Topan Saudel Menguat, WNI di China Diminta Waspada

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pergerakan Topan Saudel, 2 September 2026 Foto: www.hko.gov.hk/
zoom-in-whitePerbesar
Pergerakan Topan Saudel, 2 September 2026 Foto: www.hko.gov.hk/

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou mengimbau seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di China bagian selatan untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan ancaman Topan Saudel yang berpotensi memicu cuaca ekstrem pada 1–2 September 2026.

Dalam pernyataan tertulis, KJRI Guangzhou menjelaskan bahwa Badan Meteorologi Pusat China telah mengeluarkan peringatan terkait perkembangan terbaru Topan Saudel, yang kembali menguat menjadi badai tropis.

"Topan diperkirakan akan melanda Provinsi Fujian bagian tengah dan timur, Provinsi Guangdong bagian timur serta Provinsi Hainan bagian selatan pada 1-2 September 2026. Topan ini diperkirakan akan berdampak hujan lebat disertai angin kencang,” jelas KJRI Guangzhou.

"Terkait itu, diimbau agar Warga Negara Indonesia di wilayah tersebut untuk berhati-hati, meningkatkan kewaspadaan serta mengutamakan keselamatan dengan mengurangi kegiatan outdoor terutama di pesisir pantai/laut atau pegunungan,” lanjutnya.

"Bagi Warga Negara Indonesia yang berencana melakukan perjalanan di/ke wilayah terdampak diimbau untuk memantau dan mengantisipasi perubahan jadwal transportasi," imbaunya.

Sebelumnya, Topan Saudel mendarat di pesisir Provinsi Zhejiang, China, pada 28 Agustus 2026 dan sempat melemah saat melintasi daratan.

Sisa-sisa badai kemudian bergerak kembali ke perairan Laut China Selatan dan menguat lagi menjadi badai tropis pada 1 September 2026.

Sejumlah otoritas meteorologi di Asia Timur telah menerbitkan peringatan dini terkait menguatnya kembali Topan Saudel pada awal bulan ini. Selain Badan Meteorologi Pusat China, peringatan dan pemantauan ketat juga dikeluarkan oleh otoritas cuaca Hong Kong, Taiwan, Vietnam, dan Thailand.