Trend Asia: Ada Dugaan Arisan Pemenang Tender Pengadaan Gas Air Mata di Polri

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polisi menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa saat terjadi bentrok di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (8/10). Foto: Abriawan Abhe/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Polisi menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa saat terjadi bentrok di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (8/10). Foto: Abriawan Abhe/ANTARA FOTO

Sejumlah tender pengadaan gas air mata di Polri diduga bermasalah. Trend Asia yang bekerja sama dengan Indonesia Corruption Watch (ICW) mengungkapkan temuan terkait hal tersebut.

Peneliti Trend Asia, Zakki Amali, mengatakan timnya menemukan dua perusahaan yang diduga 'arisan' tender pengadaan gas air mata tersebut. Dua perusahaan itu adalah PT WSP dan PT DSGP.

Temuan tersebut didapatkan usai menelusuri keterlibatan dua perusahaan itu dalam sejumlah paket pengadaan di Polri sejak 2015 hingga 2018.

Dalam penelusuran tersebut, setidaknya ada enam paket tender yang menjadi 'arisan' dua perusahaan itu. Paket tersebut yakni:

ICW paparkan data terkait adanya dugaan arisan pengadaan gas air mata. Foto: Youtube/ICW
  • Pengadaan amunisi 37/38 mm automatic infinite revolver anti-riot gas gun tahun 2015;

  • Senjata api portable multi launcher 15 shells dan senjata 37/38 mm automatic infinite revolver anti-riot gas gun tahun 2016;

  • Senjata portable multi launcher dan automatic infinite revolver anti riot gas gun tahun 2017;

  • Pengadaan amunisi 37/38 mm automatic infinite revolver anti riot gaun program APBN TA 2017;

  • Amunisi gas air mata kaliber 37/38 mm tahun 2017; dan

  • Pengadaan portable multi launcher & automatic revolver anti gas gun tahun 2018.

Dalam temuannya, Zakki mengungkapkan bahwa nilai penawaran dari dua perusahaan itu hanya memiliki selisih yang tipis. Keduanya saling bergantian memenangkan tender.

"Dalam konteks ini memang mereka ini mengajukan harga yang kalau kita lihat di sini enggak jauh-jauh amat ya, rata-rata antara Rp 30 jutaan sampai Rp 100 juta, dan itu margin tender yang sangat tipis sekali," kata Zakki dalam konferensi pers di kanal YouTube ICW, Minggu (9/7).

"Sehingga memang penyelenggara tender memilih perusahaan yang mengajukan tender lebih murah meskipun di sini, perbedaan sangat sedikit," sambung dia.

Contohnya, untuk tender pengadaan amunisi 37/38 mm automatic infinite revolver antiriot gas gun program APBN-P TA 2015, PT WSP mengajukan harga Rp 27.798.956.100. Sementara PT DSGP Rp 27.837.902.800. Selisihnya sangat tipis, dan tender dimenangkan oleh PT WSP.

Kemudian contoh lainnya dalam pengadaan senjata portable multi launcher dan automatic infinite revolver anti riot gas gun, PT WSP mengajukan angka Rp 71.931.065.000. Sementara PT DSGP sebesar Rp 71.796.350.000. Perbedaannya kembali tipis dan kali ini dimenangkan oleh PT DSGP.

"Kita lihat bahwa yang menang dan kalah itu seolah bergantian. Sehingga memang ini menjadi suatu pola, suatu pattern pengadaan ini menunjukkan dugaan terjadinya persaingan usaha semu atau arisan," kata dia.

"Ini kuat sekali aromanya terjadinya persekongkolan secara horizontal," sambungnya.

Massa berlari di tengah kepulan gas air mata, saat ricuh di aksi demo tolak Omnibus Law, di Jakarta, Selasa (13/10). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Barang Lelang Diproduksi PT Pindad

Temuan lainnya, kata Zakki, ternyata barang-barang yang dilelang oleh Polri ini disediakan oleh perusahaan BUMN PT Pindad. Menariknya, PT Pindad justru hanya menang sekali lelang saja dibandingkan dengan PT WSP dan PT DSGP.

"Ini menunjukkan bahwa sebetulnya ketika barang itu sudah ada ini baiknya dilakukan kerja sama dengan produsen tersebut, dibandingkan melakukan tender. Karena ini akan memunculkan tadi, upaya-upaya terjadinya tender 'semu' ya," kata Zakki.

Zakki menegaskan, PT DGSP dan PT WSP saling bersaing dalam sejumlah enam paket pengadaan. Seluruh pengadaannya dimenangkan oleh masing-masing perusahaan. Baik itu PT GDSP atau PT WSP. Hal ini mengindikasikan adanya potensi arisan dalam pengadaan gas air mata sehingga telah diatur sejak dalam proses perencanaan.

"Tender yang dilakukan oleh kepolisian tidak diperlukan karena tidak efektif dan efisien sehingga berpotensi terjadinya pemborosan. Kepolisian dapat langsung menunjuk PT Pindad selaku produsen amunisi gas air mata sehingga harganya dapat jauh lebih murah," kata dia.

"Hal ini patut diduga untuk memberikan keuntungan bagi perusahaan pemenang," sambungnya.

Dugaan Perusahaan Boneka

Warga binaan menunjukkan karya kerajinan boneka kayu di Lapas Kelas 2B Indramayu, Jawa Barat, Senin (21/2/2022). Foto: Dedhez Anggara/ANTARA FOTO

Zakki juga mengungkapkan dugaan adanya perusahaan boneka yang ikut tender. Terlepas dari 'arisan' tender, perusahaan ini ditemukan karena profilnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Perusahaan tersebut adalah PT MBS dengan seorang direksi bernama MUL.

Perusahaan itu memenangkan pengadaan gas air mata dalam optimalisasi tahun 2019. Anggarannya mencapai Rp 3 miliar. Berdasarkan akta perusahaan itu, MUL tercatat berusia 37 tahun.

Di akta perusahaan, disebutkan bahwa MUL memiliki saham sebesar Rp 240 juta. Menariknya, kata Zakki, nama direksi itu tercatat sebagai penerima bantuan sosial dari Kemensos.

Setelah ditelusuri alamat MUL secara daring, ditemukan alamat itu mengarah pada sebuah bangunan pos ronda. Lokasinya berada di Kampung Gaga, Jakarta Barat.

"Apabila ditelusuri secara mendalam, alamat MUL patut diduga tidak sesuai dengan profil kekayaannya," pungkas Zakki.

Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari Polri.