Tinjau Pasar Kramat Jati, Pramono: Retribusi Pedagang Selama 6 Bulan Gratis

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau penataan pedagang di Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9).
Pantauan kumparan di lokasi, Lokbin Pasar Kramat Jati masih belum ramai oleh pembeli. Sejumlah pedagang terlihat berjualan ikan, kerang, dan udang.
Di lokasi tersebut juga tersedia lahan parkir untuk pembeli maupun pedagang. Di bagian depan terdapat tanda bertuliskan “Lokbin Pasar Kramat Jati”.
Pramono datang bersama Direktur Utama Pasar Jaya Agus Himawan, Wali Kota Jakarta Timur Munjirin, Koordinator Pedagang Subuh Kramat Jati Muhtarom, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.
Pramono mengatakan penataan kawasan pedagang Kramat Jati bukan perkara mudah. Menurutnya, aktivitas perdagangan di kawasan tersebut telah berlangsung lebih dari 50 tahun.
“Pembenahan ini terus terang tidak gampang karena ini sudah berlangsung lebih dari 50 tahun, sejak awal tahun ’70-an,” kata Pramono saat ditemui di lokasi, Selasa (1/9).
Pramono menyebut terdapat sekitar 614 hingga 640 pedagang di kawasan Kramat Jati. Pemprov DKI telah menyiapkan sejumlah lokasi untuk menampung mereka.
Sebanyak 331 pedagang ditempatkan di Pasar Kramat Jati Sektor 7, 193 pedagang ikan di Lokbin Kramat Jati, 45 pedagang kue di Lokbin Cililitan, serta 45 pedagang lainnya di pasar yang dikelola Pasar Jaya.
Pramono menegaskan penataan dilakukan dengan pendekatan yang lebih humanis. Ia mengatakan Pemprov DKI tidak ingin sekadar menggusur pedagang tanpa menyediakan tempat berjualan yang layak.
“Kalau selama ini pendekatannya adalah melakukan penggusuran, memindahkan digusur, saya meminta alternatif yang lebih humanis. Untuk itu harus ada tempat yang layak untuk mereka bisa berjualan,” ujarnya.
Retribusi Pedagang Digratiskan 6 Bulan
Untuk membantu pedagang beradaptasi dengan lokasi baru, Pramono memutuskan menggratiskan retribusi atau iuran Lokbin Pasar Kramat Jati selama enam bulan.
Pramono menyebut besaran retribusi yang berlaku nantinya Rp 180 ribu per bulan atau sekitar Rp 6 ribu per hari.
“Rp 180.000 per bulan atau Rp 6.000 per hari. Itu yang digratiskan selama 6 bulan,” kata Pramono.
Pramono memahami proses pemindahan pedagang ke lokasi baru tidak mudah. Terlebih, kawasan tersebut merupakan pasar subuh yang aktivitasnya berlangsung sejak dini hari.
Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Pedagang Subuh Kramat Jati Muhtarom mengatakan aktivitas perdagangan biasanya mulai ramai sekitar pukul 01.00 WIB hingga 05.00 WIB.
Pramono mengatakan Pemprov DKI juga akan melakukan sejumlah perbaikan di lokasi, antara lain terkait saluran air dan sirkulasi udara. Pemerintah juga berencana memasang kipas angin.
Pramono Dorong Koperasi Pedagang
Selain penataan fisik, Pramono juga mendorong pembentukan koperasi pedagang di kawasan tersebut.
Koperasi itu nantinya diharapkan dapat menjadi wadah untuk mengembangkan usaha pedagang sekaligus memasok kebutuhan ikan ke sejumlah rumah sakit yang dikelola Pemprov DKI.
“Koperasi inilah yang kemudian akan menyuplai beberapa rumah sakit-rumah sakit yang dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta, karena pasti di sini ikannya segar dan ikannya juga murah,” ujarnya.
Pramono juga meminta Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) DKI Jakarta Marulina Dewi membantu menyosialisasikan lokasi baru tersebut kepada masyarakat.
Hal itu dilakukan karena masih banyak pelanggan yang belum mengetahui lokasi pedagang telah dipindahkan.
“Saya minta kepada Dinas Kominfotik (Marulina Dewi) untuk dibantu PR-ing menyampaikan kepada publik bahwa silakan belanja di tempat ini karena ini terbuka,” kata Pramono.
Pemprov Siapkan Lokasi Tambahan
Muhtarom mengatakan dari sekitar 614 pedagang, Lokbin yang tersedia hanya memiliki 143 tempat, tetapi yang dinilai layak digunakan saat ini sekitar 120 tempat.
Ia berharap pedagang yang belum mendapatkan tempat tetap dapat diatur secara tertib sembari menunggu lokasi tambahan.
Pramono mengatakan Pemprov DKI telah menyiapkan alternatif lokasi yang tidak jauh dari kawasan tersebut. Ia meminta lokasi itu segera dipersiapkan agar persoalan kekurangan tempat dapat diselesaikan.
Saat ditanya mengenai target waktu persiapannya, Muhtarom sempat menyebut dua bulan. Setelah didorong Pramono, target tersebut kemudian dipangkas menjadi tiga minggu.
“Namanya juga pedagang pasti nawarlah. Tiga minggu, ya? Semua dengar lho, ya,” kata Pramono.
Penataan Pasar Kramat Jati dengan Lalu Lintas
Penataan kawasan Pasar Ikan Kramat Jati dilakukan salah satunya karena kondisi aktivitas perdagangan di sekitar Jalan Raya Bogor sebelumnya berdampak pada keselamatan dan kelancaran lalu lintas.
Sebelumnya pada Senin (17/8), seorang pelajar berinisial HH (17) tewas dalam kecelakaan saat hendak berangkat sekolah di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Metro Jakarta Timur AKP Darwis Yunarta mengatakan kecelakaan terjadi sekitar pukul 06.00 WIB. Korban yang mengendarai sepeda motor diduga terjatuh karena kondisi jalan licin.
Saat korban terjatuh, pada saat bersamaan melintas truk sampah Dinas Lingkungan Hidup. Korban kemudian terlindas bagian roda belakang kiri truk dan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya meminta kejadian tersebut tidak kembali terulang. Ia menyebut kondisi jalan yang basah dan licin perlu menjadi perhatian.
“Yang di Pasar Kramat Jati, kebetulan saya mengikuti, karena memang kondisinya adalah karena jalan yang licin, terpeleset, dan kemudian tertabrak oleh mobil Dinas Lingkungan Hidup,” kata Pramono, Selasa (18/8).
Selain persoalan keselamatan, aktivitas pedagang di sekitar jalan juga disebut berdampak pada kelancaran lalu lintas, termasuk memicu kemacetan pada jam pulang kerja.
