Trump Ancam Usir Dua Anggota DPR Muslim Omar dan Tlaib

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perwakilan AS Ilhan Omar, Demokrat dari Minnesota, dan Rashida Tlaib, Demokrat dari Michigan, memperhatikan saat Presiden Donald Trump menyampaikan pidato Kenegaraan di Ruang Sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, DC, (24/2/2026). Foto: Mandel Ngan/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Perwakilan AS Ilhan Omar, Demokrat dari Minnesota, dan Rashida Tlaib, Demokrat dari Michigan, memperhatikan saat Presiden Donald Trump menyampaikan pidato Kenegaraan di Ruang Sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, DC, (24/2/2026). Foto: Mandel Ngan/AFP

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengusir dua anggota DPR, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib. Keduanya merupakan pemeluk Muslim dan kader Partai Demokrat.

Ancaman Trump terkait aksi protes yang disampaikan keduanya saat ia tengah menyampaikan pidato kenegaraan, Selasa (24/2) waktu setempat.

Saat pidato berlangsung, Tlaib dan Omar mengecam keras kebijakan imigrasi Trump yang dinilai kontroversial.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan di Gedung Capitol AS di Washington DC. Foto: Nathan Howard/REUTERS

Mereka bahkan meneriaki Trump sebagai “pembunuh rakyat AS”. Omar juga menyebut Trump sebagai pembohong.

Lewat unggahan di media sosial Truth Social, Trump menuding keduanya menderita gangguan mental.

"Mereka memiliki mata melotot dan merah seperti orang gila, yang secara mental terganggu dan sakit jiwa, yang terus terang terlihat seperti seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa,” ujar Trump seperti dikutip dari Reuters.

"Kita harus mengirim mereka kembali ke tempat asal mereka, secepat mungkin," tambah Trump.

Baik Omar maupun Tlaib adalah warga negara AS, masing-masing keturunan Somalia dan Pakistan. Tlaib kemudian menyebut komentar Trump menunjukkan bahwa Presiden AS dari Republik itu sudah kehilangan kendali.

Serangan verbal Trump direspons keras oleh Pemimpin Minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries. Ia menegaskan tindakan Trump sebagai sikap xenofobik dan sebuah aib.