Tito Ungkap Kendala Pemulihan Usai Bencana Sumatera: Lumpur-Tumpukan Kayu

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga membersihkan sisa endapan lumpur di halaman rumah miliknya di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (8/2/2026). Foto: Akramul Muslim/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga membersihkan sisa endapan lumpur di halaman rumah miliknya di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (8/2/2026). Foto: Akramul Muslim/ANTARA FOTO

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut, lumpur dan tumpukan kayu menjadi kendala utama dalam penanganan pascabencana di wilayah dataran rendah Sumatera.

"Lumpur ini menjadi problem yang paling utama di lowland (dataran rendah). Kita sudah mencatat tim ini merekap di mana saja titik-titiknya. Kita memiliki titiknya, jumlahnya lebih kurang 445 di tiga provinsi. Yang sudah diselesaikan di Sumatra total semuanya itu lebih kurang 84%, tinggal 16% lagi," kata Tito dalam konferensi pers di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).

"Nah, kemudian untuk per provinsi, di Aceh kira-kira tinggal 17% terutama di tiga tempat, Aceh Tamiang (daerah perkotaannya), kemudian Pidie Jaya, dan Bireuen saya dengar kemarin terakhir sebelum Lebaran sudah hampir clear. Tapi saya enggak mau klaim clear, nanti tahu-tahu ada kampung atau RT yang belum," tambah dia.

Foto udara pekerja mengoperasikan ekskavator untuk menyelesaikan proyek normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Desa Bener Berpapah, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Selasa (3/2/2026). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Sungai Jadi Tantangan Terberat

Selain lumpur, Tito menyebut penanganan sungai menjadi pekerjaan paling berat dan membutuhkan waktu panjang.

"Sungai ini yang paling berat nantinya, dan ini perlu waktu lama. Saya perkirakan paling cepat betul 2 tahun, bisa 3 tahun. Kita ingat pada waktu zaman BRR dulu, selesainya 5 tahun ditambah transisi 3 tahun. Sungai yang ada itu 79 yang dikerjakan Pusat, Daerah mengerjakan 43," ucap Tito.

"Persentasenya relatif masih agak rendah karena sungainya banyak sekali dan luas-luas seperti Tamiang, Sungai Merdu, itu luas sekali. Isinya sedimen. Ini kalau enggak di-clear-kan, ada hujan ya dia akan banjir ke sebelahnya," ujarnya.

Mendagri Tito Karnavian memantau tumpukan kayu yang terbawa banjir di Aceh. Foto: Dok. Kemendagri

Tumpukan Kayu Jadi Kendala

Tito juga menyoroti banyaknya tumpukan kayu yang terbawa banjir dan menjadi hambatan di sejumlah wilayah terdampak.

"Kayu juga banyak problem, tumpukan kayu di madrasah di Aceh Tamiang, di Longkib, di Desa Garoga Tapanuli. Yang bisa dimanfaatkan untuk jadi papan, arah posisinya clear, Menteri Perhutanan sudah mengeluarkan surat bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bencana, baik untuk membangun Huntap atau Huntara," terang dia.

video from internal kumparan

Akses Logistik Mulai Pulih

Meski masih menghadapi sejumlah kendala, Tito memastikan akses logistik mulai pulih, terutama di jalur utama.

"Akses jalan nasional sudah 100% meskipun fungsional. Artinya bisa dilalui, tapi kalau untuk truk besar atau tronton mungkin ada beberapa titik yang belum bisa. Tapi logistik untuk makanan tidak jadi kendala lagi. Jalan daerah di Aceh baru 92%, Sumut 98%, Sumbar 91%. Jembatan nasional 100% tapi temporer, ada yang menggunakan Bailey, ada yang kayu biasa," kata Tito.

:Jembatan daerah ini yang di tingkat kabupaten/kota baru 54% sampai 93%. Pengerjaan jembatan ini juga dibangun oleh TNI dan Polri. Rencana membangun 41 jembatan, sudah selesai 35. Saya sampaikan apresiasi kepada Pak Kapolri, Kapolda Sumut, Aceh, dan Sumbar atas kerja keras tim di lapangan," tandasnya.