Tinjau Food Estate Keerom, Jokowi Targetkan 10 Ribu Hektare untuk Tanam Jagung
·waktu baca 2 menit

Presiden Jokowi meninjau Food Estate di Keerom, Papua, Selasa (21/3). Dalam kunjungannya, Jokowi mengatakan pemerintah menyiapkan sekitar 10 ribu hektare lahan untuk penanaman jagung.
"Tapi sekarang yang sudah disiapkan land clearing, kemudian pengolahan tanah baru 500 hektare, tahun depan 2.500 hektare. Tapi yang ditanam hari ini baru 100 hektare. Kita akan lihat nanti bulan Juni akan panen yang pertama berapa ton per hektare akan kelihatan," kata Jokowi dalam keterangannya, Selasa (21/3).
Jokowi pun tidak menuntut target panen yang besar karena lahan yang diolah baru 100 hektare. Namun, Jokowi meminta Kementan hingga Pemda Keerom untuk mengawasi agar lahan tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk masyarakat.
"Mungkin pertama enggak apa-apa empat ton atau lima ton, saya kira baik, nanti penanaman kedua naik lagi jadi enam ton, yang ketiga baru [hasil panen lebih banyak lagi]. Biasanya setelah [panen] ketiga baru berada pada posisi yang baik," tutur Jokowi.
"Tapi tadi saya mengingatkan kepada Pak Bupati, Pak Mentan juga, agar yang beli ini siapa harus jelas, offtaker-nya siapa harus jelas, pengeringnya siapa yang nyiapin harus jelas, pasca-panennya seperti apa harus jelas, harganya berapa harus jelas semuanya. Sehingga petani jangan sampai nanti dirugikan setelah panen. Pastikan," tegasnya.
Tak hanya itu, Jokowi berharap panen jagung nanti juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Sebab, suplai jagung untuk pakan ternak masih kurang.
"Kurang, masih kurang. Baik untuk ayam petelur, ayam daging, maupun untuk babi dan sapi," lanjut Jokowi.
Kemudian untuk irigasi, akan dibangun parit di tengah-tengah lahan supaya airnya tidak terlalu melimpah. Sehingga ketika panen, hasilnya banyak dan baik, dan dimanfaatkan untuk masyarakat Papua dan Papua Barat.
"Dan kalau dibawa ke Jawa, kan, ongkos transport-nya juga mahal. Sehingga harus dipakai untuk tanah Papua. Papua dan Papua Barat," ujarnya.
Tak hanya itu, Jokowi juga memastikan petani sawit akan tetap diperhatikan. Ia ingin pertanian sawit dan jagung dapat terintegrasi.
"Nantinya ini yang kita mencoba sebuah pertanian terpadu, integrated, nantinya sawit dan jagung," pungkasnya.
