Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Wilayah di Indonesia

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menghias perahu dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad. (Foto: ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki)
zoom-in-whitePerbesar
Warga menghias perahu dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad. (Foto: ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki)

Maulid Nabi Muhammad selalu diperingati oleh umat Islam setiap tahunnya. Dalam kalender Islam, peringatan ini dilaksanakan pada 12 Rabiul Awal, untuk tahun 2018 jatuh pada 20 November.

Perayaan Maulid Nabi di Indonesia sendiri sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun. Akan tetapi, setiap daerah memiliki perbedaan dalam merayakannya. Biasanya tergantung dari kondisi alam serta bagaimana Islam masuk di deerah tersebut. Meski begitu, perbedaan tradisi ini menjadi kekayaan budaya tersendiri.

Lalu, seperti apa potret tradisi Maulid Nabi di Indonesia? Berikut beberapa tradisi di beberapa wilayah:

Tradisi Meuripee di Aceh

Tradisi Meuripee di Aceh. (Foto: Facebook/Bang Kini Comedi)
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Meuripee di Aceh. (Foto: Facebook/Bang Kini Comedi)

Dimulai dari provinsi paling barat Indonesia, Aceh. Warga Banda Aceh merayakan Maulid Nabi Muhammad dengan cara patungan. Tradisi ini dikenal dengan Meuripee. Artinya, setiap warga menyumbang sesuai dengan kemampuan mereka untuk keperluan konsumsi di perayaan Maulid Nabi.

Biasanya, menu yang disajikan untuk perhelatan ini adalah daging sapi. Setiap warga berbagi tugas saat memasak. Lalu, mereka berkumpul di masjid untuk berdoa bersama. Setelah selesai barulah mereka menyantap makanan.

Berayun-ayun di Depan Masjid

Tradisi Berayun di Kalimantan. (Foto: Facebook/SouvenirBorneo)
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Berayun di Kalimantan. (Foto: Facebook/SouvenirBorneo)

Sementara itu, umat Islam di Kalimantan Selatan memiliki tradisi baayun (berayun) untuk menyemarakkan hari lahir Nabi Muhammad. Setiap warga, baik bayi maupun orang dewasa akan diayun di depan masjid. Tentu ayunan yang digunakan bukan ayunan biasa. Barang tersebut dihias menggunakan daun kelapa muda.

Selebrasi yang dilakukan warga mengadopsi budaya Banjar. Dilihat dari perspektif sejarah, sebelum Islam masuk ke Kalimantan, Suku Banjar menganut agama Hindu.

Ilustrasi masjid (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masjid (Foto: Pixabay)

Menghias Kapal dan Telur

Di lain sisi, warga di Takalar, Sulawesi Selatan, menghias perahu dengan selendang warna-warni untuk merayakan Hari Maulid Nabi. Warga lokal menyebut tradisi ini Maudu Lompoa atau artinya Maulid besar. Selain itu mereka juga menghias telur.

Mereka percaya ritual ini merupakan wujud kecintaan terhadap Nabi Muhammad yang sudah dilakukan sejak lama. Meriahnya tradisi ini menjadi ketertarikan bagi wisatawan.

Berebut Telur di Papua

Meski umat Islam di Papua kelompok minoritas, mereka tetap bisa merayakan Maulid Nabi. Salah satu tradisi mereka adalah menghias telur kemudian dipajang di tiang masjid. Lalu, mereka akan berebut mengambil telur tersebut.

Perayaan ini dianggap sebagai pemersatu umat. Selain itu, warga juga berharap mendapat berkah setelah melakukan ritual tersebut.

Tradisi di Bali

Mirip dengan umat Muslim di Papua, warga Bali juga merayakan Maulid Nabi menggunakan telur yang dihias. Bedanya, telur tersebut biasanya disimpan. Tradisi ini disebut dengan Sokok Basa.

Telur diserahkan kepada warga setelah acara zikir dan ceramah. Kemudian, warga akan menyantap makanan secara bersama.

Arak-arakan Benda Pusaka di Cirebon

Tradisi Panjang Jimat di Cirebon. (Foto: Twitter/@AnthropologyInd)
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Panjang Jimat di Cirebon. (Foto: Twitter/@AnthropologyInd)

Berbeda dengan daerah lain, umat Muslim Cirebon, Jawa Barat merayakan Maulid Nabi dengan cara mengarak benda-benda mistis atau pusaka kemudian dibawa ke masjid. Tradisi ini dikenal dengan Panjang Jimat, melestarikan pusaka.

Pusaka yang dimaksud adalah dua kalimat syahadat. Artinya, umat muslim diingatkan untuk selalu merawat ‘pusaka’ tersebut.