Tradisi Jelang Idul Adha: Ketika Ketupat Tetap Jadi Pilihan
·waktu baca 2 menit

Aktivitas Jakarta pagi ini masih nampak seperti biasa. Deru suara kendaraan terdengar dari setiap sisi jalan. Di balik itu, juga terdengar suara tawar menawar dari bilik lapak di pinggir jalan, depan pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Seperti biasanya dari tahun ke tahun—menjelang Idul Adha—penjual ketupat menjamur. Pantauan kumparan, pukul 07.34 WIB, penjual ketupat di berbagai sisi pasar. Mereka berjejer dan menjajakan barang dagangannya, baik ketupat berisi isinya maupun kulitnya saja.
Harganya bervariasi, tergantung ukurannya. Ukuran kecil dibanderol Rp 3 ribu rupiah per satu ketupat. Lalu ukuran sedang Rp 4 ribu, dan ukuran besar Rp 5 ribu rupiah.
Salah satu penjual ketupat, Musolihah (35) mengaku penjualan ketupat lebih tinggi dibanding biasanya saat menjelang lebaran.
“Kalau biasanya kan bisa dihitung, paling ya 1.000 [ketupat] ada sih kalau hari biasa. Sekarang lebih dari 1.000,” ungkap Musolihah saat berbincang santai di lapak dagangannya.
Musoliha menjual pake ketupat berisi 10 buah yang diikat menjadi satu. Di momen lebaran ini, dia menyiapkan stok lebih banyak dari biasanya.
“Banyak [persediaannya]. Kan ini habis diantar lagi kalau masih ada stok dagangan di rumah. Direbus lagi, antar lagi. Gitu terus-terusan,” tuturnya.
Musolihah berjualan dari pukul 03.00 pagi dan direncanakan akan terus berjualan hingga persediaan habis, sekalipun hingga malam takbiran. Ia tidak sendirian, ada keluarga yang turut membantunya.
“Masih saudara yang dagang semua. Ibu, bibi, sama keponakan gitu. Kalau yang di sini ya. Memang dari dulu jualan ketupat sekeluarga,” kata Musolihah yang telah berjualan ketupat di Pasar Minggu selama 17 tahun.
Di sisi lain, para pembeli yang berlalu-lalang terlihat selalu membawa ketupat. Ada yang hanya menenteng beberapa ikat ketupat, hingga ada yang memborong ketupat menggunakan karung.
Salah satu pembeli, Bastari (57) terlihat membawa dua ikat ketupat. Baginya, membeli ketupat menjelang lebaran merupakan tradisi yang tak bisa dilewatkan.
“Ketupat ya pasti. Sudah tradisi ya,” jelasnya.
Selain itu, ia juga membeli persediaan lain. Ia berencana untuk memasak sayur godok dan semur telur dalam menyambut Idul Adha.
“Ya paling ya sayur lah ya. Sayur godok biasa, sama semur telur biasanya sih. Karena kan biasa itu sudah turun-temurun begitu sih dari dulu, dari nenek saya juga kalau Idul Adha ya,” ujarnya.
Bastari mengungkapkan harga untuk persediaan lebaran di Pasar Minggu lebih terjangkau. Oleh karena itu, setiap menjelang lebaran, ia selalu berbelanja di Pasar Minggu.
“Kalau mau lebaran saja, momen-momen tertentu saja ke Pasar Minggu. Kalau biasa dekat rumah,” tandasnya.
