Trump Bahas Ambil Alih Greenland di WEF, Tegaskan Tak Pakai Kekuatan Militer

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden AS Donald Trump berbicara selama World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/2026). Foto: Denis Balibouse/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump berbicara selama World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/2026). Foto: Denis Balibouse/REUTERS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengutarakan niatnya untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom Denmark, dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang digelar di Davos, Swiss, Rabu (21/1). Menurut Trump aneksasi Greenland oleh AS tidak hanya menguntungkan negaranya tapi juga Eropa.

“Hanya Amerika Serikat yang dapat melindungi daratan raksasa ini, bongkahan es raksasa ini, mengembangkannya, memperbaikinya, dan menjadikannya baik untuk Eropa, aman untuk Eropa, dan baik untuk kita,” kata Trump dikutip dari CNN.

“Dan itulah alasan saya meminta negosiasi segera untuk sekali lagi membahas akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat, seperti yang telah kita peroleh di banyak wilayah lain sepanjang sejarah kita, seperti yang telah dilakukan oleh banyak negara Eropa," tambahnya.

Keputusan untuk melepas Greenland ke AS, menurut Trump, juga akan meningkatkan keamanan bagi negara-negara aliansi NATO.

“Ini tidak akan menjadi ancaman bagi NATO. Ini akan sangat meningkatkan keamanan seluruh aliansi, aliansi NATO,” katanya.

Trump menilai hanya Amerika yang dapat mengamankan Greenland. Sebab negaranya memiliki kekuatan yang besar.

“Setiap sekutu NATO memiliki kewajiban untuk dapat mempertahankan wilayah mereka sendiri,” katanya.

“Kami adalah kekuatan besar, jauh lebih besar daripada yang dipahami orang," tambahnya.

Singgung Perang Dunia Kedua

Presiden AS Donald Trump berbicara selama World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/2026). Foto: Jonathan Ernst/REUTERS

Lebih lanjut Trump menyinggung situasi saat Perang Dunia II. Di hadapan para pemimpin negara, ia bilang saat itu Denmark tidak mampu melindungi negaranya sendiri.

“Denmark jatuh ke tangan Jerman hanya setelah enam jam pertempuran, dan sama sekali tidak mampu mempertahankan diri maupun Greenland. Jadi Amerika Serikat kemudian terpaksa melakukannya, dan kami melakukannya,” katanya.

Maka itu Trump menilai Denmark negara yang tidak tahu terima. Ia pun menyesali keputusan AS saat itu yang mengizinkan Denmark mempertahankan Greenland sebagai wilayahnya.

“Betapa bodohnya kita melakukan itu?” katanya.

“Tapi kita melakukannya, tapi kita mengembalikannya. Tapi betapa tidak berterima kasihnya mereka sekarang?” ujarnya.

Pastikan Tidak Pakai Kekuatan

Foto yang diambil dari sosial media Truth menunjukkan Presiden AS Donald Trump mengibarkan bendera di tanah Greenland. Foto: Truth/ Donald Trump

Meski sangat ingin memiliki Greenland, Trump memastikan AS tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland. Meskipun ia yakin akan berhasil bila militer AS turun tangan.

“Tapi saya tidak akan melakukan itu. Oke. Sekarang semua orang berkata, oh, bagus,” ujarnya.

“Itu mungkin pernyataan terbesar yang saya buat, karena orang-orang mengira saya akan menggunakan kekerasan. Saya tidak perlu menggunakan kekerasan. Saya tidak ingin menggunakan kekerasan. Saya tidak akan menggunakan kekerasan,” kata Trump.

“Yang diminta Amerika Serikat hanyalah sebuah tempat bernama Greenland,”

-Presiden AS Donald Trump

Kemudian, Trump menegaskan kembali bahwa ia membayangkan kepemilikan penuh AS atas Greenland, bukan kesepakatan yang ditingkatkan.

“Yang kami minta hanyalah mendapatkan Greenland, termasuk hak kepemilikan dan hak milik, karena Anda membutuhkan kepemilikan untuk mempertahankannya,” katanya.

“Anda tidak dapat mempertahankannya dengan sistem sewa," pungkas Trump.