Tolak Resolusi PBB, AS Telah Berubah Jadi Negara Otoriter

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Donald Trump pidato National Security Strategy (Foto: REUTERS/Joshua Roberts)
zoom-in-whitePerbesar
Donald Trump pidato National Security Strategy (Foto: REUTERS/Joshua Roberts)

Amerika Serikat menolak keras voting Majelis Umum PBB untuk resolusi yang menentang pengakuan Yerusalem ibu kota Israel. Bahkan AS mengancam akan memangkas bantuan ekonomi bagi negara-negara pendukung Palestina dalam voting tersebut.

Menurut pengamat internasional, sikap itu menunjukkan AS telah berubah menjadi negara otoriter di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

"Trump telah membawa AS dari kampiun demokrasi menjadi negara yang otoriter dengan mengancam negara-negara di PBB untuk tidak menyetujui resolusi," kata Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, dalam pernyataannya, Jumat (22/12).

Berbagai ancaman AS terbukti bikin negara-negara takut. Voting menghasilkan 128 suara untuk mendukung resolusi, dan hanya 9 yang menolak. Ada 35 negara abstain.

Hikmahanto mengatakan, saat ini mayoritas negara dunia tidak lagi takut dengan ancaman AS. Kepemimpinan AS atas dunia akan dipertanyakan bahkan dicemooh.

Majelis Umum PBB (Foto: AFP/Eduardo Munoz Alvarez)
zoom-in-whitePerbesar
Majelis Umum PBB (Foto: AFP/Eduardo Munoz Alvarez)

"Tidak lagi ada istilah 'kuat adalah benar (Might is Right)' karena dunia mampu menentang kemauan Trump yang memanfaatkan kursi kepresidenannya," ujar Hikmahanto.

Resolusi Kamis (21/12) adalah babak baru dari penentangan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Tidak berhenti di situ, AS bahkan menyatakan akan memindahkan ibu kota mereka ke Yerusalem, tidak peduli apa kata dunia.

Menurut Hikmahanto, dunia perlu merumuskan apa tindakan selanjutnya atas AS dan Israel usai resolusi PBB tersebut. Hikmahanto menjabarkan dua hal yang bisa dilakukan.

Pertama, pemimpin dan tokoh dunia menyerukan agar AS tunduk pada resolusi PBB karena itu adalah suara mayoritas dunia. "Sebagai kampiun demokrasi sudah sewajarnya bila AS mau mendengar suara mayoritas," tutur Hikmahanto.

Kedua, lanjut dia, atas dasar perdamaian dunia pemimpin dan tokoh dunia menghimbau kepada para politisi AS, termasuk mantan presiden, untuk mengingatkan Trump pengaruh Resolusi MU PBB terhadap kepemimpinan AS di dunia.

"Sudah saatnya rakyat AS, politisi dan kaum elit AS agar bersuara dan mengambil tindakan konstitusional terhadap Donald Trump agar AS tidak terjerembab lebih dalam atas manuver-manuvernya," kata Hikmahanto.

"Berbagai manuvernya bukannya membuat America Great Again tetapi Make America Worst," tutup dia.