Tokoh NU Adnan Anwar Ingatkan NU Tak Jadi Alat Kekuasaan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU), Adnan Anwar, dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU, di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU), Adnan Anwar, dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU, di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU), Adnan Anwar, mengingatkan agar Nahdlatul Ulama (NU) tidak menjadi alat atau subordinat kekuasaan.

Pandangan itu disampaikan Adnan dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU, di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8).

Adnan menilai, NU memiliki posisi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia menekankan NU tidak berada di posisi sebagai pihak yang hanya menerima pengaruh dari negara.

“Jadi NU bukan sekadar maf’ul (objek) di dalam konteks Indonesia. Dia fa’il (subjek), pemegang saham negara kita. Jadi orientasi negara, ideologi negara itu ya jaminannya NU, gitu loh,” terang Adnan.

Dia mengingatkan agar posisi NU dan negara tetap berjalan sesuai porsinya. Pemerintah yang lahir dari NU, menurut Adnan, justru tidak semestinya berbalik mengatur NU.

“Pemerintah yang dilahirkan oleh NU malah mengatur NU, ini kan kebalik. Board of Directors (BOD) mengatur komisaris utama, kan ya enggak,” ujarnya.

Menurut Adnan, NU juga memiliki kekuatan yang mengarah pada konsep shadow of the state atau kekuatan bayangan negara. Peran tersebut, kata dia, diperlukan untuk membantu menjaga keutuhan negara ketika menghadapi persoalan.

“Kekuatan bayangan negara itu berasumsi seperti ini. Kalau terjadi apa-apa di pemerintahan kita, sebagai kekuatan bayangan negara ini bisa meng-cover untuk melindungi negara jangan sampai pecah. Nah itu kan ada pada NU,” jelas dia.

Karena itu, Adnan menilai NU harus memiliki organisasi yang kuat secara kelembagaan dan mampu membaca dinamika geopolitik.

“Untuk menjadi kekuatan shadow of the state ini kan membutuhkan organisasi yang kuat ya secara geopolitik maupun secara kelembagaan. NU harus kuat karena mengemban fungsi ini,” tutur Adnan.

Dia turut mengingatkan agar posisi tersebut tidak dirusak oleh intervensi pihak luar yang tidak memahami NU.

“Makanya kita mengingatkan jangan sampai nanti orang yang tidak mengerti NU melakukan intervensi gitu ya, lalu berakibat fatal terhadap hancurnya NU, ya sudah tinggal menunggu waktu hancurnya Indonesia saja,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, Adnan menegaskan, NU tidak dapat diperlakukan seperti organisasi yang bisa diarahkan sesuka hati oleh kekuatan di luar.

“Jadi ini yang orang harus pahami, tidak sesimpel itu melihat NU, gitu,” ucap Adnan.