Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi, Bikin Bule Terpukau

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan

Suasana hangat terasa dalam gelaran Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Banyuwangi, Kamis malam (29/5). Di bawah temaram obor, ribuan warga duduk bersila berjejer di sepanjang jalan desa, menghadap ke arah tumpeng-tumpeng yang tertata rapi di atas tikar.

Tradisi tahunan ini digelar bukan hanya sakral bagi masyarakat Suku Using, tapi juga semakin menjadi magnet wisata budaya kelas dunia.

Digelar seminggu sebelum Idul Adha, Tumpeng Sewu merupakan bentuk syukur dan permohonan keselamatan masyarakat kepada Tuhan, yang telah diwariskan turun-temurun.

Tahun ini, ritual makin semarak dengan kehadiran wisatawan asing dari berbagai negara yang penasaran dengan kekayaan budaya di Bumi Blambangan.

Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan
Ayesha wisman asal Belanda dan Shandah wisman asal Italia mengikuti tradisi tumpeng sewu. Dok: kumparan

Jalan Ditutup

Jalan utama Desa Adat Kemiren ditutup sejak pukul 17.00 WIB. Ribuan tumpeng (nasi berbentuk kerucut) yang disuguhkan bersama lauk khas Using, yakni pecel pitik dan sayur lalapan disusun di sepanjang jalan yang telah digelari tikar.

Diketahui, pecel pitik sendiri merupakan sajian ayam kampung panggang yang diaduk dengan kelapa parut dan bumbu khas, menu yang tak boleh absen dalam ritual ini.

Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan

Usai magrib, warga dan pengunjung berkumpul bersama. Tak peduli dari mana asalnya, mereka larut dalam kebersamaan. Diiringi alunan musik khas dan cahaya obor yang menyala redup, ritual berjalan khidmat.

Tak hanya makan bersama, acara ini juga didahului dengan prosesi Ider Bumi, di mana barong cilik dan barong lancing diarak dari dua sisi desa dan bertemu di depan Balai Desa Kemiren.

Sebelumnya, warga juga menjalani ritual "mepe" kasur, yaitu tradisi menjemur kasur di depan rumah yang dipercaya sebagai bentuk selamatan tolak bala.

Tradisi "Mepe Kasur", ritual tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun, menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian bersih desa menyambut bulan haji, Kamis (29/5/2025). Foto: kumparan

Kehangatan warga Desa Kemiren tak hanya dirasakan oleh sesama penduduk, tapi juga oleh tamu dari seberang benua. Shandah, wisatawan asal Italia, mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat.

“Saya benar-benar terpukau. Rasanya seperti menjadi bagian dari keluarga besar,” ujar Shandah, sambil tersenyum haru.

Shandah wisman asal Italia dan Ayesha wisman asal Belanda. Foto: kumparan

Hal serupa juga dirasakan oleh Ayesha dari Belanda. Baginya, Tumpeng Sewu bukan hanya tontonan budaya, tetapi juga pengalaman emosional yang membuka mata akan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan.

“Kehangatan yang saya rasakan di sini sungguh luar biasa. Saya merasa sangat beruntung bisa menyelami budaya yang begitu kaya,” ungkap Ayesha.

Ketua Adat Desa Kemiren, Suhaimi, menuturkan bahwa Tumpeng Sewu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki dan keselamatan yang diberikan Tuhan.

“Ini bukan sekadar ritual. Ini cara kami berdoa, bersyukur, dan menjaga warisan leluhur tetap hidup,” katanya.

Suhaimi juga menyebut, kehadiran wisatawan mancanegara dalam perayaan ini menjadi bukti bahwa budaya lokal bisa menjadi jembatan persaudaraan global.

Kisah Warga

Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan

Jalan utama Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur berubah menjadi hamparan kebersamaan. Obor menyala di kanan-kiri jalan, barong melintas diiringi gamelan khas Suku Using, dan ribuan orang duduk bersila menikmati sajian budaya yang sudah turun-temurun, yakni Tumpeng Sewu.

Tradisi ini bukan hanya dirayakan untuk menjamu tamu, tapi bagi warga seperti Mastuki (51), Tumpeng Sewu yang berarti seribu tumpeng adalah momen sakral yang sarat makna.

“Ini bukan sekadar makan bersama. Ini cara kami menyambut kerabat, berbagi rezeki, dan menjaga warisan leluhur tetap hidup,” ujarnya saat ditemui di sela perayaan, Kamis malam (29/5).

Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan

Tumpeng-tumpeng disusun rapi di atas tikar, dilengkapi lauk khas seperti pecel pitik, lalapan, dan sambal. Menu wajib ini adalah ayam kampung panggang yang dibalur kelapa parut berbumbu rempah.

“Biasanya satu keluarga bisa bikin lebih dari satu tumpeng. Bisa tiga, empat, bahkan lima. Kami undang keluarga dari luar desa, jadi semua harus kebagian,” jelas Mastuki.

Tradisi dimulai selepas Magrib dengan kirab Barong Kemiren. Dua barong dari arah berlawanan berjalan pelan menuju Balai Desa Kemiren yang merupakan pusat perayaan. Sepanjang jalan, para pemuda desa membakar obor satu per satu, menciptakan suasana magis di tengah malam yang mulai gelap.

Pertunjukan berakhir dengan ditutup doa bersama yang dipimpin sesepuh desa. Suasana hening berganti dengan obrolan hangat, dan tawa saat warga mulai menyantap tumpeng masing-masing.

Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan
Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi. Foto: kumparan

Ketua Adat Kemiren, Suhaimi, menegaskan bahwa Tumpeng Sewu bukan hanya acara seremonial tahunan. “Ini bentuk syukur kami kepada Tuhan. Ada juga tradisi mepe kasur pagi harinya dan mocoan Lontar Yusup di malam harinya. Semua rangkaian ini saling berkaitan,” ujarnya.

Mepe kasur yakni menjemur kasur di depan rumah yang diyakini sebagai tolak bala, agar rumah terbebas dari energi negatif. Sementara mocoan Lontar Yusup dilakukan semalam suntuk, membaca naskah kuno berisi kisah Nabi Yusuf yang sarat nilai-nilai spiritual.

Meski ritual ini berakar dari Desa Kemiren, pesonanya menarik perhatian wisatawan mancanegara. Banyak turis hadir, menyatu dengan warga lokal, merasakan langsung kehangatan budaya Suku Using.

Namun bagi warga setempat, yang paling membahagiakan bukanlah banyaknya kamera yang merekam, melainkan wajah-wajah bahagia para tamu yang ikut menikmati tumpeng yang mereka sajikan dengan sepenuh hati.

Ketua Adat Kemiren, Suhaimi. Dok: kumparan