Tim 8, ‘Juru Masak’ Koalisi Perubahan untuk Kemenangan Anies Baswedan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 8 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertemuan Tim 8 dan bacapres Anies Baswedan di Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Kamis (24/8) Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Pertemuan Tim 8 dan bacapres Anies Baswedan di Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Kamis (24/8) Foto: Dok. Istimewa

Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) memiliki Tim 8 yang punya peran penting dalam mendukung pemenangan bakal capres Anies Baswedan di Pilpres 2024. Delapan orang anggota tim ini terdiri dari perwakilan masing-masing partai yang tergabung dalam KPP.

Ketua DPP NasDem, Willy Aditya, dan anggota DPR Sugeng Suparwoto menjadi perwakilan NasDem. Sementara itu dari Demokrat, ada Sekjen Teuku Riefky Harsya dan politisi Iftitah Sulaiman Suryanegara; sedangkan dari PKS adalah Wakil Ketua Majelis Syuro, Sohibul Iman, dan Ketua DPP PKS bidang hukum, Al-Muzammil Yusuf.

Selain dari perwakilan partai, Anies yang tak tergabung dengan partai mana pun itu juga meletakkan "orangnya" di Tim 8. Mereka adalah mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, dan Dadang Dirgantara.

Berikut profil kedelapan anggota Tim 8 tersebut:

Willy Aditya

Ketua DPP NasDem Willy Aditya di NasDem Tower, Jakarta, Kamis (10/8/2023). Foto: Paulina Herasmaranindar/kumparan

Willy Aditya yang lahir di Solok, Sumbar, 12 April 1978, ini sudah merantau sejak masih remaja saat menempuh pendidikan di SMA INS Kayutanam di Padang Pariaman. Sejak bersekolah di salah satu sekolah tertua di Indonesia inilah Willy rutin mengikuti berbagai forum diskusi dan menulis.

Kegemarannya itu ia lanjutkan saat pindah ke Yogyakarta untuk kuliah di UGM. Willy dipilih jadi Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN), organsiasi mahasiswa yang berisi berbagai organisasi gerakan di berbagai wilayah di Indonesia, yang pertama. Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UGM.

Pada tahun 2007, ia ikut membangun Sekolah Demokrasi Tangerang yang jadi wadah pendidikan demokrasi bagi anak muda. Setelah lulus, Willy juga sempat menjadi Direktur Populis Institute, salah satu lembaga survei nasional.

Kiprah Willy di NasDem sudah dimulai sejak partai tersebut masih berbentuk ormas. Saat itu ia menjadi salah satu deklarator Partai NasDem. Setelah masuk NasDem, Willy terpilih menjadi Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik, setelah sebelumnya menajadi Wakil Sekjen Bidang Organisasi dan Keanggotaan.

Pada Pemilu Legislatif 2019, Willy mencalonkan diri sebagai anggota DPR dan ditempatkan di Dapil XI Jawa Timur dan berhasil menjadi anggota terpilih DPR dengan total suara urutan pertama atau sebanyak 190.814 suara.

Sugeng Suparwoto

Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Sugeng Suparwoto adalah salah satu pendiri NasDem bersama Surya Paloh. Pria kelahiran Purworejo, 11 April 1962 ini mengantongi gelar sarjana di bidang pendidikan kurikulum dan teknologi dari Universitas Negeri Jakarta.

Selama kuliah, ia sangat aktif berorganisasi, salah satunya dengan menjadi Ketua Presidium BKMJ se-Jakarta. Setelah lulus, ia mengawali kariernya sebagai jurnalis di Media Indonesia dari 1990 hingga 1996 dan menulis berita-berita terkait ekonomi, politik, hukum, hankam, hingga internasional. Pada tahun 1996, ia pindah ke Televisi Pendidikan Indonesia dan menjadi pimpinan redaksi. Pada 2003 ia menjadi anggota Dewan Redaksi Media Group.

Pada 2015, Sugeng ditunjuk sebagai Stafsus Menteri PAN-RB hingga setahun kemudian menjadi Stafsus Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional hingga 2019.

Sugeng juga dikenal sebagai orang yang aktif di bidang sosial. Ia mendirikan sejumlah yayasan, termasuk Yayasan Rawamangun Mendidik yang bergerak di bidang riset; Yayasan Indonesia Baru; Lembaga Studi Pendidikan dan Kemanusiaan; dan Yayasan Social Gelora Serayu yang memfasilitasi para penyintas kanker di Banyumas.

Saat ini, Sugeng duduk di Komisi VII DPR RI. Untuk Pileg 2024 mendatang, Sugeng kembali dicalonkan di dapil Jateng VIII nomor urut 1.

