Tidur dalam Kondisi Lapar, Jurnalis Gaza dan Keluarganya Tewas Dibom Israel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang warga Palestina menggendong seorang anak saat warga Palestina yang terluka menerima perawatan di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, setelah serangan udara Israel terhadap sebuah rumah, di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, 8 Juli 2025. Foto: REUTERS/Ramadan Abed
zoom-in-whitePerbesar
Seorang warga Palestina menggendong seorang anak saat warga Palestina yang terluka menerima perawatan di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, setelah serangan udara Israel terhadap sebuah rumah, di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, 8 Juli 2025. Foto: REUTERS/Ramadan Abed

Serangan udara Israel kembali merenggut nyawa warga sipil di Gaza. Seorang jurnalis perempuan, Wala al-Jaabari, tewas saat tidur bersama suami dan lima anaknya, usai rumah mereka dibombardir pada Rabu (23/7) dini hari waktu setempat.

Dikutip dari Reuters, Kamis (24/7), jenazah mereka ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Seluruh anggota keluarga dibungkus kain kafan putih dengan nama yang ditulis menggunakan pulpen. Darah merembes ke kain kafan, menodai warnanya menjadi merah.

“Ini sepupuku. Dia berusia 10 tahun. Kami menggali tubuh mereka dari reruntuhan,” kata anggota keluarga Wala, Amr al-Shaer, sambil menggendong salah satu jenazah.

Kerabat lain yang tinggal di dekat rumah korban, Iman al-Shaer, menyatakan keluarga tersebut bahkan tidur dalam keadaan kelaparan.

“Anak-anak tidur tanpa makan,” ujarnya.

Kerabat Wala juga menyatakan beberapa tetangga korban selamat karena sedang keluar mencari makanan saat serangan terjadi.

Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang di Jalur Gaza. Negara Zionis itu membatasi atau menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan, makanan, air, dan pasokan penting lainnya, sehingga menyebabkan krisis kelaparan parah dan kematian di antara penduduk Gaza.

Wala adalah seorang jurnalis lepas di Gaza. Ia bersama suami serta kelima anak mereka menjadi bagian dari 100 lebih korban yang tewas akibat serangan udara dan tembakan peluru Israel dalam waktu 24 jam terakhir.

Militer Israel belum memberikan komentar langsung atas serangan yang menewaskan keluarga ini. Namun, dalam pernyataan mereka sebelumnya, mereka telah menyerang 120 target di Gaza dalam 24 jam terakhir yang disebutnya sebagai sel teroris serta struktur militer, terowongan, bangunan jebakan, dan infrastruktur lainnya.

Tiga pelayat menangis saat prosesi pemakaman warga Palestina yang tewas dalam serangan udara Israel di Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza, Rabu (25/6/2025). Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERS

Gaza Dilanda Kelaparan

Sementara itu, krisis kelaparan di Gaza terus memburuk. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 10 warga Palestina meninggal dunia akibat kelaparan pada malam. Kematian ini menambah jumlah korban tewas akibat kelaparan menjadi 111 jiwa dalam beberapa pekan terakhir.

Laporan WHO menyebut 21 anak di bawah usia 5 tahun meninggal dunia di Gaza akibat kekurangan gizi sepanjang tahun ini. WHO menyatakan akibat pemblokiran tentara Israel, mereka tidak dapat mengirim bantuan makanan selama hampir 80 hari antara Maret hingga Mei.

Israel menutup total akses ke Gaza pada awal Maret dan baru membukanya kembali dengan pembatasan ketat pada Mei. Mereka mengeklaim telah mengizinkan masuknya bantuan yang cukup banyak ke Gaza.

Israel menuding Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kondisi kelaparan di Gaza. Israel juga menyalahkan PBB atas keterlambatan distribusi bantuan.

Kecaman dari Sekutu Israel

Kekejaman Israel yang menjadikan kelaparan sebagai senjata ini mendapat kecaman internasional, termasuk sekutu Israel sendiri di Eropa.

Dalam pernyataan 28 negara pada Senin (21/7), mereka menyoroti "penyaluran bantuan yang tersendat-sendat dan pembunuhan kejam terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, yang berusaha memenuhi kebutuhan paling dasar mereka akan air dan makanan."

Ke-28 negara itu yang merilis pernyataan bersama tersebut adalah Australia, Austria, Belgia, Kanada, Siprus, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Yunani, Islandia, Irlandia, Italia, Jepang, Latvia, Lithuania, Luxemburg, Malta, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovenia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris.