TNI AL: KRI Nanggala Diduga Terhantam Arus Besar Bawah Laut

TNI AL masih terus mengumpulkan data-data sehingga dapat mengungkap penyebab kapal selam KRI Nanggala tenggelam. Salah satunya, adalah faktor alam.
Ternyata, faktor alam memiliki peran besar dalam kecelakaan ini. Dari data terkini, di lokasi KRI Nanggala ada interval solitary wave atau lebih dikenal dengan arus bawah air yang tinggi.
Danseskoal Laksamana Muda Iwan Isnurwanto mengatakan, satelit milik Jepang menangkap adanya ketebalan berbeda di bawah air pada saat KRI Nanggala menyelam di perairan Bali. Perbedaan sangat terlihat di perairan Selatan Lombok dan Utara Bali.
"Ini palung antara gunung dengan gunung, lalu gelombang kecepatannya 2 NM. Dan berapa untuk dayanya kurang lebih 2 jtua sampai 4 juta liter untuk airnya," kata Iwan.
Jadi kalau misalnya kapal menyelam 13 meter terbawa otomatis turun tidak bisa diselamatkan lainnya, tak bisa melawan alam.
--Laksamana Muda Iwan
KRI Nanggala pada pukul 03.00 WIB sempat meminta izin untuk meminta menyelam sebelum melakukan peluncuran torpedo. Tak lama setelah menyelam, kapal selam langsung hilang kontak.
Ada sejumlah kemungkinan yang menyebabkan kapal selam hilang kontak, mulai black out hingga faktor alam.
KSAL Laksamana Yudo Margono juga sempat menegaskan tidak ada human error dalam kasus ini. Diduga kuat ada faktor alam yang perpengaruh dalam kecelakaan ini.
"Dari awal saya sampaikan kemarin bahwa kapal ini tidak human error. Bukan human error. Karena saat proses menyelam itu sudah melalui prosedur yang betul," kata Yudo dalam konferensi pers di Lanud Ngurah Rai, Bali, Minggu (25/4).
