TNI AU: Super Tucano Kemungkinan Tak Tabrakan di Udara
ยทwaktu baca 2 menit

TNI AU masih menginvestigasi penyebab jatuhnya pesawat Super Tucano di Pasuruan dan Probolinggo, Jawa Timur. Dari pemeriksaan awal, TNI AU menduga pesawat tidak tabrakan di udara sebelum jatuh.
"Menurut pengamatan saya dua ELT [Emergency Locator Transmitter]-nya menyala dengan waktu yang tidak bersamaan," kata Kadispen TNI AU Marsma Agung Sasongkoaji di Apron Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (17/11).
Artinya kemungkinan besar itu tidak bertabrakan.
--Marsma Agung.
Sebelumnya, muncul kesaksian warga bahwa pesawat sebelum jatuh mengalami senggolan.
Lebih lanjut Agung mengatakan, bila terjadi tabrakan di udara, suasana akan sangat ramai di udara. Sedangkan, dua pesawat Super Tucano yang selamat tidak menemukan keributan apa pun. Hanya menangkap sinyal ELT.
Kalau tabrakan mesti ada ribut di udara, kan, karena masih ada waktu untuk menghantam di bawah, tapi ini tidak ada," kata Agung.
Untuk itu, Agung masih menunggu hasil investigasi mendalam dari tim teknis TNI AU. Salah satu data diambil dari Flight Data Recorder (FRD) dari kedua pesawat yang kini sudah berada di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.
"Tapi saya tidak bisa mengambil kesimpulan dan pasti karena data flight recorder yang dua, kan, masih belum bisa dibuka," ucap dia.
Kecelakaan pesawat ini membuat 4 awak pesawat TNI AU gugur. Mereka juga diberi kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat lebih tinggi. Mereka ialah:
- Kolonel PnB Subhan menjadi Marsma TNI (Anumerta) Subhan
- Kolonel Adm Widiono menjadi Marsma TNI (Anumerta) Widiono
- Letkol PnB Sandhra Gunawan menjadi Kolonel (Anumerta) Sandhra Gunawan
- Mayor PnB Yuda A. Seta menjadi Letkol (Anumerta) Yuda A. Seta