Teuku Riefky Harsya

Sekjen Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya. Foto: Partai Demokrat

Pria kelahiran Jakarta, 28 Juni 1972 ini berhasil mendapat suara tertinggi pada Pemilu 2009 pertamanya. Lulusan Norwich University, Military College of Vermont US ini mewakili dapil Nangroe Aceh Darussalam I.

Di DPR, putra sastrawan Aceh, Hj Pocut Haslinda Mudadalam Azwar, ini bertugas di Komisi VII yang menangani masalah energi, sumber daya mineral, riset, teknologi, dan lingkungan hidup. Di sana, ia ditunjuk sebagai Ketua Komisi VII.

Di pemilu selanjutnya Teuku Riefky kembali maju dan terpilih. Bedanya, kali ini ia menjadi legislator di Komisi I DPR yang membidangi masalah Pertahanan. Luar Negeri. Komunikasi dan Informatika.

Sebelum terjun ke dunia politik, Riefky tercatat pernah bekerja di Nusa Bank Bakrie Group, Komisaris Uninet Media Sakti Dharmala Group, PT. Sabang Gerbang Asia, dan Thareq Habibie Communication.

Riefky juga aktif di Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) hingga Save Aceh Foundation. Riefky juga ikut berbisnis di bidang komunikasi, termasuk stasiun TV, agen periklanan, rumah produksi, internet provider, stasiun radio, majalah, perusahaan satelit, hingga distribusi komputer.

M. Iftitah Sulaiman Suryanegara

M. Iftitah Sulaiman Suryanegara, anggota Tim 8. Foto: Dok. Istimewa

Sebelum berkiprah di politik lewat Partai Demokrat, Suryanegara adalah seorang prajurit TNI. Selama menjadi prajurit, Suryanegara banyak bertugas di medan tempur. Termasuk di Operasi Rencong 2003 dan Operasi Pemulihan Keamanan 2004. Setelah bencana tsunami melanda Aceh, tugasnya beralih menjadi operasi bantuan kemanusiaan.

Pada 2006, Suryanegara terpilih menjadi anggota pasukan penjaga perdamaian di Lebanon melalui Kontingen Garuda-XXIII A/UNIFIL. Ia kemudian terpilih jadi perwakilian UNIFIL sebagai pembawa bendera PBB di Hari Nasional Italia 2007 di Roma, Italia, bersama perwira dari India dan Polandia.

Setelah kembali dari Lebanon, Suryanegara ikut membidani Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP TNI) di Sentul, Bogor. Ia menjadi instruktur internasional TNI pertama di bidang Misi Pemeliharaan Perdamaian, dan melatih 35 perwira dari 11 negara bersama instruktur dari Jerman dan Australia di New Castle. Di saat yang sama, ia juga ditugaskan menjadi staf pimpinan Mabes TNI.

Selain aktif sebagai perwira di lapangan, Suryanegara juga menekuni hobi menulisnya dengan menerbitkan sejumlah tulisan dan jurnal. Ia bahkan mendapatkan penghargaan sebagai penulis terbaik di tingkat Kostrad, TNI AD, dan TNI.

Setelah 20 tahun berkarier di militer, Suryanegara memutuskan untuk pensiun dini. Pasca-pensiun ia mulai mengembangkan karier di bidang berbeda, mulai dari bisnis hingga politik.

Di bidang bisnis, ia mengakuisisi beberapa perusahaan investasi dan konsultan. Saat ini, ia mengembangkan berbagai perusahaan, yang bergerak dalam bidang investasi, energi dan usaha lainnya.

Sohibul Iman

Presiden PKS Sohibul Iman saat jumpa pers di DPP PKS, Jakarta, Selasa (19/11). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Pria lulusan doktor Jepang ini mengawali kariernya sebagai pegawai negeri sipil di bagian penelitian teknologi. Belum waktu masa pensiun, ia mengundurkan diri karena tuntutan kampus. Dari sana lah, Mohamad Sohibul Iman terjun ke partai politik.

Pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 5 Oktober 1965 ini adalah anak kelima dari sembilan bersaudara yang tinggal di tengah kota Tasik, tepatnya di Lengkongsari. Ayahnya seorang pengusaha konveksi. Iman menikah dengan Uswindraningsih Titus.

Pria kelahiran Tasikmalaya, 5 Oktiber 1965 ini adalah lulusan IPB. Namun baru dua tahun kuliah, ia diterima di Jepang melalui beasiswa Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). Ia puny menjalani studinya dari S1 dan S2 di Jepang di bidang ilmu dan teknologi.

Selama di Jepang, Sohibul penah menjadi penyiar radio Jepang, NHK, untuk mengasah kemampuan bahasa dan budayanya. Dari sanalah Sohibul mengasah kemampuan komunikasinya, tak hanya dengan orang Jepang tapi juga orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang.

Setelah kembali dari Jepang, Sohibul langsung bekerja sebagai PNS di BAKOSURTANAL, yang merupakan bagian dari perjanjian beasiswanya. Ia juga menjadi peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dosen.

Baru pada tahun 1998, Sohibul bergabung dengan Partai Keadilan (PK)--yang kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun saat itu ada aturan bahwa PNS tak boleh menjadi pengurus partai. Akhirnya Sohibul memutuskan keluar dan melanjutkan karier sebagai peneliti BPPT. Di sana ia juga mendapatkan beasiswa doktoral ke Jepang dan mengambil spesialisasi kebijakan industri dan teknologi.

Setelah pulang, ia dipercaya menjadi rektor Universitas Paramadina. Karena Sohibul sudah tak jadi PNS, ia lalu diajak kembali bergabung ke PKS, hingga akhirnya menjadi anggota DPR pada 2009.

Al Muzammil Yusuf

Ketua DPP PKS Bidang Polhukam, Al Muzammil Yusuf. Foto: PKS

Al Muzammil Yusuf adalah lulusan Pesantren Zamrud Ciputat, Jakarta. Setelah lulus dari pondok, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Ilmu Politik. Selama kuliah, ia aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk menjadi Ketua Mushola FISIP UI dan Ketua Senat Mahasiswa.

Di periode sebelumnya, Muzammil lolos ke DPR lewat PKS pada periode 2009-2014. Ia terpilih dengan jumlah dukungan 46.205 suara dari dapil Lampung I.

Tak hanya berpolitik, pria kelahiran Tanjung Karang, 6 Juni 1965 ini juga aktif dalam berbagai LSM, khususnya yang berhubungan dengan konflik di Timur Tengah. Bahkan, adalah pembina Sekolah Sepak Bola Usia Muda di Sekolah Sigap Bencana (SSB) di Gaza.

Muzammil juga tercatat pernah menjabat sebagai petinggi di Center for Middle East Studies (COMES) yang jadi simpul informasi penting antara berbagai kota di Timur Tengah dan Jakarta. Lembaga tersebut secara rutin menyiarkan kabar terkini terkait Gaza, Tepi Barat, Damaskus, Tel Aviv, hingga Riyadh melalui situs mereka, infopalestina.com.

Saat ini, ia kembali dicalonkan sebagai petahana di dapil Lampung I dengan nomor urut 1.

Sudirman Said

Tim Anies Baswedan dalam Koalisi Perubahan, Sudirman Said. Foto: Amrizal Papua/kumparan

Menteri ESDM di era Kabinet Kerja periode 2014-2016 ini juga merupakan juru bicara Anies. Sudirman dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai menteri tak hanya karena kiprahnya di industri migas, tetapi juga karena Sudirman aktif sebagai tokoh anti-korupsi.

Sudirman Said lahir di Brebes, Jawa Tengah, pada 16 April 1963 silam. Setelah lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1990, Sudirman melanjutkan pendidikannya di Washington DC, AS.

Pada 2 Juni 2000, Sudirman membentuk organisasi bernama Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) yang mendorong terwujudnya pemerintahan yang bersih dan sehat.

Ia pernah menjabat sebagai Staf Ahli Dirut PT Pertamina tahun 2007-2008, Dirut PT Pindad, Presiden Direktur PT Petrosea Tbk pada tahun 2013, hingga Presiden Direktur PT Petrosea Tbk pada 2013 dan dan petinggi PT Indika Energy Tbk.

Sepanjang kariernya, Sudirman cukup vokal menolak korupsi. Salah satunya dengan mendirikan dan mengetuai Badan Pelaksana Masyarakat Transparan Indonesia bersama Sri Mulyani dan beberapa tokoh lainnya. Salah satu kasus besar yang pernah mereka dorong penyelesaiannya adalah kasus Bibit Chandra atau yang dikenal dengan kasus "Cicak versus Buaya".

Dadang Juliantara

Dadang sangat low profile, tapi perannya dalam merancang strategi politik sangat menonjol. Dadang merupakan penggerak Gejayan Memanggil, di era Orde Baru.

Pada Pemilu 2014 Dadang mendirikan Seknas Jokowi yang merupakan salah satu elemen utama pemenangan Joko Widodo sebagai Presiden di Pemilu 2024. Melihat tanda-tanda Jokowi tidak lagi berkomitmen dengan visi awalnya, Dadang menarik dukungan dan berjuang untuk mendukung Anies sejak Pilkada DKI tahun 2017.

Dadang merupakan alumnus Jurusan Fisika UGM. Namun dia sering banyak menulis buku tentang Desa dan Pembangunan Sosial.

Di kalangan aktivis pergerakan mahasiswa semasa Orde Baru, Dadang sangat dihormati.