaya dengan skor 2-3. Sekitar 3.000 suporter masuk ke lapangan bola. Polisi kemudian menembakkan gas air mata. Kericuhan tak terhindarkan.