News
·
23 Juli 2020 12:13

Tim Evaluasi SMERU Tanggapi Lolosnya Sampoerna dan Tanoto di Program Kemendikbud

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tim Evaluasi SMERU Tanggapi Lolosnya Sampoerna dan Tanoto di Program Kemendikbud (262406)
Lolosnya Sampoerna dan Tanoto oleh Kemendikbud dipertanyakan - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat menghadiri Rapat kerja komisi X DPR RI, Selasa (28/1). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud yang digagas Nadiem Makariem menuai polemik. Lolosnya perusahaan besar, Tanoto dan Sampoerna Foundation ke dalam 156 ormas terpilih, diprotes banyak pihak, termasuk Komisi X DPR.
ADVERTISEMENT
Organisasi Penggerak menjadi salah satu program Merdeka Belajar Kemendikbud yang mendapat dana hibah antara Rp 1 miliar hingga Rp 20 miliar. Selama dua tahun, 156 ormas pendidikan yang lolos seleksi harus bisa mengembangkan program penguatan pendidikan guru dan tenaga pengajar ke banyak daerah.
Tanoto dan Sampoerna dinilai tak layak mendapat bantuan dana Rp 20 miliar karena kedua perusahaan itu tergabung dalam program CSR. Selain itu, Kemendikbud didesak untuk transparan terkait proses seleksi 156 ormas tersebut.
Kemendikbud mengklaim tak campur tangan dalam proses seleksi lantaran mereka menggandeng tim independen, The SMERU Research Intitute, menjadi tim seleksi dan evaluasi. Terkait polemik ini, SMERU angkat bicara.
"Tim evaluasi independen dari SMERU melakukan evaluasi dan penilaian terhadap proposal-proposal organisasi masyarakat yang diajukan kepada Kemdikbud untuk meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan," kata SMERU menanggapi pertanyaan netizen di twitter.
ADVERTISEMENT
SMERU menjamin, evaluasi yang mereka lakukan mengacu kepada Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan Pemerintah. SMERU menyebut, masyarakat bisa mendapat keterangan lebih lanjut ke pihak Kemendikbud.
"Saat ini kerja tim evaluasi independen proposal sudah selesai. Semua pertanyaan silakan diajukan ke Kemdikbud," tulis SMERU.
Tim Evaluasi SMERU Tanggapi Lolosnya Sampoerna dan Tanoto di Program Kemendikbud (262407)
Mendikbud Nadiem Makarim saat melakukan rapat kerja dengan Komisi X. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Organisasi terpilih dibagi menjadi kategori III, yakni Gajah, Macan dan Kijang. Untuk Gajah dialokasikan anggaran sebesar maksimal Rp 20 miliar per tahun, Macan Rp 5 miliar per tahun, dan Kijang Rp 1 miliar per tahun.
Tanoto Foundation sebelumnya memastikan perusahaan mereka bukan tergabung dalam program CSR. Tanoto juga menjamin dana yang mereka gunakan di Organisasi Penggerak merupakan dana mandiri sebesar Rp 50 miliar.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Muhammadiyah dan LP Ma'arif NU yang lolos program ini mengundurkan diri lantaran. Mereka memprote proses seleksi yang dinilai tak jelas dan tak bisa mengklasifikasi yayasan CSR.
Seperti yang dikemukakan SMERU, syarat dan ketentuan penerima hibah Kemendikbud memang diatur dalam Peraturan Sekjen Kemendikbud Nomor 3 Tahun 2020. Bantuan diberikan berdasarkan hasil penilaian dan verifikasi proposal oleh masing-masing tim evaluasi proposal.
Tim Evaluasi SMERU Tanggapi Lolosnya Sampoerna dan Tanoto di Program Kemendikbud (262408)
Ilustrasi guru mengajar. Foto: Shutterstock
Berikut aturan lengkapnya:
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona