Tradisi Dugderan di Semarang Jadi Penanda Masuknya Bulan Ramadan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menghadiri tradisi Dugderan di Semarang, Senin (16/2/2026). Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga menghadiri tradisi Dugderan di Semarang, Senin (16/2/2026). Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan

Ribuan warga berkumpul di Alun-alun Kauman Semarang pada Senin (16/2. Mereka mengelilingi sebuah bedug untuk memulai sebuah tradisi 'Dugderan', sebuah tradisi untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Begitu bedug ditabuh oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, warga bersorak kegirangan. Suasana kian meriah karena tabuhan bedug itu diiringi dentuman ledakan bom udara yang memekakan telinga.

Tabuhan bedug dan bom udara itu pun resmi menandai masuknya bulan puasa.

Kemeriahan warga tak cukup sampai di situ, usai tabuhan bedug, warga berebut kue ganjel rel dan air khataman Al -Quran yang disebarkan dari atas panggung.

Kue dengan rasa manis, penuh aroma rempah kayu manis itu punya makna yang indah. Artinya hati tidak boleh mengganjal atau harus rela, menerima dengan baik, sehingga pikiran jernih dan tenang saat memasuki bulan puasa. Sementara air khataman itu adalah air doa yang sudah dibacakan ayat ayat Quran.

Warga membeli mainan gerabah untuk anak-anak yang menjadi salah satu pasar rakyat khas saat tradisi Dugderan di Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang, Jawa Tengah, Kamis (31/3/2022). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Dari situ, warga berharap mendapat keberkahan sebelum masuk bulan Ramadan.

Dilacak dari sejarahnya, tradisi ini diperkenalkan di era kepemimpinan Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat sekitar tahun 1881. Tradisi itu dimulai dengan tabuhan bedug dan letusan bom udara ditetapkan sebagai penanda datangnya Ramadan.

Lambat laun, kegiatan itu menjadi tradisi yang dinamakan Dugderan, Dug yang berasal dari 'Dug' (tabuhan bedug) dan 'Der'(dentuman meriam).

Namun di era modern, tradisi Dugderan tak hanya diisi tabuhan bedug dan meriam, Dugderan menjadi ajang pesta rakyat. Setiap sore di sekitar Alon-alon Kauman kini berjejer tenda makanan, mainan, peralatan dapur hingga berbagai macam wahana permainan, meriah, seperti pasar malam.

Salah satu warga Semarang Selatan, Yuli (37) membawa serta istri dan anaknya untuk menyaksikan langsung prosesi Dudgeran. Baginya itu menjadi hiburan gratis yang sangat menarik.

"Soalnya meriah, karena banyak pertunjukan budaya. Tapi memang harus siap desak-desakan untuk melihat secara dekat," ujar Yuli.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut, Dugderan 2026 lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. Kegiatan kebudayaan itu tetap menjadi penanda umat Muslim dalam menyambut bulan Ramadan.

Warga melihat sejumlah replika hewan imajiner Warak Ngendog sebagai simbol akulturasi budaya China, Arab, dan Jawa di Kota Semarang yang dipajang di depan Masjid Agung Semarang saat tradisi Dugderan di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (31/3/2022). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

"Intinya Dugderan ini menjadi titik tolak mengantarkan teman-teman Muslim untuk mulai berbuka (puasa). Uniknya, semua Warak (hewan imajiner dalam budaya Jawa-China-Arab) hari ini wajib ngendog. Kalau tidak, bisa bertengkar dan tidak ada rezeki yang dibagi," ungkap Agustina.

Selain itu, ia merasa Dugderan tahun ini juga terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan Imlek dan masa puasa Paskah umat Kristen.

"Kalau suasana Kota Semarang sudah damai, wisatawan akan lebih banyak berkunjung dan investasi yang masuk juga akan lebih banyak," tegas Agustina.

Sekretaris Takmir Masjid Agung Semarang, Muhaimin, menjelaskan di masa lampau tradisi Dugderan menjadi pengumuman datangnya bulan Ramadhan. Sebab tidak ada televisi, media sosial atau radio.

"Karena waktu itu belum ada media sosial maupun televisi, cara paling mudah menyampaikan kabar adalah lewat suara. Setelah hasil suhuf halaqah disampaikan, bedug dan meriam dibunyikan agar warga mengetahui," kata Muhaimin.