Tim Peneliti Klaim Terapi Sel Dendritik Bisa Jadi Booster Semua Vaksin Corona

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mayjen TNI (Purn) dr. Daniel Tjen, Sp.S meninjau persiapan peresmian RS Leimena semasa menjadi Stafsus Menkes Terawan. Foto: Kemenkes
zoom-in-whitePerbesar
Mayjen TNI (Purn) dr. Daniel Tjen, Sp.S meninjau persiapan peresmian RS Leimena semasa menjadi Stafsus Menkes Terawan. Foto: Kemenkes

Riset terapi sel dendritik yang dulu dikenal dengan nama Vaksin Nusantara yang diinisiasi eks Menkes Terawan Agus Putranto segera memasuki babak baru.

Peneliti terapi sel dendritik menyebut, hasil risetnya sudah dikenalkan dengan antigen COVID-19 dan akan menyelesaikan uji klinis tahap II, lalu masuk tahap III.

Salah satu peneliti terapi sel dendritik, dr. Daniel Tjen, membandingkan penelitiannya ini dengan vaksin berplatform m-RNA seperti Pfizer, yang dikenal punya efikasi hingga lebih dari 90 persen. Namun, vaksin tersebut setelah 7 bulan kadar antibodinya akan menurun.

"Dari laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pasca-vaksin termasuk yang menggunakan platform m-RNA bikinan Pfizer setelah 7 bulan ternyata kadar antibodinya tidak terdeteksi karena mekanisme kerjanya beda," kata Daniel dalam acara virtual Beranda Ruang Diskusi bertema Merindukan Vaksin Nusantara, Rabu (6/10).

Hal ini tentu berbeda dengan penelitiannya yang lebih mengedepankan pembentukan memori. Artinya, apabila suatu saat seseorang yang telah mendapatkan vaksinnya terinfeksi corona, maka sel memori yang berfungsi mengingat antibodi terhadap COVID-19 akan muncul.

"Pendekatan platform sel dendritik ini lebih banyak pada sel T-nya memorinya," ucap Daniel.

Ilustrasi vaksin corona. Foto: Dado Ruvic/REUTERS

Oleh karena itu, ia menyebutkan platform sel dendritik ini punya peluang untuk jadi booster bagi vaksin apa pun. Sebab, platform yang digunakan berbeda dengan vaksin corona yang ada saat ini.

"Jadi besar harapan kita sekali lagi karena ini sifat sel dendritik untuk memperkuat imunitas. Maka itu sangat berpeluang untuk digunakan sebagai vaksin booster apa pun platform vaksin yang digunakan sebagai vaksin dasarnya, apa pun. Karena pendekatannya berbeda," sebut Daniel yang juga stafsus Terawan saat menjabat sebagai Menkes tersebut.

Terapi sel dendritik ini memiliki sifat personal. Sebab, bukan seperti vaksin lainnya yang bisa langsung disuntikkan secara massal, terapi ini memanfaatkan darah yang berisikan sel dendritik yang sudah 'memakan' virus corona untuk diinjeksi ke dalam tubuh setiap pemiliknya.

Terawan menyuntikkan terapi sel dendritik kepada Ketua DPD La Nyalla Mattalitti untuk meningkatkan imunitas terhadap COVID-19. Foto: Twitter/@DPDRI

Protokol untuk pengajuan relawan sedang disiapkan

Selain itu, ke depannya tim peneliti terapi sel dendritik akan membuka peluang bagi masyarakat untuk dapat ikut serta dalam proses uji klinis ini.

"Pada saat ini teman-teman peneliti sedang menyusun protokol. Apabila sudah disetujui mereka akan melakukan pengumuman terbuka sehingga masyarakat bisa memperoleh akses dan mengetahui apakah mereka eligible untuk jadi relawan," kata Daniel.

Ia juga menyebutkan nantinya hasil dari penelitian ini tentu akan dibuka ke publik.

"Tapi saat ini masih dalam proses, kalau sudah siap akan jadi domain publik, termasuk tim peneliti kita berusaha sesuai dengan kaidah. Kami sudah konsul dengan teman-teman termasuk WHO kita akan ikuti kaidah good clinical practice, itu harus dilalui. Semua dokumennya nanti terbuka," tutup Daniel.